Awal Hanyalah Awalan, tapi Akhir adalah Makna

Bagaimana kisah ini berawal?, mari kita ikuti selengkapnya….

Sore itu, aku sedang berjalan-jalan keliling kuburan. Tak sengaja kupergoki ada seorang kapiten di tempat pembuangan akhir sampah (TPA). Ia nampaknya sedang sibuk mengorek-orek gunungan sampah dengan sebatang besi bermata tajam di genggamannya. Hal itu terlihat aneh bagiku, sebab ia adalah seorang kapiten yang mempunyai pedang panjang, tetapi kenapa mainnya di TPA?…kurasa ia sedang mencari sesuatu entah apa itu, yang pasti aku tidak tahu. Untuk mengetahui hal apa yang sedang diperbuatnya, langsung saja aku dekati dirinya dengan perasaan campur aduk. Tanpa pikir panjang, kutepuk pundaknya yang besar dan keras itu. Tiba-tiba ia terhentak kaget dan segera membalikkan badannya ke hadapanku. Tak kusangka tak kuduga….aku terkejut!!!..rupa-rupanya ia memamerkan giginya yang sedikit panjang dan maju lima sentimeter. Akupun takut dan bergerak mundur perlahan tapi pasti. Saat aku hendak lari, tiba-tiba ia mengatakan sesuatu… “ada afa mas?, ada yang wisa saya wantu?”, katanya…aku pun terheran-heran, ternyata dia tidak bisa mengucapkan huruf ‘b’ dan ‘p’. aku terdiam sejenak dan mulai kuutarakan maksud kedatanganku menghampirinya. Kutanyakan padanya apa yang sebenarnya dia cari di gunungan sampah itu?, dia kan seorang kapiten, tapi kenapa bisa ada di situ sendirian seorang diri, tiada yang menemani…. Kemudian ia pun mulai bercerita bahwa sebenarnya yang ia cari adalah harga diri. Tapi tunggu dulu……. Apa maksudnya ia mencari harga diri di gunungan sampah yang sungguh sangat amat tidak berperi kemanusiaan sekali itu?, ia kemudian menceritakan sesuatu hal kepada saya. Bahwa ia merasa kalau harga dirinya telah diinjak-injak dan dibuang kedalam sampah!, kenapa hal itu bisa terjadi?, ia mengungkapkan bahwa dirinya terlalu mudah dipengaruhi oleh suara-suara yang menyesatkannya. Ia mudah diajak untuk berfoya-foya, bermaksiat, dan bermalas-malasan. Bahkan ia pun tak tahu sebenarnya apa yang telah ia lakukan selama ini?, yang ia tahu hanyalah menyambung nyawa. Aku pun tercengang mendengar ceritanya. Ternyata ia adalah seorang kapiten yang telah kehilangan harga dirinya. Sungguh malang nian nasibnya. Setelah ia bercerta panjang lebar kepadaku, ia pun langsung berlalu meninggalkanku tanpa banyak cakap. Tetapi ia hanya berpesan kepadaku bahwa aku harus menentukan jalan hidupku sendiri, jangan mudah bergantung kepada orang lain, dan jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang mungkin kelihatannya sepele, tetapi itu akan membuat hidup kita hancur di masa yang akan datang. Setelah kutelusuri, ternyata makna dari itu semua adalah bahwa kita hidup di dunia ini janganlah merasa seperti orang yang bisa melakukan segalanya. Temukan diri kita sendiri, jangan pernah meniru apa yang jadi cirri khas orang lain. Sebab itu akan manghancurkan diri kita sendiri nantinya. Dan jangan mudah menerima sesuatu hal yang baru yang kita belum tahu bagaimanakah hal tersebut, apakah baik atau buruk. Yah….begitulah kisahku di suatu sore. Banyak pelajaran yang dapat kita renungkan. Semoga ini dapat menginspirasi saudara-saudara sekalian. Amiiin…

Djokjakarta, 11 April 2012
ttd.
Pak Mungkas

No comments:

Powered by Blogger.