Popular Post

28 May 2012

“Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera”. (diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi)


Hingga saat ini ketika kita berbicara tentang sebuah gugusan pulau yang sebenarnya merupakan satu gugus gunung berapi berdapur magma satu ditengah lautan selat sunda, pikiran kita selalu tertuju pada letusan maha dahsyat tahun 1883. Dimana efeknya terasa hampir di duapertiga wilayah seluruh dunia. Tapi sesungguhnya, Krakatau pernah meletus bahkan jauh lebih dahsyat dari letusan tahun 1883.

Letusan ditahun 1883, tepatnya, puncak aktivitas erupsi Gunung Krakatau terjadi tanggal 27-28 Agustus 1883 pukul 10.20 pagi sendiri adalah letusan Gunung berapi terbesar nomor lima didalam sejarah dihitung dari jumlah material yang dikeluarkan. Dimana urutannya berturut-turut adalah: gunung Toba, gunung Tambora, gunung Taupo (Selandia Baru), gunung Katmai (Alaska). Tetapi, semua letusan itu terjadi jauh sebelum letusan Krakatau, dengan akibat langsung pada manusia yang lebih kecil. Ketika Krakatau meletus, keadaan dunia benar-benar berbeda. Teknologi komunikasi abad 19 saat itu misalnya; kemajuan telegrafi, pemasangan kabel telegram bawah laut, penemuan telepon, banyaknya agen-agen kantor berita baru, cikal bakal kamera film, dan sudah banyak teori yang telah ada dan digunakan sebagai dasar penelitian ilmiah satu kejadian baru. Tetapi kemajuan-kemajuan teknologi ini juga yang memunculkan kegelisahan-kegelisahan baru.

gunung ditengah laut yang berpuncak runcing

Pada masa awal kedatangan Belanda di Indonesia abad 16, selat Sunda adalah salah satu pusat lalu lintas kapal dagang yang padat seperti kebanyakan laut strategis lain di Indonesia. Dalam catatan perjalanan pelaut-pelaut Eropa, Krakatau sering disebut “Pulau dengan gunung yang berpuncak runcing dan sesekali mengeluarkan banyak asap”. Memang sebelum meletus tahun 1883, Krakatau merupakan satu pulau utuh yang nyaris bulat dan memuncak dibagian tengahnya dan runcing, dengan beberapa pulau disekililingnya. Dalam catatan kolonial Belanda, Krakatau pernah sekali meletus pada bulan Mei 1680, tetapi tidak banyak data yang ada selain waktu meletus tersebut. Ketinggian Krakatau sebelum 1883 adalah 2000 meter dpal.

KEJANG-SEKARAT-SAKARATUL Krakatau di musim kemarau tahun 1883 itu berlangsung selama 20 jam 56 menit. Sebelum mencapai puncaknya dengan ledakan maha dahsyat pada pukul 10.20 pagi, Senin 27 Agustus 1883. Hitung mundur berakhirnya eksistensi gunung Krakatau sendiri dimulai sejak pukul 13.05 sehari sebelumnya, ketika gelagat tidak menyenangkan Krakatau mulai muncul berupa gelegar suara benturan material dimulut Krakatau yang siap dimuntahkan  20 jam selanjutnya.

hampir semua penduduk sekitar pantai sedang menyelesaikan ritual hari minggu sore mereka; menyelesaikan makan siang, meneguk tetes kopi terakhir, mengambil cerutu, dan berjalan santai menuju arah pantai menunggu datangnya senja di hari Minggu, sebelum gempa dan suara gelegar menggetarkan Minggu sore itu”.
Mr. Schuit (kepala kantor telegraf daerah Anyer waktu itu)

Sebuah kapal barang yang digunakan untuk mengangkut para kuli China dan sebagian warga Belanda bernama Loudon, berangkat dari Anyer tepat sebelum gelegar pertama terdengar. Sekitar pukul 15.00 sore. Kapal ini menjadi saksi terdekat letusan Krakatau. Sore sampai keesokan paginya, awak kapal tidak berhenti bekerja membuang abu dan batu yang menghujani dek kapal. Kapten kapal Loudon, Lindeman dihadiahi salib emas oleh kerajaan Belanda karena sudah membuat keputusan untuk memutar haluan kapal ketika hapir sampai Lampung sesaat sesudah puncak letusan Krakatau pada pukul 10.20 dan kembali ketengah selat Sunda. Dan menyelamatkan semua orang yang terangkut kapal Loudon diatas gelombang Tsunami yang mencapai garis pantai dengan ketinggian sama dengan tinggi rumah sepuluh tingkat (sekitar 30 meter).

Berikut kronologi 20 jam 56 menit hitung mundur sebelum puncak letusan Krakatau:

1. Dari Minggu siang sampai sekitar pukul 19.00 tejadi serentetan ledakan dan letupan yang semakin meningkat frekuensinya. Mulai pukul 20.00, air menjadi perantara transmisi energi vulkanik, selat Sunda semakin tidak terkendali.
2. Persis sebelum tengah malam, serangkaian gelombang udara, getaran-getaran rendah yang tidak terasa mulai mencapai Batavia. Bola waktu pada jam astroogi di Batavia mati 18 detik sesudah pukul 23.32 akibat gelombang tiada henti tersebut. Kaca-kaca lampu jalan dan jendela juga pecah.
3. Sekitar pukul 04.00 sifat ledakan-ledakan itu sedikit berubah, menjdai kurang kontinu tapi lebih eksplosif. Pukul 04.56 sebuah gelombang udara terdeteksi sangat kuat di sebuah pabrik gas Batavia, jika waktu perjalanan 90 mil ke Karakatau dihitung, ini menandakan bahwa sesuatu yang lain baru saja terjadi jauh didalam jantung Krakatau. Dan ledakan puncaknya, tanpa seorang-pun yang tau, akan segera terjadi.
4. Empat ledakan besar berturut-turut terjadi pada 05.30 yang menghancurkan Kota Ketimbang, Sumatera Selatan. Yang kedua pukul 06.44 dimana hujan abu mulai sampai  Batavia. Yang ketiga pukul 08.20 juga terasa di Batavia karena banyak bangunan yang bergerak seperti terkena gempa. Finalnya, yang keempat ledakkan yang paling membahana terjadi pukul 10.20

Kapal Loudon dan Marie yang berlayar secara berdekatan melaporkan tiga gelombang besar menyerupai Tsunami datang berturut-turut, suara ledakan mengerikan terdengar satu kali, langit membara, lembab, terjadi hujan batu apung, barometer udara naik turun setengah inci dalam satu menit. Di Batavia tetap gelap, suhu mulai anjlok sampai 15 derajat Fahrenheit. Ledakan seperti meriam terdengar di Teluk Betung, Lampung. Sebuah gelombang raksasa kemudian meninggalkan Krakatau bersamaan dengan ledakan terbesar yang pernah dicatat oleh semua instrumen diseluruh dunia waktu itu. Lontaran material mencapai ketinggian 24 mil.

Banyaknya material yang dimuntahkan mulut Krakatau dan rapuhnya dinding-dinding kaldera yang ditinggalkannya membuat semua yang pernah bernama KRAKATAU runtuh, jatuh kedasar laut selat Sunda dan menyebabkan Tsunami setinggi 30 meter di sepanjang pantai barat Jawa dan selatan Sumatera dan memakan korban sekitar 36.417 jiwa.

Dengan 18 km kubik material yang telah terlontar dan diubah menjadi batu apung dan partikel debu. Pulau dan gunung Krakatau secara resmi telah hilang. Dan episode keganasan Krakatau ketika marah telah ditutup untuk selanjutnya digantikan anaknya yang terus tumbuh.

Efek global:
Abu dari ledakan Krakatau sampai ke New York, London, Bombay, Brisbane, Boston, dan kota-kota besar lain diseluruh dunia melalui Udara dan Lautan. Menyebabkan penurunan suhu di seluruh dunia selama setahun. Material yang terlontar ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India,Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan semenanjung Arab yang berjarak 7.000 km. Suara ledakan terdengar berturut-turut sampai di Karibia, pulau Rodriguez di Mauritania, San Fransisco, serta kota-kota di Eropa dan Asia.

Gelombang dan suara ledakan tersebut memang menyebar ke hampir duapertiga seluruh penjuru dunia. Tetapi, penduduk disekitar Krakatau, yaitu Jawa Barat,  Buitenzorg (Bogor), dan Batavia tidak terlalu mendengar suara dahsyat tersebut. Orang-orang hanya merasa tuli dan telinganya berdengung tanpa alasan yang jelas saat itu, tekanan udara meningkat dan berubah-ubah secara liar seakan-akan tengah terjadi hipertensi atmosferik yang bisu dan sunyi, juga gelap. Dalam ledakan ini, 13 % dari permukaan bumi bergetar dan sangat bisa dirasakan.

Di berbagai belahan bumi lain, orang-orang mendengar suara ledakan dan dengungan yang tidak berhenti hari itu. Tanpa tahu suara apa yang sebenarnya mereka dengar dan getaran apa yang dirasakannya, saat itu mereka mengira kiamat sedang dimulai.

lukisan Edvard Munch (1863–1944) tahun 1893 berjudul The Scream, dibuat di Norwegia dan pertama dipublikasikan di Amerika Serikat awal abad 20


Krakatau Purba, yang lebih agung..

Sebenarnya Krakatau pernah meletus lebih dahsyat dibanding letusan 1883. Pada tahun 535 masehi.
Ronngowarsito pernah menulis dalam Pustaka Raja Purwa tahun 1869:

“Sebuah bunyi yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara, yang dijawab suara serupa dari gunung Kapi disebelah barat Jawa. Sebuah api besar menggelora mencapai langit yang keluar dari gunung Kapi. Goncangan Bumi yang menakutkanterjadi. Kegelapan total saat petir dan kilat bersahut-sahutan. Lalu datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Akhirnya gunung Kapu meledak berkeping-keping dan tenggelam kebagian terdasar bumi. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula dan kebarat sampai gunung Rajabasa. Ketika air menenggelamkannya, pulau tunggal itu terpecah menjadi dua bagian, menciptakan pulau Jawa dan Sumatra. Kota Samaskuta, yang ada di pedalaman Sumatera berubah jadi lautan, airnya sangat jernih, dan setelah itu dsebut danau Sinkara”.

Di tempat lain, seorang bishop Siria, John dari Efesus, menulis sebuah kronik di antara tahun 535 - 536 Masehi.
”Ada tanda-tanda dari Matahari, tanda-tanda yang belum pernah dilihat atau dilaporkan sebelumnya. Matahari menjadi gelap, dan kegelapannya berlangsung sampai 18 bulan. Setiap harinya hanya terlihat selama empat jam, itu pun samar-samar. Setiap orang mengatakan bahwa Matahari tak akan pernah mendapatkan terangnya lagi” . Dokumen di Dinasti Cina mencatat : “suara guntur yang sangat keras terdengar ribuan mil jauhnya ke baratdaya Cina”.

Itu catatan-catatan dokumen sejarah yang bisa benar atau diragukan. Tetapi, penelitian selanjutnya menemukan banyak jejak-jejak ion belerang yang berasal dari asam belerang volkanik di temukan di contoh-contoh batuan inti (core) di lapisan es Antarktika dan Greenland, ketika ditera umurnya : 535-540 Masehi. Jejak belerang vulkanik tersebar ke kedua belahan Bumi : selatan dan utara. Dari mana lagi kalau bukan berasal dari sebuah gunungapi di wilayah Equator ? semua data menunjuk ke satu titik di Selat Sunda : adalah letusan KRAKATAU PURBA penyebab semua itu.

Letusan KRAKATAU PURBA begitu dahsyat, sehingga dituduh sebagai penyebab semua abad kegelapan di dunia. Penyakit sampar Bubonic (Bubonic plague) terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan telah mengurangi jumlah penduduk di seluruh dunia.


Kota-kota super dunia segera berakhir, abad kejayaan Persia purba berakhir, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium terjadi, peradaban South Arabian selesai, berakhirnya rival Katolik terbesar (Arian Crhistianity), runtuhnya peradaban2 purba di Dunia baru - berakhirnya negara metropolis Teotihuacan, punahnya kota besar Maya Tikal, dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Kata Keys (1999), semua peristiwa abad kegelapan dunia ini terjadi karena bencana alam yang mahabesar, yang sangat mengurangi cahaya dan panas Matahari selama 18 bulan, menyebabkan iklim global mendingin.

K. Wohletz, seorang ahli volkanologi di Los Alamos National Laboratory, mendukung penelitian David Keys, melalui serangkaian simulasi erupsi KRAKATAU PURBA yang terjadi pada abad keenam Masehi tersebut. Artikelnya (Wohletz, 2000 : Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Changes in the Sixth Century ? - If So, Was Krakatau Volcano the Culprit ? EOS Trans American Geophys Union 48/81, F1305) menunjukkan simulasi betapa dahsyatnya erupsi ini. Inilah beberapa petikannya. Erupsi sebesar itu telah melontarkan 200 km kubik magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang 18 km kubik), membuat kawah 40-60 km, letusan hebat terjadi selama 34 jam, tetapi terus terjadi selama 10 hari dengan mass discharge 1 miliar kg/detik. Eruption plume telah membentuk perisai di atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur 5-10 derajat selama 10-20 tahun.



Anak  Krakatau, akankah menjadi penerus Krakatau?

Dalam Pustaka Raja Purwa dan serat Ronggowarsito, Krakatau purba yang ledakannya dapat membelah pulau Jawa dan Sumatra menjadi dua. Digambarkan bahwa gunung itu mempunyai tinggi sekitar 2000 meter dan lebar kelilingnya 11 km. Adapun, data pada masa kolonial juga mencatat bahwa tinggi Krakatau sebelum meletus 1883 juga 2000 meter dpal. Disini ada kemiripan ketinggian dan mungkin juga usia Krakatau. Mungkinkah ini sebuah siklus?..

Setelah Krakatau meletus 1883, dilaporkan telah tumbuh sebuah kaldera baru yang sekarang diberi nama “Anak Krakatau”. Kemunculan Anak Krakatau dilaporkan pertama kali pada minggu terakhir Juni 1927. Mula-mula hanya setinggi gelombang laut. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki.

Catatan lain menyebutkan pertumbuhan tingginya sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun dapat mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai tinggi sekitar 813 meter dari permukaan laut.

anak Krakatau setelah pertama kali ditemukan, foto diambil  12-13 Mei 1929

Anak Krakatau 2011

Saat ini ketinggian Anak Krakatau adalah 813 meter dpal. Jika dhitung lebih lanjut dan jika kita mengasumsikan kalau Anak Krakatau akan kembali meledak saat dia sudah sebesar dan setinggi orang tuanya, yaitu sekitar 2000 meter dpal. Diperlukan waktu kurang lebih 240 tahun lagi. Sekitar tahun 2350. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan Anak Krakatau akan terjadi antara 2015-2083.

Tahun berapapun akan menghancurkan dirinya lagi, yang pasti Krakatau memang terlahir dan dilahirkan untuk merestorasi “dunia”.-

artikel oleh : Wisnu Putra Danarto
Pendidikan Geografi 2011


sumber:
KRAKATAU, Ketika Dunia Meledak (Simon Winchester)

4 Responses so far.

  1. momonway says:

    ayukk travelling ke krakatau,, hi hi hi

  2. ayuh mbak n mas, jangan nunggu krakatu meletus dulu.. :)

  3. yuh mbak mona dan temen2 sklian mampir krumah ebi naik gajah jg ntar :D gratis deh. ongkos brngkt sndri ya kita backpakeran. gimana? :)

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -