Popular Post

10 Jun 2012


Kondisi sungai-sungai di Kota Yogyakarta kian memburuk seiring pertambahan populasi manusia yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Adapun sungai besar yang melewati Kota Yogyakarta yaitu Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gadjahwong. Kondisi ketiga sungai tersebut telah mengalami pencemaran diakibatkan aktivitas manusia yang hidup di sekitar sungai dan cenderung merusak ekosistem sungai.

Saat ini kondisi sungai-sungai di Kota Yogyakarta dapat dilihat dari warna air sungai yang keruh, banyaknya buangan sampah-sampah plastik, dan tidak jarang menimbulkan bau yang tidak sedap dan mengganggu. Kondisi tersebut merupakan hasil dari ulah manusia yang tidak bertanggungjawab. Sangat disayangkan, kondisi ini akan terus memburuk jika tidak ada upaya untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi pencemaran oleh manusia itu sendiri, terutama bagi yang tinggal di sekitar sungai tersebut.

Masalah yang dihadapi yaitu semakin sempitnya lahan untuk permukiman di daerah Kota Yogyakarta yang menyebab terjadinya alih fungsi lahan. Bantaran sungai yang merupakan kawasan konservasi yang harus dilindungi dan hijau berubah menjadi lingkungan permukiman penduduk. Dalam Perundangan (UU Pengairan dan UU Kehutanan) disebutkan bahwa di kawasan kanan-kiri sungai sejauh 50 meter adalah kawasan lindung yang tidak boleh diganggu gugat. Sayangnya peraturan ini hanya ‘garang’ di atas kertas. Pemerintah tidak bertindak tegas ketika mulai terlihat adanya gelagat pembangunan di bantaran sungai. Padahal tepian atau bantaran sungai merupakan lahan yang tidak baik untuk dimanfaatkan sebagai permukiman, namun kenyataannya daerah bantaran sungai merupakan wilayah permukiman yang sangat padat di Kota Yogyakarta, ditambah lagi dengan kebiasaan buruk manusia seperti membuang limbah, baik limbah domestik maupun industri ke sungai dapat menyebabkan peningkatan pencemaran ekosistem sungai tersebut.

Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM Hari Kusnanto mengatakan alih fungsi sungai atau wedi kengser menyebabkan debit air berkurang saat musim kemarau. Sementara musim hujan akan menjadi ancaman yang membahayakan karena bantaran sungai akan berubah menjadi banjir bandang. Kondisi sungai-sungai tersebut diperburuk dengan perubahan iklim yang menyebabkan banjir saat hujan dan penyusutan air saat kemarau.

Sungai dan bantaran sungai perlu mendapat perhatian dalam pelestariannya. Hal ini dikarenakan sungai memiliki fungsi sangat penting dalam kehidupan di perkotaan, salah satunya sebagai pengendali banjir. Wilayah sungai dan bantaran yang pada saat ini mengalami alih fungsi lahan sebagai daerah permukiman menyebabkan sungai tidak berfungsinya dengan baik. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan hubungan antara aktivitas manusia dengan lingkungan alam. Pada dasarnya segala aktivitas yang dilakukan manusia harus memperhatikan aspek daya dukung alam. Hal ini karena manusia merupakan bagian dari lingkungan alam, sehingga yang dilakukan oleh manusia tentu akan berdampak pada lingkungan, dan pada akhirnya kerugian akan dirasakan kembali oleh manusia.

Dampak dari kerusakan ekosistem sungai ini tidak hanya dirasakan oleh penduduk yang tinggal di bantaran sungai-sungai tersebut, Salah satu contohnya yaitu pembuangan sampah tidak terlarut yang menyebabkan pendangkalan dan penyempitan badan sungai menyebabkan terjadinya banjir yang tidak hanya dirasakan dampak buruknya oleh masyarakat bantaran sungai, namun meluas keseluruh masyarakat di Kota Yogyakarta. Selain itu, dampak lainnya yaitu dapat merusak keindahan kota dan keasrian ekosistem sungai.

Upaya perbaikan kualitas sungai dan permukiman di bantaran sungai merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah pusat maupun daerah, namun yang terpenting yaitu partisipasi aktif masyarakat sendiri. Slogan “Kaline Resik, Uripe Becik” yang merupakan warisan leluhur seharusnya menjadi suatu kearifan lokal masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Diperlukan internalisasi nilai dalam setiap individu sehingga slogan tersebut bukan hanya sekedar pajangan di setiap sungai, namun merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat khususnya yang tinggal di bantaran sungai di Kota Yogyakarta.

Kesadaran berbudaya di tepian sungai yang tidak sesuai dengan aspek kelingkungan sebaiknya dihilangkan dalam masyarakat. Setiap individu harus menyadari dan mengenali potensi, keterbatasan, masalah dan kerentanan pada diri dan lingkungannya, sehingga dapat menjadi panduan yang penting dalam suatu perencanaan. sehingga tercipta lingkungan kondusif dan mendukung perbaikan kualitas kehidupan masyarakat.

Salah satu gambaran pengurangan pencemaran yang dapat dilakukan yaitu penataan hunian di bantaran sungai dengan menghasilkan ruang hijau terbuka. Dalam penciptaan ruang hijau terbuka ini dapat dengan bantuan pihak swasta sebagai kegiatan ekonomi, sementara di sisi lain penduduk di permukiman setempat menjadi pemegang saham dari kegiatan ekonomi yang ada. Diharapkan pihak swasta akan berperan membantu langsung maupun tidak dalam peningkatan kualitas lingkungan sungai yang mereka masuki. Jika dilihat dalam penataan ruang ini tentu memerlukan waktu yang relatif lama, namun hal ini harus segera dimulai dari sekarang, karena dampak pencemaran akan terus meningkat apabila tidak segera dilaksanakan program-program pengurangan pencemaran ekosistem sungai tersebut. Hari lingkungan hidup yang akan diperingati pada tanggal 5 juni ini, sudah seharusnya dapat dimaknai dengan berbagai aksi nyata untuk menjaga lingkungan sekitar, salah satunya menjaga sungai-sungai kita.

Sugi Astuti

Staff Litbang HMPG

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -