Just Some Earth Day (?)

Sudah menjadi tradisi jika setiap Hari Bumi, kita beramai-ramai mengucapkan “Selamat Hari Bumi”, menjadikannya status di jejaring sosial, atau sekadar ucapan simpati terhadap Sang Bumi yang kian renta. Bahkan, momen ini digunakan oleh beberapa perusahaan untuk merebut simpati masyarakat terhadap produknya dengan mengkampanyekan gerakan Go Green.

Setiap tahun, selalu berulang hal yang sama. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita sudah melakukan langkah nyata untuk bumi kita? Langkah konkrit, berkelanjutan, tidak sekedar berbasa-basi dalam berucap atau menulis tanpa aksi. Dan kenapa harus menunggu saat Hari Bumi?

Terkadang, pemberian hari khusus dalam satu tahun membuat kita terpaku hanya pada hari itu saja. Seolah dalam setahun itu kita sudah dijadwal untuk melakukan sesuatu sesuai tema. Hari Bumi, misalnya. Padahal, untuk menanam sebatang pohon, untuk berhemat listrik, tidak harus menunggu datangnya Hari Bumi. Apakah langkah nyata hanya akan kita lakukan setiap setahun sekali saja?

Hal itu menjadikan Hari Bumi sekedar sebuah hari dimana kita harus mengingat betapa penting untuk menjaga planet biru ini. Sekedar momen untuk mengkampanyekan gerakan cinta bumi. Hari dimana kita bersama-sama menanam pohon, namun tanpa diimbangi dengan pemantauan dan perawatan yang berkelanjutan. So, it’s just some earth day? Kenapa tidak kita ubah menjadi Everyday is Earth Day? Tidak sekedar mengubah hari, namun merubah keseluruhan pola kehidupan kita menjadi berwawasan lingkungan.

Teringat pula sebaris kata-kata tajam:

“lestarikan alam hanya celoteh belaka”

Penggalan lagu iwan fals di atas adalah kenyataan yang terjadi saat ini. Sebab, memang begitulah adanya. Hutan-hutan Kalimantan yang kian menipis jumlahnya, pembangunan tanpa diimbangi pembuatan drainase, polusi yang kian menyebar dimana-mana, pengelolaan sampah yang masih payah, semuanya adalah masalah klasik yang bergerak statis tanpa ada solusi yang konkrit. Kita semua tahu, pemerintah apalagi, bahkan Negara-negara lain pun turut menyaksikan. Namun, tetap saja begitu. Statis. Seolah itu memang sudah menjadi icon Negara kita. Masalah makro yang sudah biasa terjadi.

Secara mikro, tengoklah pembangunan di kawasan kampus kita tercinta. Jalan di depan Taman Pancasila dan FIP, semua di aspal. Padahal, sebelumnya ada tanah di setiap pinggir jalan untuk resapan air. Namun, kini tanah sudah berganti aspal. Ternyata, pembangunan itu hanya untuk menambah lahan parkir bagi mobil-mobil dosen dan karyawan. Kita beralih ke tempat lain, di jalan masuk menuju UNY, tepatnya sepanjang jalan di depan lapangan FIK ke utara sampai ke jalan di samping FE dan di depan FIS. Setiap hujan deras turun, bisa dipastikan jalan akan berubah menjadi “aliran sungai”. Banjir sudah tak dapat dihindari. Resapan air masih kurang diperhatikan ditambah jalanan berlubang yang membahayakan kendaraan. Sedangkan, pembangunan gedung-gedung rajin dilakukan. Tak malukah kita memiliki jalan seperti itu? Padahal, kampus kita berisi orang-orang yang terdidik. Seperti inikah cermin pembangunan bangsa kita? Dimana suara kita mengenai pembangunan yang meremehkan lingkungan ini?

Mahasiswa sebagai kelompok masyarakat kritis harusnya mampu melakukan hal yang lebih dari orang lain. Selain unggul dalam hal akademik, mahasiswa dituntut untuk melakukan aksi nyata. Selain berdemo, kita juga wajib melakukan hal yang lebih konkrit. Aksi nyata dimulai dari hal yang kecil, dari diri kita sendiri, dan mulai saat ini juga. Suarakan pula keacuhan pengelola universitas terhadap masalah lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan, berhemat dalam menggunakan listrik, mengurangi pemakaian plastik, hemat BBM, dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk merealisasikan langkah nyata kita. Bayangkan, jika setiap orang di dunia ini melakukan hal yang sama setiap hari. Kondisi bumi bisa saja lebih baik. Kita memang tak bisa menghindari kenyataan bahwa bumi kita semakin tua. Tapi, apakah kita juga akan membuatnya semakin rusak dan tak terjaga?

Rizky Oktaviani

Staff LITBANG HMPG 2012

No comments:

Powered by Blogger.