Popular Post

Archive for June 2012

Buletin IMAHAGI Region III

Buletin IMAHAGI Region III edisi 2 sudah terbit dan dapat di download disini.

Mohon maaf, ada catatan sedikit dari redaksi.

  1. File berbentuk xps
  2. Untuk komputer dengan sistem operasi windows vista dan 7 dapat langsung membukanya dengan xps viewer yang sudah menjadi bawaan sistem operasi tersebut .
  3. Untuk komputer dengan sistem operasi windows xp harus menginstal dahulu xps viewer dan NET 3 Framework Runtime.

Sekian dan terimakasih
Salam Visioner Indonesia!!

Tag : ,

Eksplorasi Ekologi, Bayat, Klaten

Eksplorasi Ekologi yang dilaksanakan di Bayat, Klaten 2/6 kemarin diwarnai dengan berbagai kendala-kendala yang belum sempat terpikirkan oleh panitia. Tentang kehadiran peserta yang sedikit terlambat tidak terlalu menjadi kendala bagi panitia. Karena panitia sudah mengantisipasinya yaitu dengan mencantumkan jam pemberangkatan lebih awal, tepatnya pukul 07.00 WIB. Tetapi, di luar itu masih banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh panitia. Kendala tersebut diawali dengan nyasarnya bus pertama karena kurangnya komunikasi dengan panitia. Keterlambatan datangnya bis pertama di UNWIDA menyebabkan penyampaian materi yang diberikan oleh Bpk. Udia Haris Hadori Maulana, salah satu dosen dari jurusan pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Sosial, UNY sangat terbatas karena terbatasnya waktu yang tersedia. Selain keterbatasan waktu untuk pemateri, hal itu juga berimbas pada berubahnya susunan acara yang telah disusun oleh panitia. Salah satu imbasnya yaitu ada satu lokasi, tepatnya Rowo Jombor menjadi tidak sempat dikunjungi sehubungan dengan waktu yang tidak memungkinkan. Akhirnya, panitia dan peserta hanya sekedar lewat di sekitar Rowo Jombor ketika akan menuju lokasi selanjutnya.

Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah watuprau. Di sana panitia mengalami kendala yang sangat tidak terduga, yaitu menghilangnya Bpk. Hadori. Beberapa panitia berusaha menghunbungi beliau, tapi mereka kesulitan untuk menghubunginya. Beberapa menit kemudian, Bpk. Hadori muncul dengan santai. Setelah dikonfirmasi, ternyata beliau sedang mencari teh botol, tapi beliau merasa kesulitan dan tidak kunjung menemukan. Akhirnya, beliau bisa mendapatkan teh botol yang sedang dicari-carinya tersebut setelah diberi oleh peserta.
Kendala-kendala tersebut disebabkan karena tidak adanya koordinator lapangan yang bisa mengatur jalannya kegiatan di lapangan ketika acara sedang berlangsung. Sampai-sampai malah ada paserta yang menjadi penunjuk jalan.

Tetapi, terlepas dari banyaknya kendala-kendala tersebut, acara ini bisa dikatakan cukup berhasil. Dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti acara tersebut, yaitu sebanyak 64 dari target 70 orang. Peserta yang mengikuti kegiatan ini tidak hanya berasal dari FIS saja, tapi juga dari FMIPA, FIK dan juga peserta dari luar UNY, seperti UNWIDA dan UNNES yang turut mengikuti Eksplorasi Ekologi tersebut.
Kegiatan Eksplorasi Ekologi yang diadakan oleh HMPG tersebut juga bekerja sama dengan IMAHAGI. Dan kerjasama ini memberikan keuntungan untuk keduanya. Dari pihak IMAHAGI juga berterima kasih kepada HMPG karena dengan kerjasama tersebut, salah satu proker dari IMAHAGI juga ikut terlaksana. Selain itu, panitia juga merasa diuntungkan karena dengan kerjasama tersebut, mereka bisa mendapatkan sedikit pemasukan.

Kharisma Nasionalita
Staff Jurnalistik dan Informasi

Tag : ,

PKM Dikti lolos PIMNAS 2012

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 43/DIKTI/KEP/2012 tanggal 13 Juni 2012, dengan ini disampaikan Daftar Peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXV Tahun 2012 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sebagai berikut :


Selamat dan sukses untuk peserta PIMNAS 2012

Sumber : dikti.go.id
Tag : ,

Nyamannya Hidup di Pedesaan


Desa saat ini menjadi pelampiasan rasa nyaman bagi masyarakat kota. Betapa tidak, hampir kebanyakan masyarakat kota yang sukses maupun tidak kebanyakan berasal dari orang desa. Desa merupakan tempat asal lahir banyak orang kota. Desa sebenarnya menyediakan banyak lapangan kerja bagi orang kreatif, tanpa harus bermigrasi ke kota.

Desa banyak menyediakan pangan bagi kita. Mulai dari usaha pertanian maupun peternakan tetap berkembang di desa. Kita sangat mudah mengambil pangan dari desa, sebaliknya bila kita berada di kota kita perlu uang untuk makan.

Untuk energi, hampir semua bahan bakar di desa bisa berkembang. Mulai dari kayu bakar, minyak tanah hingga solar. Namun bila di kota, kita harus menggunakan energi yang praktis, bersih serta ramah lingkungan. Itupun bila mudah didapat dan tentunya, punya uang. Soal air juga sama, desa menyediakan air bersih berlimpah bagi penduduknya. Namun bila di kota butuh air bersih, harus lewat korporasi penyedia air yang layanannya berbelit-belit dan tidak gratis.

Masalah kesibukan, desa tentu tempat yang paling sibuk untuk semua makhluk hidup. Hewan, tumbuhan maupun manusia menyibukkan sendiri sesuai dengan rutinitasnya. Kita bebas melakukan apa saja sesuai dengan yang kita mau. Kalau dikota, yang justru membuat sibuk yaitu benda-benda dan aturan yang dibuat manusia. Suara deru kendaraan bermotor, kebisingan mesin, polusi serta manusia-manusia yang terpaku jadwal.

Desa juga merupakan pencegah terjadinya bencana bagi wilayah perkotaan. Bila wilayah hulu yang umumnya terletak di desa itu rusak atau longsor, maka banjir bisa mudah terjadi di daerah perkotaan. Desa, terutama yang terletak di pinggir kota, merupakan pemasok oksigen utama bagi perkotaan.

Yang menjadi masalah saat ini adalah desa menjadi kepentingan pemilik modal masyarakat kota. Bangunan-bangunan yang didirikan para pemilik modal merusak alam pedesaan. Sehingga bila ini dibiarkan terus-menerus, maka ekosistem pedesaan rusak. Ini berpengaruh pada Daerah Aliran Sungai yang outletnya terutama berada di daerah perkotaan. Keseimbangan antara desa dan kota terganggu, dan harusnya pemerintah di kedua wilayah tersebut bersatu dan mengatasi segala pemasalahan yang ada antara desa dengan kota.

Arief Laksono

Staff Litbang HMPG

Tag : ,

“Kaline Resik, Uripe Becik” Hanya Slogan Semata


Kondisi sungai-sungai di Kota Yogyakarta kian memburuk seiring pertambahan populasi manusia yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Adapun sungai besar yang melewati Kota Yogyakarta yaitu Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gadjahwong. Kondisi ketiga sungai tersebut telah mengalami pencemaran diakibatkan aktivitas manusia yang hidup di sekitar sungai dan cenderung merusak ekosistem sungai.

Saat ini kondisi sungai-sungai di Kota Yogyakarta dapat dilihat dari warna air sungai yang keruh, banyaknya buangan sampah-sampah plastik, dan tidak jarang menimbulkan bau yang tidak sedap dan mengganggu. Kondisi tersebut merupakan hasil dari ulah manusia yang tidak bertanggungjawab. Sangat disayangkan, kondisi ini akan terus memburuk jika tidak ada upaya untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi pencemaran oleh manusia itu sendiri, terutama bagi yang tinggal di sekitar sungai tersebut.

Masalah yang dihadapi yaitu semakin sempitnya lahan untuk permukiman di daerah Kota Yogyakarta yang menyebab terjadinya alih fungsi lahan. Bantaran sungai yang merupakan kawasan konservasi yang harus dilindungi dan hijau berubah menjadi lingkungan permukiman penduduk. Dalam Perundangan (UU Pengairan dan UU Kehutanan) disebutkan bahwa di kawasan kanan-kiri sungai sejauh 50 meter adalah kawasan lindung yang tidak boleh diganggu gugat. Sayangnya peraturan ini hanya ‘garang’ di atas kertas. Pemerintah tidak bertindak tegas ketika mulai terlihat adanya gelagat pembangunan di bantaran sungai. Padahal tepian atau bantaran sungai merupakan lahan yang tidak baik untuk dimanfaatkan sebagai permukiman, namun kenyataannya daerah bantaran sungai merupakan wilayah permukiman yang sangat padat di Kota Yogyakarta, ditambah lagi dengan kebiasaan buruk manusia seperti membuang limbah, baik limbah domestik maupun industri ke sungai dapat menyebabkan peningkatan pencemaran ekosistem sungai tersebut.

Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM Hari Kusnanto mengatakan alih fungsi sungai atau wedi kengser menyebabkan debit air berkurang saat musim kemarau. Sementara musim hujan akan menjadi ancaman yang membahayakan karena bantaran sungai akan berubah menjadi banjir bandang. Kondisi sungai-sungai tersebut diperburuk dengan perubahan iklim yang menyebabkan banjir saat hujan dan penyusutan air saat kemarau.

Sungai dan bantaran sungai perlu mendapat perhatian dalam pelestariannya. Hal ini dikarenakan sungai memiliki fungsi sangat penting dalam kehidupan di perkotaan, salah satunya sebagai pengendali banjir. Wilayah sungai dan bantaran yang pada saat ini mengalami alih fungsi lahan sebagai daerah permukiman menyebabkan sungai tidak berfungsinya dengan baik. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan hubungan antara aktivitas manusia dengan lingkungan alam. Pada dasarnya segala aktivitas yang dilakukan manusia harus memperhatikan aspek daya dukung alam. Hal ini karena manusia merupakan bagian dari lingkungan alam, sehingga yang dilakukan oleh manusia tentu akan berdampak pada lingkungan, dan pada akhirnya kerugian akan dirasakan kembali oleh manusia.

Dampak dari kerusakan ekosistem sungai ini tidak hanya dirasakan oleh penduduk yang tinggal di bantaran sungai-sungai tersebut, Salah satu contohnya yaitu pembuangan sampah tidak terlarut yang menyebabkan pendangkalan dan penyempitan badan sungai menyebabkan terjadinya banjir yang tidak hanya dirasakan dampak buruknya oleh masyarakat bantaran sungai, namun meluas keseluruh masyarakat di Kota Yogyakarta. Selain itu, dampak lainnya yaitu dapat merusak keindahan kota dan keasrian ekosistem sungai.

Upaya perbaikan kualitas sungai dan permukiman di bantaran sungai merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah pusat maupun daerah, namun yang terpenting yaitu partisipasi aktif masyarakat sendiri. Slogan “Kaline Resik, Uripe Becik” yang merupakan warisan leluhur seharusnya menjadi suatu kearifan lokal masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Diperlukan internalisasi nilai dalam setiap individu sehingga slogan tersebut bukan hanya sekedar pajangan di setiap sungai, namun merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat khususnya yang tinggal di bantaran sungai di Kota Yogyakarta.

Kesadaran berbudaya di tepian sungai yang tidak sesuai dengan aspek kelingkungan sebaiknya dihilangkan dalam masyarakat. Setiap individu harus menyadari dan mengenali potensi, keterbatasan, masalah dan kerentanan pada diri dan lingkungannya, sehingga dapat menjadi panduan yang penting dalam suatu perencanaan. sehingga tercipta lingkungan kondusif dan mendukung perbaikan kualitas kehidupan masyarakat.

Salah satu gambaran pengurangan pencemaran yang dapat dilakukan yaitu penataan hunian di bantaran sungai dengan menghasilkan ruang hijau terbuka. Dalam penciptaan ruang hijau terbuka ini dapat dengan bantuan pihak swasta sebagai kegiatan ekonomi, sementara di sisi lain penduduk di permukiman setempat menjadi pemegang saham dari kegiatan ekonomi yang ada. Diharapkan pihak swasta akan berperan membantu langsung maupun tidak dalam peningkatan kualitas lingkungan sungai yang mereka masuki. Jika dilihat dalam penataan ruang ini tentu memerlukan waktu yang relatif lama, namun hal ini harus segera dimulai dari sekarang, karena dampak pencemaran akan terus meningkat apabila tidak segera dilaksanakan program-program pengurangan pencemaran ekosistem sungai tersebut. Hari lingkungan hidup yang akan diperingati pada tanggal 5 juni ini, sudah seharusnya dapat dimaknai dengan berbagai aksi nyata untuk menjaga lingkungan sekitar, salah satunya menjaga sungai-sungai kita.

Sugi Astuti

Staff Litbang HMPG

Tag : ,

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ala Kami


Tanggal 5 Juni adalah hari lingkungan hidup sedunia, sebagian orang yang masih memiliki kepedulian terhadap eksistensi lingkungan hidupnya memperingatinya dengan berbagai cara.Ada yang menggelar aksi teaterikal, ada yang melakukan demo, ada juga yang melakukan aksi nyata menanam dan membersihkan lingkungan alam , termasuk kami, mahasiswa pendidikan geografi dan anggota hima pendidikan akuntansi. Memperingati hari lingkungan hidup sedunia dengan longmarch dan membagikan bibit tanaman kepada pengguna jalan yang sedang melintas.

Acara ini sebenarnya merupakan inisiatif dari mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2010 dan dosen pengampu mata kuliah Penddikan kelestarian Lingkungan Hidup Ibu Dr. Muhsinatun guna memenuhi tugas kuliah tersebut. Kemudian gagasan dan rencana aksi longmarch ini dipublikasikan ke ormawa-ormawa lain oleh HMPG. Selain membawa bibit pohon, tidak ketinggalan peserta membawa banner dan poster yang berisi kampanye tentang pelestarian lingkungan hidup.

Ketua Panitia Rizqon Arif Hidayat mengatakan kegiatan ini dilaksanakan untuk memenuhi tugas kuliah Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH). Guna melakukan sosialisasi PKLH dalam rangka menyambut hari lingkungan hidup. Selain itu, aksi ini untuk mengkampanyekan kepada masyarakat mengenai pelestarian lingkungan hidup.

Acara diawali dengan sambutan dari wakil dekan III bidang kemahasiswaan Ibu Terry Irenewati, M. Hum yang sangat mengapresiasi dan mendukung acara ini. Beliau mengatakan dengan tingkat kepedulian mahasiswa yang semakin rendah terhadap lingkungannya, kegiatan seperti ini patut didukung dan dicontoh. Tidak lupa, beliau juga meminta beberapa bibit pohon untuk ditanam di sekitar dekanat kampus FIS UNY.

Rencana rute yang akan dilalui adalah; kampus FIS UNY – jl Kolombo – bundaran UGM – jl Jend Sudirman – tugu Jogja – jl Mangkubumi – jl Malioboro – perempatan nol kilometer.

Tidak lupa berdoa sebelum acara berlanjut agar kegiatan yang akan dilakukan ini dapat berjalan lancar tanpa ada halangan. Peserta dibariskan dua berbaris agar tidak mengganggu pengguna jalan lain meski kemudian saat menyeberang dipersimpangan hal ini terjadi juga. Tepat pukul 07.45 WIB, longmarch resmi dimulai.

Peserta berjalan dengan penuh semangat dan ceria, selain mengampanyekan aksinya peserta juga memunguti sampah plastik disepanjang jalan yang dilintasi. Aksi ini berhasil menyita perhatian masyarakat yang melintas dan yang ada dipinggir jalan. Tidak jarang masyarakat yang ada dipinggir jalan juga ikut memunguti sampah yang ada disekitarnya melihat aksi pungut sampah peserta longmarch.

Iring-iringan longmarch berhenti di bundaran UGM untuk membagikan beberapa bibit pohon dan melakukan orasi. Orasi yang pertama disampaikan oleh Yanuar Putut Wirawan dari Geografi non reguler 2010 yang sepanjang perjalanan juga banyak menyampaikan orasinya. Yang kedua adalah ketua HMPG Gurnito Dwidagdo, dan yang terakhir adalah Ahmad Syaiful Hidayat dari Geografi reguler 2010. Orasi ini juga berhasil menyita perhatian pengguna jalan yang sempat berhenti sejenak untuk mengabadikan aksi damai ini. Beberapa wartawan media cetak dan TV juga mulai berdatangan meliput sampai acara ini selesai.

Massa kemudian bergerak keselatan menuju tugu Jogja melewati jalan C Simanjutak dan jalan Jend Sudirman. Sepanjang perjalanan, orasi dan nyanyian tidak henti-hentinya diteriakan dengan tujuan mengajak masyarakat luas untuk peduli dan ikut menjaga kelestarian lingkungan yang semakin rusak akibat kegiatan manusia yang semakin hari juga semakin merusak lingkungan. Sampai di tugu Jogja, massa berhenti ditengah-tengah perempatan mengelilingi tugu masih dengan bentangan poster-poster dan teriakan-teriakan khas mahasiswa.Teriakan ini adalah ajakan untuk ikut berperan menjaga kelestaria lingkungan, berbeda dengan teriakan mahasiswa dalam demonstrasi selama ini yang banyak menghujat pemerintah.

Perjalanan berlanjut keselatan, kali ini massa bergerak ke kawasan nol kilometer Yogyakarta, tempat puncak aksi ini akan dijalankan. Dengan banyak dan padatnya pengguna jalan disepanjang jalan Mangkubumi dan jalan Malioboro, aksi ini juga banyak menyita perhatian publik. Bagi-bagi bibit pohon juga banyak dilakukan disepanjang jalan ini. Memasuki jalan Malioboro, teriakan orator dan nyanyian massa semakin lantang, karena sadar, disini selain banyak pejalan kaki juga banyak turis dari luar maupun dalam negeri. Massa hanya ingin memberi kesan kalau sebagian mahasiswa di Yogyakarta juga masih memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungannya, dan tentu saja dengan caranya sendiri.

Sampai di perempatan nol kilometer, aksi bagi-bagi bibit pohon semakin banyak dilakukan, massa juga melakukan orasi yang dilakukan setiap lampu merah menyala disisi utara perempatan. Massa berorasi secara bergantian, yang pada intinya mengajakmasyarakat untuk semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan alamnya. Pembagian bibit pohon dilakukan menyebar dibeberapa titik perempatan, respon dari masyarakat kebanyakan merasa tertarik dan senang diberi bibit pohon. Seorang tukang becak yang sedang beristirahat disekitar perempatan mengaku senang dan mendukung aksi ini “lumayan, keno nggo eyup-eyup ngomah” (lumayan, bisa buat peneduh dirumah) meski sedikit menyebabkan kemacetan, tapi kebanyakan pengguna jalan mengapresiasi aksi ini. Karena selain membagi-bagikan pohon, juga tidak membakar ban.

Beberapa orang memperingati hari lingkungan hidup sedunia dengan cara mereka sendiri dan melakukan kegiatan yang dianggap berguna bagi lingkungannya, termasuk kami.

 hijau dimana saja, bukan sampah dimana saja

rangermerah paling penting hari itu..

membagikan bibit pohon didepan kantor DPRD DIY

kenakalan yang kami lakukan, membagi-bagikan bibit pohon  :)

 kenakalan yang kami lakukan, mengkampanyekan pelestarian lingkungan  :))






Tag : ,

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -