Popular Post

Archive for August 2012

Kemerdekaan dan Kekecewaan Lintas Generasi

Pertama-tama, admin blog HMPG UNY mewakili seluruh keluarga besar Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi (HMPG) UNY ingin mengucapkan selamat hari kemerdekaan, hari lahir bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang jatuh pada hari ini 17 Agustus 2012 kepada segenap bangsa Indonesia. Semoga di tahun-tahun kedepan bangsa kita, yang bernama Indonesia ini bisa segera terlepas dari segala beban dan segala gangguan yang selama ini menjadi penghambat bagi kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, di Indonesia muncul berbagai generasi yang kemudian akan banyak mewarnai jalannya kehidupan bangsa. Beberapa generasi yang tercatat dalam sejarah mampu menunjukan eksistensinya adalah:

Generasi yang pertama adalah generasi tahun 45, generasi yang berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, generasi yang lahir dalam nuansa peperangan, penuh gairah dan vitalitas. Generasi ini mempunyai pandangan bahwa setiap masalah dapat diatasi dengan persatuan dan semangat kebersamaan.

Yang kedua generasi tahun 60-an, pemuda-pemuda generasi ini mampu membuktikan bahwa didalam semua pertentangan-pertentangan politik blok kanan-kiri di Indonesia mampu membuktikan kekuatannya sebagai kekuatan moral yang berusaha menyelamatkan Indonesia dengan menjatuhkan presiden Soekarno, meski kemudian dituduh telah ditunggangi kepentingan ABRI dan CIA.

Kemudian, generasi tahun 98, generasi yang berhasil menumbangkan kekuasaan selama 32 presiden Soeharto. Pergerakan generasi ini disebut-sebut sebagai pergerakan yang paling bersih dari pengaruh kepentingan luar seperti yang dituduhkan pada generasi tahun 60-an.

Setiap tahun memang selalu bermunculan generasi baru yang disiapkan sebagai agen perubahan dan pembangunan bangsa.

Waktu kecil, saat kita masih menjalani masa-masa SD, guru kita selalu mengajarkan bahwa kita berada di sebuah negara yang besar, kaya raya, memiliki budaya luhur dan adat istiadat yang diakui dunia. Guru kita akan bercerita tentang sebuah negara kepulauan bernama Indonesia, yang dalam sejarah menjadi pusat lalu lintas setiap bangsa, setiap pulaunya memiliki kekayaannya sendiri-sendiri, dan itulah tanah air kita tempat kita hidup. Dengan masyarakat yang beragam karakter dan adatnya. Setiap buku bacaan kita tentang Indoinesia adalah hal-hal positif di Indonesia, dan kita selalu diperdengarkan pidato-pidato dari Bung Karno “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Sebuah dasar yang baik untuk menanamkan idealisme kebangsaan dan kepercayaan diri anak-anak.

Dengan bekal cita-cita dan idealisme masa kanak-kanak yang tinggi ini, pemuda-pemuda Indonesia memasuki gerbang-gerbang perguruan tinggi dan lembaga pendidikan tinggi. Dari generasi ke generasi selalu datang pemuda –pemuda penuh idealisme dan semangat membangun seperti ini setiap tahunnya. Tapi lihatlah kenyataan.

Kita biasa menemui seorang mahasiswa baru jurusan Antropologi, berusia delapan belas tahun dan bercita-cita membuat field work dipedalaman-pedalaman Indonesia, dan membuat perubahan pada masyarakat yang terbelakang disana. Atau seorang mahasiswa baru jurusan Kimia, yang bermimpi bisa membuat sejenis cairan baru yang bisa membuat manuisa terbang ke Bulan. Atau seorang mahasiswa baru kedokteran yang ingin menjadi dokter yang bertugas didaerah-daerah tertinggal di Indonesia. Atau seorang mahasiswa baru jurusan Hukum yang datang dengan idealisme tentang penegakkan hukum dan rule of law yang tegas.

Tidak ada yang lebih kejam daripada mematahkan mimpi tunas-tunas kemerdekaan Indonesia sesungguhnya.

Dalam beberapa tahun kemudian, pemuda delapan belas tahun tadi menemukan kenyataan bahwa tidak mungkin ada field work yang bisa dibangunnya didaerah-daerah pedalaman selama birokrasi yang terlibat antara pusat dan daerah masih begitu berbelit-belit. Pemuda ini harus puas untuk sekedar membuat skripsi tentang kehidupan masyarakat tukang buah pasar di dekat kampusnya.

Alumni-alumni jurusan kimia akan menyadari bahwa di Indonesia, pekerjaan yang paling mungkin terjadi atau pada umumnya terjadi untuk alumni jurusan kimia sepertinya adalah bekerja di pabrik Sabun atau di Pabrik oli. Dan pelan-pelan harus melupakan mimpinya tentang cairan yang dapat mengantar manusia ke bulan.

Juga calon-calon dokter ini akan tahu bahwa biaya untuk masuk di fakultas kedokteran sangat tinggi, sehingga dia harus cepat-cepat bekerja dan dapat uang banyak untuk mengganti biaya masuk ke fakultas kedokteran tersebut. Bekerja di rumah sakit besar di pusat kota adalah pilihannya. Sehingga kemudian, cita-cita untuk mengobati masyarakat pedalaman yang sakit sedikit demi sedikit akan luntur.

Atau mahasiswa fakultas Hukum yang bercita-cita besar menegakkan hukum, akan segera mengetahui bahwa pada kenyataannya di Indonesia ada hukum diatas hukum tertulis yang lebih sakti, yaitu hukum yang tidak tertulis. Yang hanya di ketahui oleh kalangan pemerintah, petinggi partai, jaksa, polisi, pejabat, bos-bos perusahaaan, dan garong-garong yang punya koneksi. Penegakan hukum yang nyata tinggal hanya menjadi mimpi bagi mahasiswa tadi. Kenyataan-kenyataan baru ini selalu menghadang setiap pemuda Indonesia yang pada awalnya penuh idealisme untuk membangun bangsanya

Hanya akan ada dua pilihan bagi pemuda-pemuda ini. Yang pertama tetap bertahan dengan cita-cita dan idealisme besar yang dulu sudah ditanamkan oleh guru-gurunya di SD, menjadi manusia yang non-kompromistis. Orang–orang dengan aneh dan memandang kasihan akan berkata sambil geleng-geleng kepala “dia pintar dan jujur, tapi sayang kakinya tidak menjejak tanah”. Atau pilihan kedua, berkompromi dengan kenyataan yang ada, lupakan idealisme dan ikut arus. Bergabunglah dengan partai-partai kuat, belajarlah berpolitik, menjilat dan memfitnah dengan cepat. Maka karier akan cepat menanjak. Atau kalau ingin yang lebih aman, bekerjalah di sebuah perusahaan kecil yang bisa memberikan rumah, sebuah mobil, dan asuransi-asuransi bermacam-macam dan belajarlah patuh pada atasan. Kemudian cari istri yang manis dan tidak banyak menuntut. Kehidupan selesai. Tapi idealisme sekolah dasar tidak pernah mengajari demikian.

Pemuda-pemuda generasi baru ini, selalu mengalami kekecewaan dan patah semangat setelah berhadapan dengan generasi yang lebih tua. Dan hal ini selalu terjadi dan berlangsung secara terus-menerus di setiap generasi yang tumbuh.

Pada akhirnya generasi-generasi yang dibangun oleh semangat idealisme kebangsaan di sekolah dasar ini akan sadar bahwa di Indonesia, membangun cita-cita dan mimpi tentang kehidupan bangsa yang lebih baik tidak cukup hanya bermodal idealisme.


opini oleh

Wisnu Putra Danarto

Staff JI HMPG UNY

Tag : ,

Semarak Geografi Tingkat Nasional 2012


Semarak Geografi 2012 adalah rangkaian kegiatan tingkat nasional Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 20 Oktober 2012 yang bisa diikuti oleh para siswa SMA, Guru, Mahasiswa, Dosen, maupun masyarakat umum sesuai kategorinya. Kategori kegiatan meliputi National Geography Competition (NGC), Lomba Karya Tulis Ilmiah, Lomba Poster, dan Seminar Nasional.

Pada musim ini , SEMARAK GEOGRAFI 2012 mengambil tema besar ” Inovasi dan Aplikasi Teknologi INformasi dalam Pembelajaran Geografi” dengan harapan menumbuhkan semangat berinovasi dan berkompetisi para pelajar SMA se-Indonesia.

Selamat bergabung bersama SEMARAK GEOGRAFI 2012, dari Geografi untuk Indonesia !


Artikel Terkait :

National Geography Competition

LKTI

Lomba Poster

Seminar Nasional


Buku Panduan Ospek dan Buletin HMPG edisi II

Buku Panduan Ospek dan Buletin HMPG edisi II telah terbit.
Bagi teman-teman maba yang membutuhkan buku panduan ospek versi elektronik dapat mengundunya disini, bagi teman-teman yang ingin membaca juga dapat mengunduhnya. terimakasih
Tag : ,

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -