Popular Post

Archive for September 2012

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ESTIMASI TINGKAT KERENTANAN BANJIR DI SEKITAR ALIRAN SUNGAI CODE KOTA YOGYAKARTA


ABSTRAK

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
UNTUK ESTIMASI TINGKAT KERENTANAN BANJIR
DI SEKITAR ALIRAN SUNGAI CODE KOTA YOGYAKARTA

Oleh:
Akhmad Ganang Hasib, Janu Muhammad, Lulut Al Huda,
Wisnu Putra Danarto


Sungai Code yang mengalami pendangkalan akibat banjir lahar hujan Gunung Merapi membawa dampak pada kondisi wilayah di sekitar sungai maupun Sungai Code sendiri. Pendangkalan tersebut disebabkan karena material yang terbawa arus banjir saat musim hujan menyebabkan Sungai Code semakin dangkal, sehingga muka air akan semakin tinggi dan menambah risiko kerentanan banjir Sungai Code. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerentanan banjir di sekitar aliran SungaiCode Kota Yogyakarta serta mengetahui distribusi tingkat kerentanan banjir di sekitar aliran Sungai Code Kota Yogyakarta dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis.
Variabel bebas meliputi : ketinggian tanggul, penggunaan lahan, kemiringan lereng dan tanggul, tekstur tanah, curah hujan,  jarak sungai ke permukiman, lebar sungai, dan morfologi sungai (bentuk lahan). Sedangkan, variabel terikatnya yaitu kerentanan banjir. Model dari penelitian ini menggunakan model penelitian teknik kuantitatif. Peneliti melakukan dengan memanfaatkan data-data yang ada dan diproses dari data input hingga menghasilkan output pemetaan secara digital. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Juli 2012 dengan mengambil lokasi di sekitar aliran Sungai Code Kota Yogyakarta. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah skoring. Artinya, dilakukan pemberian skor terhadap variabel bebas. Dari skoring tersebut, akan didapatkan analisis kerentanan sungai, mulai dari skor paling bawah sampai paling atas. Kemudian akan dipakai dalam aplikasi Sistem Informasi Geografis ini digunakan metode overlay yaitu proses penyatuan data dari lapisan layer yang berbeda. Secara sederhana overlay disebut sebagai operasi visual yang membutuhkan lebih dari satu layer untuk digabungkan secara fisik.
Berdasarkan skoring dan overlay tersebut menunjukan skor tertinggi ialah 16 sedangkan skor terendah ialah 10. Dari hasil penskoran diperoleh hasil kelas tidak rentan banjir ialah ≤ 11, klas potensi sedang pada interval 12-13, dan klas potensi tinggi ialah ≥ 14. Wilayah yang berada disepanjang sungai Code kota Yogyakarta termasuk dalam tingkat kerentanan sedang-tinggi. Penggunaan lahan disepanjang aliran sungai Code Yogyakarta belum ideal karena didominasi oleh permukiman yang meningkatkan kerentanan terhadap banjir. Ruang terbuka hijau dapat mengurangi tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap banjir.


Kata kunci: Banjir, SIG, dan Sungai Code

“MITIGATION SOUNDTRACK” SEBAGAI MEDIA INOVATIF PENDIDIKAN MITIGASI BENCANA ALAM PADA SISWA SEKOLAH DASAR


“MITIGATION SOUNDTRACK” SEBAGAI MEDIA INOVATIF PENDIDIKAN MITIGASI BENCANA ALAM PADA SISWA SEKOLAH DASAR
Oleh :
Thomas Dannar S, Ana Indriyani, Dita Tri P, Pamungkas Aji, Usaji Maulana
Dosen Pembimbing : M. Nur Sa’ban, M.Pd.
 

ABSTRAK

Program kreativitas mahasiswa bidang pengabdian masyarakat ini dilatarbelakangi oleh kedudukan Indonesia yang terletak di derah pertemuan 3 lempeng besar dunia. Hal ini menyebabkan Indonesia berpotensi sangat besar terhadap terjadinya bencana alam. Fakta menunjukkan bahwa kejadian bencana alam di Indonesia banyak merenggut korban. Banyaknya korban bencana alam ini disebabkan karena masyarakat belum mengerti tentang mitigasi bencana alam. Pengenalan mengenai mitigasi bencana alam dapat  melalui pembuatan lagu yang memuat lirik mengenai mitigasi bencana alam. Pengenalan melalui lirik-lirik lagu diharapkan mampu membantu mereka untuk lebih mudah memahami materi mitigasi bencana alam.Melalui pendidikan mitigasi bencana alam nantinya diharapkan anak-anak mengetahui apa yang harus mereka lakukan ketika bencana alam menimpa mereka.
Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah mensosialisasikan penggunaan “Mitigation Soundtrack” sebaga media inovatif pendidikan mitigasi bencana alam pada siswa sekolah dasar. Membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi materi mitigasi bencana alam  . Adapun metode pelaksanaan dari kegiatan ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu (1) Persiapan (2) pembuatan mitigation soundtrack (3)Sosialisasi yang dilaksanakan dalam 4 tahap. Keberhasilan program ini dapat dilihat dari dua kriteria keberhasilan yaitu keberhasilan proses dan produk.
Hasil dari kegiatan program kreativitas mahasiswa pengabdian pada masyarakat yang dilakukan di SD N Umbulharjo 1 dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media “Mitigation Soundtrack” terbukti dapat membantu siswa agar lebih mudah memahami mengenai materi mitigasi bencana alam. Hal ini dapat terlihat dari bentuk evaluasi yang kami lakukan dengan metode simulasi. Mereka tidak merasa panik ketika  tiba-tiba mereka dibawa kedalam situasi yang menyerupai kejadian bencana alam.

Kata Kunci : Mitigation Soundtrack,pendidikan mitigasi bencana,  siswa sekolah dasar

HMPG, hima dengan segudang prestasi

Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi pada tahun 2012 ini banyak menuai prestasi. Mulai dari dinobatkannya sebagai Hima Teresponsif seUNY dalam bidang kegiatan kemahasiswaan, sampai prestasi lainnya. Dan yang terbaru Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi terpilih menjadi Juara FIS CUP 2012 dengan memperoleh Piala Dekan FIS Bergilir. Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi berhasil menjadi juara I Lomba Badminton atau Bulutangkis, juara I Lomba Debat, Juara III Poster Pendidkan dan juara III Lomba Voli yang diadakan oleh BEM FIS pada pertengahan April lalu.

Hal ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi kami mahasiswa pendidikan geografi. Berbagai prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa pendidikan geografi mampu dalam bidang akademik melalui memenangi lomba, namun juga bidang non akademik kami juga berbakat.

Selain mengakhiri puasa gelar yang selama ini mengalami pasang surut akan prestasi, itu juga menjadi pelecut semangat kami untuk menjadi yang terbaik. Jadi keluarkan potensi yang ada pada diri kalian dan latihlah agar bermanfaat nantinya.

Tag : ,

Pulau-Pulau Terluar Indonesia

Pulau Alor

Alor adalah sebuah pulau yang terletak di ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara. Luas wilayahnya 2.119 km², dan titik tertingginya 1.839 m. Pulau ini dibatasi oleh Laut Flores dan Laut Banda di sebelah utara, Selat Ombai di selatan (memisahkan dengan Pulau Timor), serta Selat Pantar di barat (memisahkan dengan Pulau Pantar. Pulau Alor adalah satu dari 92 pulau terluar Indonesia karena berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan. Pulau Alor merupakan salah satu dari dua pulau utama di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Di pulau ini terdapat Kota Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor.

Pulau Ararkula

Pulau Ararkula berdasarkan perpres 78 tahun 2005 merupakan salahsatu pulau terluar di Indonesia. Namun secara fisik pulau tersebut hanyalah gosong pasir. Pulau Ararkula ini tidak berpenghuni. Pulau Ararkula (nama lokalnya yaitu Pulau Konan Danar) menjadi tempat singgah dan tempat tinggal sementara bagi masyarakat dari desa-desa sekitar (khususnya desa Salmona/Selemona) yang sedang mencari hasil laut, dengan mendirikan bangunan-bangunan ukuran kecil dari kayu dan atapnya dari daun kelapa. Pulau ini ditumbuhi berbagai macam vegetasi, seperti pohon kelapa, sagu, mangrove dan lain-lain.

Pulau Asutubun

Koordinat: 8°3′7″LS,131°18′2″BT Pulau Asutubun adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Timor, berbatasan dengan negara Timor Leste dan Australia. Pulau Asutubun ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Maluku Tenggara Barat, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah selatan dari pulau Jamdena dengan koordinat 8°3′7″LS,131°18′2″BT.

Pulau Batarkusu

Pulau Batarkusu adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Timor dan berbatasan dengan negara Timor Leste / Australia. Pulau Batarkusu ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Maluku Tenggara Barat, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah timur dari negara Timor Leste dengan koordinat 8° 20′ 30″ LS, 130° 49′ 16″ BT.

Pulau Batek

Pulau Batek (Fatu Sinai) adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sawu dan berbatasan dengan negara Timor Leste. Pulau Batek ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini berada di sebelah timur laut dari kota Kupang dengan koordinat 9° 15′ 30″ LS, 123° 59′ 30″ BT.

Pulau Batu Bawaikang

Pulau Batu Bawaikang adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan negara Filipina. Pulau Batu Bawaikang ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Pulau ini berada di sebelah utara dari Pulau Sangihe dengan koordinat 4° 44′46″ LU, 125° 29′24″ BT.

Pulau Berakit

Pulau Berakit atau Pulau Batu Berhanti adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di perbatasan Indonesia dengan Singapura, dan merupakan wilayah dari pemerintah kota Batam, provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berada di sebelah barat laut dari pulau Sambu (pangkalan minyak Pertamina di pulau Batam) yang dapat dilihat dalam jalur perjalanan ferry dari pelabuhan Batam Centre menuju pelabuhan HarborFront di Singapura. Letak koordinat dari pulau Batu Berhanti adalah 1°11′6″LU,103°52′57″BT.

Pulau Batu Goyang

Pulau Batu Goyang adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Aru dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau Batu Goyang ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah selatan dari Pulau Aru dengan koordinat 7° 57′ 1″ LS, 134° 11′ 38″ BT.

Pulau Batu Kecil

Pulau Batu Kecil adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Hindia dan berbatasan dengan negara India. Pulau Batu Kecil ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Tanggamus, provinsi Lampung. Pulau ini berada di sebelah utara dari Selat Sunda dengan koordinat 5° 53′ 45″ LS, 104° 26′ 26″ BT.

Pulau Batu Mandi

Pulau Batu Mandi adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Selat Melaka dan berbatasan dengan negara Malaysia. Pulau Batu Mandi ini merupakan bagian dari wilayah Provinsi Riau. Pulau ini berada di sebelah utara 52 mil laut dari kota Bagansiapiapi dengan koordinat 2° 53′ 11″ LU, 100° 34′ 36″ BT.

Pulau Batu Mandi merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Arwah yang terdiri dari sembilan pulau-pulau kecil. Pulau ini berupa batu hitam yang tidak terlalu tinggi yang diatasnya didirikan bangunan rumah untuk tempat berjaga. Kondisi perairan Pulau Batumandi juga termasuk jernih dengan ombak yang sedang. Hal ini karena angin yang bertiup kencang dari Barat tidak ada penghalang sampai ke pulau ini. Pulau Batu Mandi dan Pulau Jemur serta pulau di sekitarnya mempunyai pemandangan yang indah dan masih alami dengan pantai berpasir putih dan laut yang biru dan merupakan cagar satwa langka dan tempat penangkaran penyu.

Pulau Bepondi

Koordinat: 0°23′38″LS,135°16′27″BT Pulau Bepondi adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Pasifik dan berbatasan dengan negara Palau. Pulau Bepondi ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Biak Numfor, provinsi Papua. Pulau ini berada di sebelah utara dari pulau Biak dengan koordinat 0° 23′ 38″ LS, 135°16′ 27″ BT.

Tag : ,

Rangermerah, sebuah simbol dan kebanggaan

Sebelum salah paham, ranger merah disini bukan nama salah satu anggota power ranger. Rangermerah adalah nama yang dilekatkan pada baju lapangan khas milik mahasiswa pendidikan geografi UNY. Mengapa rangermerah? Ya, mengapa?

Yang pertama, kata ranger diambil dari bahasa Prancis yang berarti penjaga hutan atau bisa diartikan orang yang menjaga kelestarian lingkungan (tidak hanya hutan). Sedangkan merah adalah warna yang melambangkan sifat berani, tegas, kuat dan sikap bersemangat. Jadi apabila kata ranger dan merah keduanya digabungkan menjadi ranger merah, makna kata secara harfiah adalah penjaga atau pelestari lingkungan yang berani dan tegas.

Baju lapangan geografi UNY (ranger merah) pertama kali dibuat dan dipakai oleh mahasiswa angkatan 2009. Ide pembuatan baju lapangan ini menjadi trendsetter di Fakultas Ilmu Sosial UNY, yang kemudian mahasiswa jurusan atau prodi lainnya mulai mengikuti untuk membuat baju identitas sendiri.

Pada awalnya tujuan dibuat baju ranger merah ini adalah untuk memfasilitasi mahasiswa pendidikan geografi yang memang memiliki banyak kegiatan atau kuliah diluar kelas atau dilapangan. Sehingga apabila ada kuliah lapangan atau kegiatan dilapangan, mahasiswa geografi UNY sudah memiliki seragam atau identitas sendiri. Baju ranger merah ini wajib dipakai saat praktek lapangan geografi atau saat acara Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) dan saat Escarpment (pengenalan lapangan bagi mahasiswa baru).

Sebagai seragam dan identitas khusus mahasiswa pendidikan geografi UNY, ranger merah tentu menjadi kebanggaan dan simbol khusus yang membedakan dengan mahasiswa jurusan lainnya. Hal ini jelas terlihat saat ada acara kampus di Fakultas atau di tingkat Universitas, mahasiswa pendidikan geografi terlihat berbeda dan khas dengan baju ranger merahnya.

Ya, ranger merah, selain menimbulkan kebanggan bagi yang memakainya, juga memiliki arti tanggung jawab bagi pemakainya sebagai penjaga kelestarian lingkungan. Dan warna merah adalah lambang keberanian. Karena menjadi penjaga kelestarian lingkungan juga membutuhkan keberanian.

Terutama keberanian melawan diri sendiri, yang penuh ego dan penuh nafsu merusak.

Wisnu Putra Danarto

Staff JI HMPG 2012

Tag : ,

Sambutan Ibu Dr. Hastuti M.Si (Kajur Pend. Geografi UNY) di OSPEK Jurusan

AssalamualaikumWrWb

Dengan mengucap syukur Alhamdulilah kehadirat Allah SWT, saya menyampaikan SELAMAT dan BANGGA atas keberhasilan saudara- saudara menembus ujian masuk perguruan tinggi sehingga anda dapat diterima untuk menjadi mahasiswa baru di Jurusan Pendidikan Geografi, FIS, UNY Angkatan 2012. Bersama ini saya sampaikan Selamat Datang di kampus pendidikan UNY. UNY merupakan Universitas yang memiliki visi dan misi pada tahun 2025 menjadi universitas kependidikan kelas dunia berlandaskan ketaqwaan, kemandirian dan kecendekiaan. Untuk menyelenggarakan pendidikan guna menghasilkan manusia unggul yang mengutamakan ketaqwaan, kemandirian, dan kecendekiaan melalui kegiatan pendidikan dan penelitian maupun pengabdian pada masyarakat untuk menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan guna mendukung pembangunan daerah dan nasional, serta berkontribusi pada pemecahan masalah global, diperlukan kerja sama seluruh civitas akademika.

Rasa bangga dan terima kasih saya sampaikan kepada mahasiswa baru untuk bersama-sama secara sinergi dengan segenap civitas akademika memajukan pendidikan di Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta. Kami mohon selalu dukungan dan kerja sama dari kalian bersama untuk meraih sukses menjadi pendidik yang memiliki jiwa entrepreneur dan berkarakter. Akhirnya saya sampaikan terima kasih yang mendalam untuk selalu bersama-sama mewujudkan cita-cita bersama.

WassalamualaikumWrWb

Yogjakarta, 30 Juli 2012

Ketua Jurusan Pendidikan Geografi, FIS, UNY

Dr Hastuti, MSi

NIP 19620627 198702 2 001
Tag : ,

Just Some Earth Day (?)

Sudah menjadi tradisi jika setiap Hari Bumi, kita beramai-ramai mengucapkan “Selamat Hari Bumi”, menjadikannya status di jejaring sosial, atau sekadar ucapan simpati terhadap Sang Bumi yang kian renta. Bahkan, momen ini digunakan oleh beberapa perusahaan untuk merebut simpati masyarakat terhadap produknya dengan mengkampanyekan gerakan Go Green.

Setiap tahun, selalu berulang hal yang sama. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita sudah melakukan langkah nyata untuk bumi kita? Langkah konkrit, berkelanjutan, tidak sekedar berbasa-basi dalam berucap atau menulis tanpa aksi. Dan kenapa harus menunggu saat Hari Bumi?

Terkadang, pemberian hari khusus dalam satu tahun membuat kita terpaku hanya pada hari itu saja. Seolah dalam setahun itu kita sudah dijadwal untuk melakukan sesuatu sesuai tema. Hari Bumi, misalnya. Padahal, untuk menanam sebatang pohon, untuk berhemat listrik, tidak harus menunggu datangnya Hari Bumi. Apakah langkah nyata hanya akan kita lakukan setiap setahun sekali saja?

Hal itu menjadikan Hari Bumi sekedar sebuah hari dimana kita harus mengingat betapa penting untuk menjaga planet biru ini. Sekedar momen untuk mengkampanyekan gerakan cinta bumi. Hari dimana kita bersama-sama menanam pohon, namun tanpa diimbangi dengan pemantauan dan perawatan yang berkelanjutan. So, it’s just some earth day? Kenapa tidak kita ubah menjadi Everyday is Earth Day? Tidak sekedar mengubah hari, namun merubah keseluruhan pola kehidupan kita menjadi berwawasan lingkungan.

Teringat pula sebaris kata-kata tajam:

“lestarikan alam hanya celoteh belaka”

Penggalan lagu iwan fals di atas adalah kenyataan yang terjadi saat ini. Sebab, memang begitulah adanya. Hutan-hutan Kalimantan yang kian menipis jumlahnya, pembangunan tanpa diimbangi pembuatan drainase, polusi yang kian menyebar dimana-mana, pengelolaan sampah yang masih payah, semuanya adalah masalah klasik yang bergerak statis tanpa ada solusi yang konkrit. Kita semua tahu, pemerintah apalagi, bahkan Negara-negara lain pun turut menyaksikan. Namun, tetap saja begitu. Statis. Seolah itu memang sudah menjadi icon Negara kita. Masalah makro yang sudah biasa terjadi.

Secara mikro, tengoklah pembangunan di kawasan kampus kita tercinta. Jalan di depan Taman Pancasila dan FIP, semua di aspal. Padahal, sebelumnya ada tanah di setiap pinggir jalan untuk resapan air. Namun, kini tanah sudah berganti aspal. Ternyata, pembangunan itu hanya untuk menambah lahan parkir bagi mobil-mobil dosen dan karyawan. Kita beralih ke tempat lain, di jalan masuk menuju UNY, tepatnya sepanjang jalan di depan lapangan FIK ke utara sampai ke jalan di samping FE dan di depan FIS. Setiap hujan deras turun, bisa dipastikan jalan akan berubah menjadi “aliran sungai”. Banjir sudah tak dapat dihindari. Resapan air masih kurang diperhatikan ditambah jalanan berlubang yang membahayakan kendaraan. Sedangkan, pembangunan gedung-gedung rajin dilakukan. Tak malukah kita memiliki jalan seperti itu? Padahal, kampus kita berisi orang-orang yang terdidik. Seperti inikah cermin pembangunan bangsa kita? Dimana suara kita mengenai pembangunan yang meremehkan lingkungan ini?

Mahasiswa sebagai kelompok masyarakat kritis harusnya mampu melakukan hal yang lebih dari orang lain. Selain unggul dalam hal akademik, mahasiswa dituntut untuk melakukan aksi nyata. Selain berdemo, kita juga wajib melakukan hal yang lebih konkrit. Aksi nyata dimulai dari hal yang kecil, dari diri kita sendiri, dan mulai saat ini juga. Suarakan pula keacuhan pengelola universitas terhadap masalah lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan, berhemat dalam menggunakan listrik, mengurangi pemakaian plastik, hemat BBM, dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk merealisasikan langkah nyata kita. Bayangkan, jika setiap orang di dunia ini melakukan hal yang sama setiap hari. Kondisi bumi bisa saja lebih baik. Kita memang tak bisa menghindari kenyataan bahwa bumi kita semakin tua. Tapi, apakah kita juga akan membuatnya semakin rusak dan tak terjaga?

Rizky Oktaviani

Staff LITBANG HMPG 2012

Tag : ,

Geograf : Pemimpin Potensial

Era otonomi daerah benar-benar membawa dampak yang sangat berarti bagi tatanan pemerintahan. Di era otonomi daerah dan desentralisasi sekarang ini, sebagian besar kewenangan pemerintahan dilimpahkan kepada daerah. Pelimpahan kewenangan yang besar ini disertai dengan tanggung jawab yang besar pula. Dalam penjelasan UU No.22/1999 dinyatakan bahwa tanggung jawab yang dimaksud adalah berupa kewajiban daerah untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan.

Pengembangan daerah sekarang benar-benar menjadi wewenang pemerintah daerah dengan pengawasan dari pemerintah pusat. Dengan keadaan seperti ini, sebenarnya pemerintah daerah dapat dengan leluasa mengembangkan daerahnya sesuai dengan potensi dan karakteristik wilayah. Hanya saja kenyataan saat ini otonomi daerah belum dilaksanakan dengan baik. Banyak kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah yang tidak sesuai dengan potensi dan kondisi wilayah. Pemimipin saat ini seakan hanya mengejar popularitas dan kekayaan semata demi mengembalikan uang yang telah mereka habiskan untuk membiayai kampanye ketika mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah. Ujung-ujungnya mereka meringkuk dipenjara. Berita terakhir menyatakan bahwa sedikitnya 173 kepala daerah, mulai dari gubernur, bupati maupun walikota di Indonesia, telah menjadi tersangka dalam berbagai kasus korupsi. Mereka terjerat dalam 3.423 kasus. Apakah ini yang diharapkan dari adanya sistem otonomi daerah? Tentu bukan seperti ini.

Sejenak kita lupakan permasalahan kasus korupsi diatas mari kita runut sedikit akar masalah dari prespektif kapabilitas dan geopolitik. Secara kapabilitas moral mereka jelas tidak mampu dan secara geopolitik para pemimpin daerah tidak paham terhadap karakteristik geografis wilayah. Para pemimpin daerah yang tidak memiliki pemahaman mengenai karakteristik geografis wilayah menimbulkan kesalahan konsep pembangunan sehingga hal yang terjadi adalah kerusakan lingkungan.

Sebagai seorang pemimpin maka disamping memiliki pemahaman terhadap konsep otonomi juga harus memahami kondisi geografi wilayah yang dipimpinnya. Hal ini berkaitan dengan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengidentifikasi, menginventarisasi, memanfaatkan, dan mengevaluasi sumberdaya alam yang dimiliki agar dapat mendukung dan mensejahterakan rakyat setempat tanpa merusak dan menghabiskan sumberdaya yang ada. Pemimpin harus mengenal dengan baik karakteristik daerah yang dipimpinnya karena setiap daerah memiliki potensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut yang kemudian akan menjadi faktor terjadinya interaksi, interdependensi dan interellasi antar wilayah.

Beberapa poin karakter geografis wilayah yang perlu diperhatikan dalam konteks otonomi daerah yaitu masalah ketersediaan SDA. Setiap daerah tentu memiliki SDA yang berbeda baik secara kualitas maupun kuantitas. Pemanfaatan SDA di daerah harus memperhatikan keseimbangan antara faktor ekonomis dan ekologis. Perlu diperhatikan adanya upaya untuk melestarika keberadaan SDA tersebut agas kesejahteraan masyarakat dapat tercapai dan dapat di manfaatkan dalam waktu yang lama. Poin yang kedua adalah masalah SDM. SDM yang berkualitas diperlukan untuk megelola SDA. Peningkatan kualitas SDM perlu dilakukan secara sungguh-sungguh baik melalui pendidikan formal maupaun nonformal. Poin selanjutnya adalah penataan dan pengembangan DAS. DAS merupakan ekosistem yang kompleks dan luasannya dapat melebihi luas wilayah administratif kabupaten/kota. Perlakuan terhadap salah satu bagian DAS akan berpengaruh pada bagian lainnya.

Lalu siapakah yang layak menjadi seorang pemimpin, tentunya pemimpin tersebut mempunyai kapabilitas moral dan kepemimpinan yang baik dan harus memiliki kemampuan dan pengentahuan mengenai karakteristik geografis wilayahnya, dalam hal ini kita sebagai seorang geograf harus mau mengambil peran ini. Kita sudah mempunyai modal pengetahuan yang kita dapatkan dari bangku kuliah dan kapabilitas kepemimpinan dan berorganisasi melalui IMAHAGI. Kita calon pemimpin Potensial! Salam Visioner Indonesia!!


Thomas Dannar S

Kabid JI HMPG 2012

Tag : ,

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -