Popular Post

Archive for 2013

Ketua HMPG 2014

           Inilah Ketua HMPG untuk tahun 2014, setelah sebelumnya mampu mengungguli 2 pesaingnya yakni Ardans dan Akalili dalam pemilwa 2013. Deni "gembul" berkharisma, begitulah sebutan ketika masa kampanye bergulir sebelum mulai pemungutan suara pada 11 Desember 2013 kemarin. Dengan demikian Deni Rizki meneruskan tanggung jawab untuk menggerakkan HMPG (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi) menjadi jurusan yang mampu lebih baik lagi, setelah sebelumnya diatas naungan Jaya Hardika yang mempersembahkan piala sebagai Himpunan Mahasiswa terbaik se FIS 2013. Semoga Lebih baik lagi dan selalu membanggakan!!!
Tag : ,

Pengumuman Pemenang Sayembara Surat Untuk Rektor

Berikut ini akan kami umumkan hasil dari lomba menulis opini "sayembara surat untuk Rektor" dengan tema "Melalui Goresan Pena Untuk Tata Ruang Kampus yang Ideal dan Nyaman". Mulai dari peringkat 1 sampai dengan peringkat 10:

1. Edy Purwanto (Automatic Drainase Cleaning System”: Sebuah Terobosan Sistem Drainase Anti Banjir Dalam Mewujudkan Universitas Negeri Yogyakarta Sebagai Kampus Ideal)
2. Fahmi Nediyansyah (Gedung Parkir)
3. Ananda Mei P (Revitalisasi RTH)
4. Novita Sari (One Step Closer to be UNY Eco-Campus)
5. Trismiyati (RTH)
6. Gamarina Isti R (Antara Tak Mau Dan Tak Ada)
7. Murti Wandari (Parking Management Dengan Cctv Dan Sirine Sound Sebagia Upaya Mewujudakan Parkiran Universitas Negeri Yogyakrta Yang Rapi Dan Tertib)
8. Kholik (Pertahankan Ruang Terbuka Hijau Adalah Ciri Green Campus (UNY)
9. Husni Tamrin (Air Mancur Tanpa Energy Listrik Dengan System Hidrolik)
10. Riska Nurdina (Go clean go green with vertical growing!)

Penyerahan hadiah juara 1 dan 2, serta sertifikat 10 besar dilaksanakan pada Jumat, 13 Desember 2013 disekretariat HMPG UNY, Ormawa FIS UNY, jam 13.00 WIB.

Sekian, terima Kasih.

PENTAS - Drainase dalam kampus UNY

Rabu, 27 November 2013, telah dilaksanakan acara Peningkatan Kapasitas dari salah satu proker Kastrat HMPG, yang mana acara tersebut telah selesai sore tadi berlangsung di ruang Ki Hadjar Dewantara. Acara tersebut membahas tentang permasalahan Drainase yang menyebabkan terjadinya banjir di kampus UNY, sejumlah peserta acara tersebut aktif dalam pembahasan, dimana pembicara dari salah satu mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik UNY dan dari salah satu Mahasiswa Pendidikan Geografi.
Dalam diskusi tadi siang telah menghasilkan beberapa opini bahwa kampus UNY memiliki banyak ali namun kurang memaksimalkan potensi itu sehingga perlu adanya pengembangan sumber daya manusia untuk memperbaiki sistem drainase dilingkupn kampus. Harapannya mahasiswa saling berkoordinasi untuk lebih peduli lingkungan kampus, dan juga dapat dukungan penuh dar jajaran dosen dan seperangkatnya. Disamping itu pembangunan kampus harus memikrkan jangka panjang dan jangka pendek untuk mempertahankan RTH atau ruang terbuka hijau dan memperbanyak biopori. 

Testimoni untuk para calon ketua HMPG 2014



         Teman-teman setanah air geografi, sebentar lagi pesta rakyatnya warga Pendidkan Geografi FIS UNY akan segera digelar lho.. Tepatnya tanggal 11 Desember 2013 PEMILWA HMPG akan diselenggarakan. Sehubungan dengan dengan hal tersebut, sosok pemimpin seperti apa sih yang benar-benar di butuhkan oleh warga Pendidikan Geografi FIS UNY?? Mari kita lihat pendapat dari beberapa warga Pendidkan Goegrafi FIS UNY berikut…

“Pemimpin untuk HMPG itu harus punya integritas, ketua HMPG juga harus punya keteladanan untuk para anggotanya, serta seorang ketua HMPG itu harus mempunyai sebuah ketegasan” - Diana Prasastiawati (2013).

“Ketua HMPG haruslah seorang ketua yang tegas, tidak memihak, dalam arti ketua itu tidak membeda-bedakan anggotanya. Seorang ketua HMPG harus loyal, dan yang paling penting adalah dia harus bertaqwa” – Bentar Dwi Saputra Adi (2013).

“Ketua HMPG itu intinya bisa memipin para anggotanya dan dekat dengan anak-anak geografi, mudah akrab dengan mahasiswa yang lain, dan mempunyai kesabarab yang lebih dari yang lain, serta berani dalam mengambil resiko” – Ibnu Budi Prasetyo (2012). 

“Yang jelas, ketua HMPG itu bagaimana dia bisa menciptakn suasana geografi yang tanpa kesenjangan, karena semuanya itu sama, jangan sampai dibeda-bedakan. Dia juga harus punya kegiatan yang inovatif” – Edwin Sudrajat (2012).

“Seorang yang pantas untuk memimpin HMPG adalah seorang yang berani, bertanggung jawab, terbuka dengan para anggotanya, dan mau untuk bekerja keras” – Wahid Hasyim A A (2013).

“Ketua HIMA itu tidak neko-neko, dia ya apa adanya dia, tidak cari perhatian. Dia juga harus punya keteladanan untuk ditiru oleh para anggotanya, dia dapat menginspirasi orang banyak, tidak mudah terhasut oleh orang lain, dan yang paling utama dia itu sehat akal dan pikirannya” – Khomsun Subarkah (2013).

“Pertama, seorang ketua HMPG itu harus mengerti dirinya terlebih dahulu, setelah dia bisa mengerti dirinya, dia akan mampu mengerti orang lain. Setelah bisa mengerti orang lain maka dia akan mampu untuk memimpin, mampu mengkoordinasikan anggotanya untuk bekerja sesuai dengan bidangnya. Meskipun dia merupakan seorang ketua yang posisinya di atas, namun dia juga merupakan bagian dari anggota HMPG” – Nur Imam Syahrul Huda (2011).

“Ketua HMPG adalah seseorang yang bisa mengerti kondisi HMPG, bijaksanan dan dapat mengayomi anggotanya, peduli dengan keadaan sekitarnya, bertanggungjawab. Meskipun posisinya di atas, tetapi dia perlu terjun langsung dengan para anggotanya” Dian Dinta Herlambang (2011).

“Ketua HMPG itu adalah orang yang bisa diteladani, dia mampu memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum memimpin para anggotanya. Selain itu dia juga harus bisa bertanggung jawab atas diri sendiri terlebih dahulu. Misalnya ketika dengan tetap bisa menjaga nilai akademiknya meskipun banyak sekali hal yang harus di urus dalam organisasi. Khusus hubungannya dengan pendidikan geografi yang telah lama menanamkan rasa kekeluargaan yang kuat, ketua HMPG harus bisa mengayomi, bisa memunculkan rasa kekeluargaan antar mahasiswa pendidikan geografi, lebih merekatkan hubungan kekeluargaan yang telah lama terjalin di HMPG. Kemudian, kegiatan-kegiatan dalam pendidikan geografi kebanyakan adalah kegiatan di lapangan, jadi ketua HMPG itu haruslah gesit dan berani” – Anggoro Buwana Praja Murti (2011).

“Ketua HMPG haruslah ketua yang berangkat dari hati. Ketika keputusannya menjadi ketua itu datang dari hatinya, apa saja yang akan dia lakukan menjadi sesuatu yang mudah. Keinginannya menjadi ketua HMPG bukanlah karenan paksaan, dan dia memiliki keinginan untuk memajukan geografi” - Jaya Hardika (2011).

“Ketua HMPG adalah seorang ketua yang bisa mengayomi seluruh warga pendidikan geografi” – Gurnito (2010).

“Ketua HMPG itu adalah ketua yang menghormati dan menghargai kakak, adik, dan teman se angkaatannya, tidak sulit untuk ditemui, menjadi dirinya sendiri, mempunyai pandangan yang luas, berkinerja tinggi, serta mempunyai sebuah keberanian” - Rizky Dewantara (2010).

“pemimpin yang ideal untuk HMPG adalah orang yang berani menunjukan bahwa dirinya itu penting” – Sapta Suhardono (2010).

“Sosok pemimpin HMPG adalah sosok pemimpin yang harus bisa merangkul dari angkatan yang paling atas hingga angkatan yang paling bawah, mempunyai menegement organisasi yang baik, mampu menggerakan anggotanya dengan baik, dia adalah seorang yang bekerja keras, selalu mempunyai kemauan untuk menjadikan HMPG selalu eksis, mau belajar dari kesalahan. Ketua HMPG haruslah orang yang tidak keraas kepala tetapi juga tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain, dia mempuyai prinsip, mempunyai kemampuan melobi yang baik, dapat mengambil keputusan secara bijak, dan dia mempunyai mindset bahwa HMPG merupakan wakil dari seluruh mahaasiswa geografi, maka dari itu libatkanlah seluruh mahasisiwa pendidikan geografi dalam berb agai kegiatan” - Wahyu W (2009).

“Karakter ketua HMPG menurut saya adalah orang yang bisa melengkapi kekurangan ketua HMPG sebelunya. Yang paling penting ketua HMPG itu berbeda dengan ketua HIMA yang lain, jangan kaku, jangan tunduk dengan sebuah sebuah kelompok, dan selalu mendahulukan keluarganya” – Dimas (2008).

“Ketua HMPG adalah seorang ketua yang beriman” – Muhamad Arif Fauzi / Pak Taka (2008).

Nah itu dia berbagai pendapat mengenai sosok ketua HMPG dari beberapa warga Pendidikan Geografi FIS UNY. Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sosok pemimpin untuk HMPG adalah seseorang pemimpin yang berangkat dari hatinya, tanpa paksaan dan pamrih, bekerja keras untuk memajukan geografi, mempunyai tanggung jawab atas dirinya dan organisainya, dapat menjadi teladan bagi warga Pendidikan Geografi yang lain, mampu merangkul dari angkatan yang paling atas hingga yang paling bawah. Pemimpin HMPG adalah orang yang beriman dan bertaqwa.
Khusus hubungannya dengan Pendidikan Geografi FIS UNY, ketua HMPG harus bisa menamkan dan memperkuat rasa kekeluargaan yang telah lama tertanam dalam keluarga Pendidikan Geografi FIS UNY, dia haruslah sosok pemimpin yang dekat dengan seluruh mahasiswa Pendidikan Geografi, mudah akrab dengan meraka, tidak pernah membeda-bedakan, kareka kita adalah satu keluarga Mahasiswa Pendidikan Georafi FIS UNY. Selain itu hubungannya dengan berbagai kegiatan di dalam geografi yang banyak melakukan kegiatan di lapangan, pemimpin HMPG haruslah pemimpin yang cekatan dalam berbuat, tegas dalam mengambil keputusan, dan tentunya siap atas resiko dari keputusannya itu. 

Mari kita sukseskan PEMILWA HMPG untuk Geografi yang semakin maju  (PPO)
Tag : ,

Event Semarak Geografi 2013

          Sabtu, 12 Oktober 2013. Dengan mengucap syukur rangkaian acara Semarak Geografi 2013 telah selesai dan berjalan lancar, acara Semarak Geografi yang mengambil tema "Implementasi Kurikulum 2013 dalam pembelajaran Geografi" ini dimulai dari pkl. 08.00, diawali pembukaan di Ruang Ki Hadjar dibersamai oleh jajaran tinggi FIS dan dari jurusan Pendidikan Geografi. Dari masing masing lomba berjalan lancar dan para peserta telah mempersiapkan dengan baik sehingga dalam berkompetisi mereka terlihat bersungguh sungguh dan ingin menjadi yang terbaik. adapun tempat lomba diantaranya: NGC (National Geography Competition) babak penyisihan bertempat di Ruang kuliah, sedangkan babak final dilaksanakan di Ruang Ki Hadjar. Lomba Poster dilaksanakan di taman pancasila di tengah rimbunan pohon yang sejuk nan segar. Sedangkan LKTI bertempat di ruang kuliah g.109. Berikut para juara juara yang masuk dalam report HMPG malam ini.
NGC(National Geography Competition)
1.
NURUL AFIFAH MARWATIN
2.
DURROTUNAFISAH
3.
FITRIANA ULFA


Lomba Poster
1.
TATAG PRIHANTINI
SMAN 1 TEMANGGUNG
2.
CATUR RUDY ATMOKO
SMA MUH 2 YOGYAKARTA
3.
LUTFI MUJIBUDZIKRI
SMAN 1 WADASLINTANG





LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah)
1.
SMA IT Nurhidayah Sukoharjo
2.
SMA N 8 Purworejo
3.
SMA Muh 2 Yogyakarta





    Event tahunan Semarak Geografi ini telah berlangsung 3 kali, dan setiap tahunnya memiliki rangkaian acara yang lebih dan peningkatan dalam kualitas lomba yang disajikan. Untuk tahun selanjutnya berharap event semarak geografi akan terus berkibar dan meningkat untuk kegiatan akbar Pendidikan Geografi UNY tahunan, ujar Janu Muhammad dalam acara evaluasi sore tadi.




















UNTUK FOTO LEBIH BANYAK LAGI SILAHKAN KE SINI

Resensi Buku "Das Kapital" Untuk Pemula

Kata “komunisme” di Indonesia berkesan menakutkan. Pencitraan orde baru membuat ideologi antitesis dari kapitalis ini terkesan seperti aliran setan. Film G30 PKI setiap akhir september bertahun-tahun sudah cukup membuat rakyat takut dengan “naluri pembunuh” mereka. Akibat pencitraan ini, menuduh seorang sebagai “komunis” berarti praktis menunjukkan seseorang pantas dipenjara dan dikucilkan. Tidak terhitung lagi berapa orang korban yang menderita gara-gara penyematan itu; sebut saja ribuan masyarakat desa yang dibunuh pada era transisi soekarno-soeharto, sejarawan peneliti G30S PKI, dan tahanan politik lainnya yang menyuarakan hak-hak buruh.


Cermin ketakutan itu bahkan merembet hingga universitas. Institutsi yang harusnya menghargai tentang perkembangan ilmu ini terpaksa terperangkap dogma komunisme-fobia. Kita bisa dengan mudah menemukan di perpustakaan kampus misalnya buku “principle of economics” karangan Samuelson, buku-buku Milton Friedman tentang globalisasi, pengalaman Alan Greenspan menjadi gubernur bank sentral, namun tidak untuk Das Kapital Marx. Keadilan dan transparansi Ilmu hanya berlaku untuk paham “barat”. Berbeda dengan Jerman dan Jepang, pendidikan ekonomi mainstream Indonesia hanya sedikit bahkan tidak sama sekali menyentuh tentang ideologi yang pernah mengguncang dunia awal abad 20 ini.

Das Kapital untuk pemula cukup menyegarkan dunia literasi dikalangan akademis. Buku ini adalah adaptasi dari buku terbitan Oxford Press Inggris karangan David Smith dan Phil Evans yang akhirnya diterjemahkan oleh penerbit Insist Press Yogyakarta.  Berlabel “versi pemula”, materi didalamnya dikemas dengan sangat menarik; penjelasan tidak bertele-tele dan penuh dengan gambar.

Gambaran tentang ideologi Marx mulai dari sejarah kehidupan hingga pemikiran-pemikirannya tersampaikan dengan baik lewat ilustrasi kartun. Dalam penjelasan tentang konsep buruh dan upahmisalnya, digambarkan tentang sejarah buruh dari masa ke masa. Tiap masa mempunyai baju yang khas dan dialog yang khusus; Pekerja Feodal, Pekerja Budak, dan Pekerja Upah. Setiap tipe pekerja ditampilkan dengan kostum yang berbeda dan dialog khas untuk menjelaskan perbedaan sistem kerja dan upah masing-masing.

Humor satire dalam buku ini juga mampu menyegarkan pembaca dengan sindirannya yang menarik. Dalam bab akumulasi modal, Phil Evans mengilustrasikan dua paradigma dari pekerja dengan 2 gambar yang berbeda. Si pembuat ulah, yaitu gambar seorang pekerja biasa dengan beberapa keterangan anak panah seperti “Pembuat Ulah”, “berpikir”, “bisa baca”. Sementara di sampingnya terdapat gambar dengan label “Pekerja Ideal”, dilukiskan dengan gambar seekor lebah dengan keterangan anak panah “Nggak punya otak”, “antenna untuk menerima target produksi” dan “bahagia dengan diet sederhana”.

Terjemahan dari karya asli bahasa Inggris ke bahasa indonesia nampaknya menjadi satu kelemahan terbesar. Banyak humor satir yang maknanya tidak tersampaikan dengan baik dengan Bahasa Indonesia. Bahasa informal yang dipakai juga terlalu dalam beberapa dialog kartun. Karya terbitan Insist Press ini akan lebih baik bila disempurnakan lagi dan diterbitkan dengan versi yang baru, mengingat pasar Indonesia yang lebih kondusif dan potensial untuk pemasaran buku das kapital pada masa kini.


Sebagai pembaca yang belum pernah membaca karya asli das kapital sebelumnya, buku ini menjadi sebuah lompatan kuantum dalam pemahaman ide Karl Marx. Latar belakang marx sebagai kaum proletar melahirkan pandangan baru perspektif ekonomi tentang ide perlawanannya pada kapitalisme. Sudah waktunya kini bangsa Indonesia mulai melihat ilmu dengan jernih dan objektif dari berbagai sisi. Termasuk salah satunya untuk mempelajari karya yang melatar-belakangi revolusi pekerja di berbagai belahan dunia dan jeritan awal di awal Mei tentang pemenuhan hak buruh tertindas di seluruh dunia, Das Kapital.


Judul Buku           : Das Kapitas untuk Pemula
Penulis                 : David Smith dan Phil Evans
Penerbit               : Insist Press Yogyakarta
Terbit                   : VII, Mei 2005

Resensi Buku Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie

Menurut Harsja W Bachtiar, para mahasiswa merupakan suatu golongan yang boleh dikatakan baru di Indonesia pada waktu Soe Hok Gie ada. Tetapi dalam sejarah perkembangannya yang masih amat singkat, banyak sekali yang telah terjadi sebagai akibat kegiatan atau tindakan-tindakan mereka. Banyak dari mahasiswa dari pemuda-pemudi Indonesia (yang menjadi mahasiswa di lembaga-lembaga pendidikan tinggi) ini ikut serta menjalankan peranan penting dalam gerakan politik yang akhirnya menyebabkan kehancuran struktur masyarakat jajahan.

Para mahasiswa dan pemuda inilah yang pertama-tama bertekad untuk mempersatukan seluruh penduduk pribumi di kepulauan kita ini sebagai satu bangsa, Bangsa Indonesia., yang bertanah air satu, Kepulauan Indonesia dan yang berbahasa satu Bahasa Indonesia. Sejarah kemudian memperlihatkan bahwa tindakan pemuda-pemudi ini sangat berarti dan amat banyak pengaruhnya pada perkembangan masyarakat Indonesia.

Meskipun para mahasiswa merupakan golongan yang amat penting, golongan pada pertengahan tahun 1960-an ikut menjalankan peranan yang amat besar dalam meruntuhkan Orde Lama yang dipimpin Presiden Soekarno dan membangun Orde Baru yang dalam masyarakat kita yang dipimpin oleh Presiden Soeharto, namun dalam keberjalanan pemerintahan Soeharto, pemuda-pemudi Indonesia harus bersatu padu lagi, menelanjangi dan membongkar kebusukan-kebusukan era Soeharto sehingga beliau harus turun dari pemerintahan.

Di antara para mahasiswa ini terdapat pemuda Soe Hok GieIa adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan bercita-cita besar tak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk kepentingan orang banyak terutama kaum terpinggirkan. Ia rajin mencatat apa yang dialaminya, apa yang dipikirkannya. Dengan perantaraan catatan-catatan hariannya, kita dapat memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan dan tindakan para mahasiswa dengan berbagai permasalahan yang dihadapi mereka. Dengan berbagai pertimbangan, buku hariannya itu kemudian diterbitkan dengan judul 

Catatan Seorang Demonstran, pada Mei 1983.
Di zaman Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Sepanjang 1966-1969, Gie berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Uniknya ia tak pernah menjadi anggota KAMI, organisasi yang menjadi lokomotif politik angkatan 66. Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan.

Kritiknya pada Orde Lama dan Presiden Soekarno digelar terbuka lewat diskusi maupun tulisan di media massa. Ketika pemerintahan Soekarno ditumbangkan gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie tidak lantas mau mendukung pemerintahan Orde Baru. Gie memilih menyepi ke puncak-puncak gunung bersama teman-temannya.

Buku Catatan Seorang Demonstran terdiri dari beberapa bagian yaitu :

Kata pengantar dan bagian I
menceritakan pandangan orang lain tentang diri Soe Hok Gie (untuk selanjutnya disingkat SHG), seperti Harsja W Bachtiar (Dekan Fakultas Sastra UI semasa SHG menjadi mahasiswa), Arief Budiman (abang kandung SHG) dan tulisan Daniel Dhakidae yang mengenal SHG lewat karya-karyanya.  Di bagian ini, Arief Budiman menceritakan pembicaraan dia dengan adiknya Gie, sebelum Gie meninggal : “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan semakin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan, Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.

Seorang teman dari Amerika menjawab keluhannya, “Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, selalu. Mula-mula kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka : sendirian, kesepian, dan penderitaan.

Di tengah-tengah pertentangan politik agama, kepentingan golongan, ia tegak berdiri di atas prinsip perikemanusiaan dan keadilan dan secara jujur dan berani menyampaikan kritik-kritik atas dasar prinsip-prinsip itu demi kemajuan bangsa. Karena itu kami mendukung dan akan meneruskan cita-cita dan ide-idenya”  ujar Harsya W. Bachtiar

Bagian II
merupakan catatan harian Gie sendiri mulai dari 4 Maret 957 hingga 8 Desember 1969. Catatan ini dibagi menjadi enam episode, yaitu Masa Kecil, Di ambang remaja, dan lahirnya seorang aktivis merupakan latar belakang kejiwaan Soe Hok Gie

Bagian III
dimulai dari 24 Februari 1968 meliputi perjalanan ke Amerika, politik pesta dan cinta, serta akhirnya mencari makna merupakan catatan pengalaman sehari-hari yang melukiskan peristiwa, pendapat, gejolak perasaan dalam lika-liku hidupnya sebagai seorang pemuda yang tak lepas dari kegembiraan,kesedihan,benci, cinta dan kecewa.

Catatan Seorang Demonstran, 
sebuah buku tentang pergolakan pemikiran seorang pemuda, Soe Hok Gie. Dengan detail menunjukkan luasnya minat Gie, mulai dari persoalan sosial politik Indonesia modern, hingga masalah kecil hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Gie adalah seorang anak muda yang dengan setia mencatat perbincangan terbuka dengan dirinya sendiri, membawa kita pada berbagai kontradiksi dalam dirinya, dengan kekuatan bahasa yang mirip dengan saat membaca karya sastra Mochtar Lubis.

Dia banyak menulis kritik yang keras di media massa seperti koran, bahkan kadang dengan menyebut personal (tidak menyamarkan nama). Dia pernah mendapat surat kaleng yang memaki-maki dia “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Gie bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.


Apa yang ditulisnya (baik atau tidak, benar atau salah) adalah apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan oleh seorang pemuda, seorang terpelajar yang mencoba bertindak adil dalam pemikiran maupun perbuatan. Jika ingin memperoleh pengetahuan, gambaran, kesan-kesan mengenai kehidupan para pemuda atau para mahasiswa Indonesia, catatan Soe Hok Gie merupakan perwujudan kenyataan dari kehidupan sebagian dari mereka. Gie adalah sebuah potret pemuda Indonesia pada sebuah masa yang berani mengambil sikap. 

Kecaman yang dilontarkan Gie dilancarkan atas pemikiran yang jujur, atas dasar itikad baik. Ia tidak selalu benar, tapi selalu jujur.Terlepas dari sisi kontroversialnya yang terlalu banyak mengkritik, tapi enggan untuk bergabung dalam sistem, ada hal yang patut diapresiasi dan diperjuangkan di masa kini dan nanti. Agar apa yang diperjuangkannya dahulu, tidak sia-sia.



Judul Buku           :  Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran
Penyunting           :  Ismid Hadad, Fuad Hashem, Aswab Mahasin, Ismet Nasir dan Daniel Dhakidae
Penerbit                :  Pustaka LP3ES Indonesia
Terbit                    :  VII, Mei 2005

Tebal                    :  xx+385 halaman   

Resensi Buku Zaman Peralihan



"Yang paling menyedihkan saya dewasa ini adalah bahwa banyak mahasiswa-mahasiswa (baca: pemimpin mahasiswa) Indonesia yang mengingkari hakikat kemahasiswaan dan kepemudaaannya. Yang tumbuh dalam kampus adalah suasana kepicikan dan kemunafikan. Mahasiswa berlomba-lomba untuk menjadi suci, dengan tidak pada tempatnya. Bagi saya baiklah kita mengakui hakikat seorang manusia muda, bahwa dalam masa mahasiswanya perlu bergaul secara bebas. Dalam masa ini mereka membentuk kepribadiannya, mengenal orang lain, dan dari pergaulan ini akan tumbuh manusia-manusia yang wajar." (hal 120-121)

Dalam buku Zaman Peralihan ini terdapat kumpulan tulisan Gie lainnya yang pernah dimuat di berbagai media cetak tanah air. Membaca buku ini akan mengantarkan pada sebuah realitas Indonesia pada masa transisi dari orde lama ke awal orde baru, dan tuentunya banyak terjadi transisi politik, moral, dan kebudayaan. 

Dibutuhkan kecermatan dan pemahaman sejarah dimana tulisan yang terdapat didalam buku zaman Peralihan” ini ditulis, agar kita benar-benar bisa menangkap maksud dari tulisan-tulisan Gie dalam buku ini. Yang paling menarik dari tulisan-tulisan Gie yakni kapasitas atau statusnya sebagai seorang mahasiswa dalam menangkap berbagai isu dan permasalahan sosial-politik yang ada disekitarnya. Sebagai intelektual yang selalu resah melihat kondisi bangsa, Gie mencoba melemparkan pandangan-pandangannya mengenai dunia kemahasiswaan, kebangsaan, persoalan kemanusiaan dan catatannya sebagai turis pelajar ke Amerika Serikat sebagai tokoh Mahasiswa Indonesia.

Memang dalam tulisan-tulisannya terdapat kesan Gie berharap banyak kepada pemerintahan orde baru. Hal tersebut dapat dimaklumi karena pada saat tulisan itu dibuat Soeharto baru saja berkuasa setelah menjatuhkan Soekarno yang dianggap diktator dan korup. Namun hal tersebut tidak membuat Gie menjadi ‘jinak’, karena sebagai pihak yang selalu netral ia tetap melakukan berbagai kritik terhadap orde baru.

Dalam salah satu tulisannya Gie bahkan menuturkan kekecewaannya terhadap pemerintahan orde baru yang tidak berbeda jauh dengan orde lama, hanya ganti aktor saja. Lepas dari semua kelebihan dan kekurangannya, makna besar yang terkandung dalam buku ini adalah sebuah penyadaran akan posisi kaum intelektual muda kita khususnya mahasiswa agar turut berperan aktif dalam permasalahan kemanusiaan dan bangsa dengan tetap memegang hakikat dari mahasiswa yaitu menuntut ilmu serta hakikat sebagai manusia biasa yaitu dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan itu sendiri.

Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh penting yang memiliki andil penting dalam peristiwa jatuhnya rezim Soekarno ke tangan Rezim Soeharto atau yang sering dikenal Orde Baru. Sebagai seorang aktifis mahasiswa, Gie tahu akan ketidaksehatan dalam dunia kemahasiswaan, terutama didalam kampusnya sendiri. Karya-karyanya berupa tulisan memiliki banayak pengaruh akan semangat para mahasiswa didalam mengatasi isu-isu yang berkembang, namun tidak semua sahabatnya sejalan dengan pikirannya.

Hal tersebut dikarenakan Soe Hok Gie atau yang akrab Gie memiliki prinsip untuk tidak bekerja sama dengan partai politik, karena pada waktu itu banyak golongan atau partai-partai politik yang ingin bekerjasama dengannya. Meskipun tawaran tersebut datang dari teman-temannya dengan iming-iming yang menggiurkan, hal tersebut terjadi karena dari partai politik telah mempengaruhi  temannya.

Tulisan-tulisan dalam buku Zaman Peralihan ini sangat tajam dan menggigit, dan seringkali sinis. Suatu kesinisan yang wajar yang sekaligus menjadi penanda konsistensi sikap Gie pada kemanusian dan idealismenya sebagai intelektual. Maka terasa wajar bila membaca catatan Soe Hok Gie dalam zaman peralihan ini rasa kemanusiaanya seperti dirobek-robek. Melalui tulisannya kita bisa melihat bahwa Gie adalah intelektual muda yang mampu menangkap gejala sosial yang terjadi disekitarnya


Buku ini masih menyimpan banyak mutiara yang tak mungkin disebutkan satu persatu disini tentunya juga sangat bermanfaat dalam menambah wawasan bagi para membacanya Selebihnya buku ini layak untuk menjadi bacaan bagi mahasiswa atau mahasiswi guna menambah wawasannya. Karena kehadiran buku ini bisa memberikam arti kepada kita bahwa konteks sejarah meski berbeda namun perbedaan tersebut hanyalah terdapat di tahun dan tokohnya.

Hal tersebut menjadikan buku ini menarik untuk dibaca dan masih relevan dengan keadaan sekarang yang ada di zaman ini, seperti halnya ungkapan filsuf George Santayana, bahwa orang yang tidak belajar dari sejarahnya cenderung akan mengulangi kesalahan yang sama. Berharap dengan belajar melalui membaca tulisan yang mempunyai arti sejarah, kita bisa memperbaiki kualitas diri kita atau bahkan bangsa kita yang tak lain bisa kita dapatkan melalui buku “Zaman Peralihan”.

cover buku Zaman Peralihan

Proyek Mobil Murah (yang katanya) Untuk "Rakyat"

Belakangan ini perhatian kita dipaksa untuk menyimak satu berita yang memang sedang ramai dibahas diberbagai media massa, yaitu proyek mobil murah yang kini sedang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Proyek ini sudah hampir selesai dan tinggal menunggu pemasarannya saja. Dengan menggandeng beberapa pabrikan mobil yang sudah tidak asing lagi di Indonesia seperti Honda, Suzuki, Daihatsu, dan Datsun.

Nama proyek ini adalah Low Cost Green Car atau biasa disingkat menjadi LCGC. Sebuah proyek pengadaan mobil ramah lingkungan yang diproyeksikan memiliki harga terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Banyak terdengar tujuan dan motif dari pemerintah yang sudah berulang kali dipublikasikan dalam peluncuran proyek yang sudah didilindungi keberadaannya oleh Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2013 ini, yang paling banyak diungkapkan adalah proyek LCGC ini bertujuan untuk menjadikannya sebagai proyek percontohan bagi industri otomotif kedepannya, selain itu juga untuk memberikan pilihan bagi maasyarakat yang ingin memiliki kendaraan pribadi namun terkendala masalah finansial.

Setiap kebijakan, keputusan, maupun proyek yang dibuat pemerintah tentu sudah melalui berbagai prosedur yang panjang, melalui banyak uji kelayakan, juga dengan banyak pembahasan. Namun, khususnya didalam proyek LCGC ini tampaknya ada banyak kejanggalan maupun kontradiksi yang tersirat. Satu hal yang paling sering diperbincangkan: proyek ini akan membuat kota-kota besar yang memiliki masalah transportasi semakin kesulitan dengan semakin banyaknya mobil yang ada dijalanan. Hal inilah yang menjadi alasan Jokowi (gubernur DKI) untuk dengan tegas menolak proyek LCGC masuk ke Jakarta.

Memang apabila kita perhatikan secara teliti, proyek mobil murah ini terasa aneh sekali. Ditengah semangat dan upaya dari banyak kalangan untuk meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor (khususnya mobil pribadi) dan menggiatkan kembali transportasi massal. Lagipula slogan-slogan yang selama ini didengung-dengungkan tentang LCGC yang mengatakan mobil ini mobil murah dan ramah lingkungan juga tidak sepenuhnya bisa diterima. Benarkah ini mobil murah? Ramah lingkungan pula?

Mari kita bahas lebih lanjut..

Pemerintah telah menerbitkan PP Nomor 41/2013 tentang Barang Kena Pajak Tergolong Mewah pada Mei 2013. Pasal 3 ayat 1(c) PP tersebut menyatakan untuk mobil hemat energi dan harga terjangkau, Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak sebesar 0 persen dari harga jual. Pajak 0 persen tersebut untuk motor bahan bakar cetus api dengan kapasitas silinder 1.200 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar setaranya. PP No.41/2013 telah dilengkapi dengan Permen Perindustrian No. 33/M-IND/2013 tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau pada 1 Juli 2013.

Disebutkan juga penerbitan Permenperin Nomor 33/2013 dimaksudkan untuk terus mendorong dan mengembangkan kemandirian industri otomotif nasional, khususnya industri komponen kendaraan bermotor roda 4 agar mampu berdaya saing, seiring dengan peningkatan permintaan kendaraan bermotor yang hemat energi dan harga terjangkau. Produksi LCGC merupakan program pengembangan produksi kendaraan bermotor dengan pemberian keringanan PPnBM.

Permenperin juga menyatakan industri otomotif yang ingin memproduksi mobil LCGC harus memenuhi berbagai ketentuan mengenai motor bakar kapasitas isi silinder 980-1200 cc dengan konsumsi BBM paling sedikit 20 km/liter  dan untuk motor bakar nyala kompresi (diesel) kapasitas isi silinder sampai dengan 1500 cc dengan konsumsi BBM paling sedikit 20 km/liter. Juga diatur ketentuan penggunaan tambahan merek, model, dan logo yang mencerminkan Indonesia.

Permenperin juga mengatur harga jual LCGC paling tinggi Rp 95 juta berdasarkan lokasi kantor pusat Agen Pemegang Merek. Mengenai besaran harga disebutkan, dapat disesuaikan apabila terjadi perubahan pada kondisi atau indikator ekonomi yang meliputi besaran inflasi, kurs nilai tukar Rupiah dan/atau harga bahan baku. Untuk penyesuaian harga berdasarkan penggunaan teknologi transmisi otomatis maksimum sebesar 15%, sedangkan untuk penggunaan teknologi pengaman penumpang maksimum sebesar 10%”.

Hal-hal diatas ini sudah diramaikan dengan berbagai pendapat dan kampanye oleh sejumlah menteri, seperti Menko Perekonomian, Menperin, dll. Mereka mengatakan tujuan program LCGC berupa masuknya investasi besar,  terciptanya tambahan lapangan kerja, munculnya ribuan bisnis turunan dan terciptanya mobil murah yang ramah lingkungan. Menperin pun menambahkan LCGC digulirkan guna meningkat volume ekspor dan menghadapi dibukanya perdagangan bebas antar negara ASEAN (AEC).

Selain itu,  menteri-menteri pendukung kebijakan ini juga mengatakan bahwa LCGC akan lebih banyak dipasarkan di luar Jabodetabek, LCGC didesian hanya untuk menggunakan pertamax/aRON-92 sebagai  BBM-nya, LCGC akan mengurangi penggunaan BBM bersubsidi, sehingga menghemat anggaran subsidi APBN.

Jadi jelas sudah, pemerintah melakukan segala cara untuk mendukung kebijakan ini.. tapi..


Soal harga “murah”
Pemerintah mengatakan bahwa LCGC merupakan produk murah. Padahal murahnya LCGC disebabkan oleh dihilangkannya PPnBM. Artinya pemerintah memberi subsidi kepada LCGC agar harganya murah. Dari sini sudah jelas, murah yang dimaksud disini memang sengaja dibuat murah oleh pemerintah, dalam arti biaya produksi dan lainnya masih sama dengan mobil yang bukan LCGC.

Soal “mobil ramah lingkungan”
Dalam hal pedikat ramah lingkungan, bukannya tadi diakui BBM yang digunakan adalah pertamax/RON-92, dan LCGC bukan mobil hybrid? Jika demikian, apa dasar pemerintah menyebut LCGC mobil ramah lingkungan? 

Alasan untuk menghadapi AEC
Menperin menyatakan LCGC digulirkan untuk menghadapi perdagangan bebas Asean (AEC) pada 2015. Padahal, pasar otomotif dunia saat ini sudah dikuasai Jepang. Jika LCGC berkembang, berarti yang paling mendapat untung adalah Jepang, karena hampir semua produsen LCGC berasal dari Jepang. Mayoritas komponen LCGC berasal dari impor, yang akan menambah beban devisa negara. Berarti Indonesia akan lebih banyak “menonton” dibanding ikut berperan dalam iklim pasar bebas AEC tersebut.

Pemasaran produk ke daerah-daerah diluar JABODETABEK
Dinyatakan LCGC akan lebih banyak dipasarkan di luar Jabodetabek.  Pernyataan ini muncul setelah penolakan Jokowi, dan jelas pernyataan ini bersifat reaktif, bukan konseptual. Artinya, pemerintah memang sejak awal tidak berencana memasarkan LCGC hanya di luar Jabodetabek, karena tujuannya lebih pada kepentingan bisnis. Hanya karena dipertanyakan Jokowi lah pemasaran luar Jabodetabek muncul. 

Katanya “Untuk Ekspor”
Menperin juga mengatakan LCGC akan lebih banyak diproduksi untuk ekspor. Padahal dilihat dari berbagai kebijakan (Keputusan Presiden, Peraturan Menteri, dan lainnya) produksi LCGC justru mengarah ke kebutuhan domestik. Lagipula kalaupun untuk tujuan ekspor, LCGC bukan produk dalam negeri dalam artian pabrikan yang terlibat semuanya berasal dari luar negeri. Kalaupun benar-benar akan meng-ekspor LCGC (yang notabene produk luar), bukankah ini lucu sekali?..

Penggunaan BBM
Dikatakan penggunaan pertamax/RON-92 oleh LCGC akan menurunkan konsumsi BBM bersubsidi. Padahal tidak ada jaminan pemilik LCGC hanya akan mengkonsumsi RON-92. Dikhawatirkan desain LCGC yang hanya menggunakan pertamax hanya kamuflase. Pemerintah pun terbukti gagal membatasi mobil mewah menggunakan BBM bersubsidi. Selain itu, meskipun konsumsi BBM LCGC cukup irit, sekitar 20 km/liter, namun jika populasi kendaraanya tinggi, maka total konsumsi BBM Indonesia per tahun akan terus tumbuh.

Dari uraian, alasan, dan penjelasan pemerintah seputar program LCGC diatas sebagian besar terbantahkan dan tidak menemukan pembenaran yang benar-benar mendalam. LCGC juga sangat anti harmonis dengan semangat Go Green yang selama ini kita banggakan. Disaat sebagian besar masyarakat mulai sadar akan pentingnya hidup ramah lingkungan, disaat yang sama pemerintah merusaknya.

Lagipula, daripada mobil murah, RAKYAT Indonesia lebih membutuhkan beras murah, kedelai murah, cabe murah, jagung murah, dan kebutuhan pokok dengan harga murah lainnya, yang tidak diimpor dari negara yang lahan pertaniannya lebih kecil dari Indonesia.

sumber:
satunegeri.com/lcgc-dan-kemandirian
opini.co.id/web/article/6952/Karena-LCGC-Semua-Bicara


opini oleh: Wisnu Putra Danarto
Mahasiswa Pendidikan Geografi 2011
Tag : ,

GEOMAGZ EDISI KEDUA TAHUN 2013

Telah terbit, GEOMAGZ (geografi magazine) edisi kedua tahun 2013. Diterbitkan oleh bidang Media dan Jaringan HMPG bekerjasama dengan panitia OSPEK Jurusan Pendidikan Geografi 2013. Edisi kedua kali ini adalah edisi khusus buku panduan OSPEK. Karena memang penerbitannya bertepatan dengan OSPEK UNY.

Di OSPEK tahun ini sendiri kami mengambil tema "Rasa cinta dan peduli terhadap lingkungan dalam proses pembangunan berkelanjutan  sebagai karakter mahasiswa Pendidikan Geografi" dengan tema kecil sekaligus jargon "bersatu melindungi bumi". Maka dari itu, isi dan materi yang ada didalam GEOMAGZ kali ini juga tidak jauh dari tema-tema tersebut.

cover GEOMAGZ EDISI II

GEOMAGZ edisi ini resmi terbit pada tanggal 22 Agustus 2013 atau bertepatan dengan pelaksanaan OSPEK jurusan. Namun, edisi elektronik yang ada saat ini baru bisa diunggah hari ini Jumat, 13 September 2013. Tentunya tidak ada alasan yang tepat untuk hal ini, maka dari itu kami hanya bisa memohon maaf atas tertundanya pengunggahan GEOMAGZ II ini. 

Kepada segenap redaksi dan seluruh pengurus HMPG yang sudah berkenan membantu segala yang dibutuhkan hingga GEOMAGZ EDISI KEDUA TAHUN 2013 ini bisa terbit. Terima kasih atas partisipasi, kontribusi, dan dukungan nyata untuk penerbitan GEOMAGZ ini. Terima kasih..

Kepada semua pembaca dan yang akan membaca, semoga berkenan untuk mengapresiasi satu karya yang sudah kami usahakan ini. Dan yang terakhir, semoga bermanfaat!!..

Silakan dilihat dan diunduh di sini

Pelatihan Arcview di SMA Muha 2 Yogyakarta

   Jumat, 13 September 2013 tadi siang, tepatnya pukul 13.00 WIB. HMPG Telah menyelenggarakan pelatihan Arc View untuk SMA yang berlangsung di SMA Muh 2 Yogyakarta. Acara ini merupakan salah satu program kerja yang dimiliki bidang Media dan Jaringan HMPG. Bekerja sama dengan tim KKN PPL UNY 2013 yang ada di SMA Muh 2 Yk, acara dimulai pukul 13.00 dengan menghadirkan tiga asisten dosen Kartografi dasar yang dua diantaranya sudah bergelar S. Pd (sudah lulus) yaitu Rumi Chusnandari, Taufik Hermawan, S.Pd, dan Wahyu Widiyatmoko, S.Pd. Peserta berjumlah sekitar 11 orang yang merupakan siswa dari beberapa kelas dari kelas X, namun jumlah peserta yang tidak banyak ini justru menjadikan pelatihan ini tampak lebih intensif meski tidak sampai menyelesaikan materi utamanya.











photo by H.R

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -