Resensi Buku "Das Kapital" Untuk Pemula

Kata “komunisme” di Indonesia berkesan menakutkan. Pencitraan orde baru membuat ideologi antitesis dari kapitalis ini terkesan seperti aliran setan. Film G30 PKI setiap akhir september bertahun-tahun sudah cukup membuat rakyat takut dengan “naluri pembunuh” mereka. Akibat pencitraan ini, menuduh seorang sebagai “komunis” berarti praktis menunjukkan seseorang pantas dipenjara dan dikucilkan. Tidak terhitung lagi berapa orang korban yang menderita gara-gara penyematan itu; sebut saja ribuan masyarakat desa yang dibunuh pada era transisi soekarno-soeharto, sejarawan peneliti G30S PKI, dan tahanan politik lainnya yang menyuarakan hak-hak buruh.


Cermin ketakutan itu bahkan merembet hingga universitas. Institutsi yang harusnya menghargai tentang perkembangan ilmu ini terpaksa terperangkap dogma komunisme-fobia. Kita bisa dengan mudah menemukan di perpustakaan kampus misalnya buku “principle of economics” karangan Samuelson, buku-buku Milton Friedman tentang globalisasi, pengalaman Alan Greenspan menjadi gubernur bank sentral, namun tidak untuk Das Kapital Marx. Keadilan dan transparansi Ilmu hanya berlaku untuk paham “barat”. Berbeda dengan Jerman dan Jepang, pendidikan ekonomi mainstream Indonesia hanya sedikit bahkan tidak sama sekali menyentuh tentang ideologi yang pernah mengguncang dunia awal abad 20 ini.

Das Kapital untuk pemula cukup menyegarkan dunia literasi dikalangan akademis. Buku ini adalah adaptasi dari buku terbitan Oxford Press Inggris karangan David Smith dan Phil Evans yang akhirnya diterjemahkan oleh penerbit Insist Press Yogyakarta.  Berlabel “versi pemula”, materi didalamnya dikemas dengan sangat menarik; penjelasan tidak bertele-tele dan penuh dengan gambar.

Gambaran tentang ideologi Marx mulai dari sejarah kehidupan hingga pemikiran-pemikirannya tersampaikan dengan baik lewat ilustrasi kartun. Dalam penjelasan tentang konsep buruh dan upahmisalnya, digambarkan tentang sejarah buruh dari masa ke masa. Tiap masa mempunyai baju yang khas dan dialog yang khusus; Pekerja Feodal, Pekerja Budak, dan Pekerja Upah. Setiap tipe pekerja ditampilkan dengan kostum yang berbeda dan dialog khas untuk menjelaskan perbedaan sistem kerja dan upah masing-masing.

Humor satire dalam buku ini juga mampu menyegarkan pembaca dengan sindirannya yang menarik. Dalam bab akumulasi modal, Phil Evans mengilustrasikan dua paradigma dari pekerja dengan 2 gambar yang berbeda. Si pembuat ulah, yaitu gambar seorang pekerja biasa dengan beberapa keterangan anak panah seperti “Pembuat Ulah”, “berpikir”, “bisa baca”. Sementara di sampingnya terdapat gambar dengan label “Pekerja Ideal”, dilukiskan dengan gambar seekor lebah dengan keterangan anak panah “Nggak punya otak”, “antenna untuk menerima target produksi” dan “bahagia dengan diet sederhana”.

Terjemahan dari karya asli bahasa Inggris ke bahasa indonesia nampaknya menjadi satu kelemahan terbesar. Banyak humor satir yang maknanya tidak tersampaikan dengan baik dengan Bahasa Indonesia. Bahasa informal yang dipakai juga terlalu dalam beberapa dialog kartun. Karya terbitan Insist Press ini akan lebih baik bila disempurnakan lagi dan diterbitkan dengan versi yang baru, mengingat pasar Indonesia yang lebih kondusif dan potensial untuk pemasaran buku das kapital pada masa kini.


Sebagai pembaca yang belum pernah membaca karya asli das kapital sebelumnya, buku ini menjadi sebuah lompatan kuantum dalam pemahaman ide Karl Marx. Latar belakang marx sebagai kaum proletar melahirkan pandangan baru perspektif ekonomi tentang ide perlawanannya pada kapitalisme. Sudah waktunya kini bangsa Indonesia mulai melihat ilmu dengan jernih dan objektif dari berbagai sisi. Termasuk salah satunya untuk mempelajari karya yang melatar-belakangi revolusi pekerja di berbagai belahan dunia dan jeritan awal di awal Mei tentang pemenuhan hak buruh tertindas di seluruh dunia, Das Kapital.


Judul Buku           : Das Kapitas untuk Pemula
Penulis                 : David Smith dan Phil Evans
Penerbit               : Insist Press Yogyakarta
Terbit                   : VII, Mei 2005

No comments:

Powered by Blogger.