Popular Post

Archive for January 2013

REVITALISASI IDEOLOGI KEPAHLAWANAN


Hari Pahlawan merupakan hari bersejarah bagi Indonesia. Hari pahlawan jatuh pada setiap tanggal 10 November yang tentunya kita semua tahu, namun bukan hal aneh jika kita kadang tidak tahu arti dari kepahlawanan sendiri. Kita hanya tahu bahwa hari itu adalah hari pahlawan, selanjutnya kita tidak pernah mau memahami arti dari kepahlawanan itu sendiri. Sungguh ironis kalau kita sebagai bangsa Indonesia tidak mau mengerti dan memahami arti dan makna dari kepahlawanan.

Memang terlihat berbagai koran-koran nasional maupun lokal dihiasi berbagai tulisan dan opini bertemakan hari pahlawan tersebut. Beragam paradigma dan pendapat mengenai pahlawan bermunculan seolah turut memeriahkan hari peringatan tersebut.

Thomas Carlyle memaparkan berbagai jenis-jenis pahlawan. Bagi Carlyle pahlawan di posisikan sebagai sumber dari segala perubahan. Pahlawan adalah manusia besar yang mengubah sejarah umat manusia. Menurut dia yang menganut the great man theory, Muhammad adalah sosok pahlawan. Demikian juga Karl Marx, Ernesto “Che” Guevara di Amerika Latin,dan Kemal attaturk di Turki, maupun Mao Zedong di Cina.
Seperti itulah persepsi dari Thomas Carlyle. Namun bagaimanakah dengan persepsi kita sendiri ? Dalam Persepsi masyarakat pada umumnya, pahlawan merupakan orang yang telah berjasa dalam mempertahankan negeri Indonesia ini atau jika kita persempit lagi bahwa pahlawan merupakan orang yang rela berjuang di medan perang. Jika ditinjau dari persepsi tersebut banyak ragam pahlawan yang terbentuk dalam sejarah kepahlawanan di Indonesia, seperti pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi, dan pahlawan nasional.

Apabila di kaji lebih lanjut, ternyata kata “pahlawan” akan bermakna orang yang berpahala. Kata ini di ambil dari kata pahala-wan yang kemudian agar mudah menyebutnya menjadi pahlawan. Mungkin awal dari pemberian nama pahalawan tersebut, karena masyarakat melihat sosok orang yang berjuang menegakkan kebenaran adalah orang yang nantinya mendapatkan pahala atas perjuangannya. Sedangkan, banyak sekali yang mendapatkan gelar pahlawan di bumi ini tanpa jelas kebenaran perjuangan yang di lakukan orang tersebut.

Sebagai contoh, Amerika menganggap orang yang membumi hanguskan negeri-negeri islam dengan dalih pemberantasan teroris sebagai pahlawan. Ir. Soekarno yang berhasil memerdekakan Indonesia, dengan menghapus tujuh kata sakral dalam Pancasila yang terang-terangan menghianati Islam, di anggap sebagai pahlawan. Kemal Attaturk yang meproklamirkan berdirinya negara Turki, dengan sebelumnya dia meruntuhkan Khilafah Islamiyah, di anggap rakyat turki sebagai pahlawan. Di Israel, David Ben gurion yang telah banyak membantai warga Palestina dan merampas tanah mereka juga dianggap sebagai pahlawan. Dan masih banyak contoh-contoh lain para tokoh atau pihak yang sebenarnya belum tentu pantas mendapat gelar pahlawan.

Mungkin bisa juga benar, tokoh-tokoh tersebut akan di anggap pahlawan bagi orang yang merasa sejahtera dan puas karena perjuangan tokoh tersebut. Sebaliknya, tokoh-tokoh tersebut bisa pula di anggap penghianat, pemberontak, penyerang, maupun ‘biang kerok’ di lain sisi. Yaitu sisi dimana merasa di rugikan karena kehadiran atau perjuangannya.

Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Perluasan makna kepahlawanan berarti membuka ruang munculnya pahlawan di segala bidang kehidupan. Setiap orang memiliki peluang untuk menjadi pahlawan karena prestasi dan kerja keras yang dilakukannya bahkan sampai mengorbankan kepentingannya sendiri. Ada pahlawan olah raga, pahlawan pendidikan, pahlawan lingkungan, pahlawan kemiskinan dan pahlawan pembangunan.

Pengorbanan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan negeri ini tak diikuti oleh generasi penerusnya untuk menjaga kemerdekaan itu dengan baik. Setelah puluhan tahun ditinggalkan penjajah, rasa kecintaan terhadap bangsa dan negara terus terkalahkan oleh semangat untuk menggapai tujuan pribadi maupun kelompok.

Pahlawan dan gelandangan mungkin tak ada hubungan, tapi bisa juga ada. Seorang gelandangan bisa saja menjadi pahlawan, tapi seorang pahlawan pun sangat bisa menjadi gelandangan, paling tidak setelah ia tak lagi dianggap sebagai pahlawan. Tidak banyak manusia yang beruntung, menjadi pahlawan dan abadi, dengan cerita kepahlawanan yang dituturkan secara turun temurun. Tanpa sadar, kehidupan juga memisahkan antara kepahlawanan dan manusianya. Kita sering masih suka menceritakan kehebatan dan jasa seseorang, sementara di saat yang sama kita juga tidak mau tahu, bagaimana kehidupan orang tersebut andai dia masih ada.

Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Apakah kita, bangsa Indonesia, adalah bangsa yang baik? Mungkin iya, kita punya sejumlah nama pahlawan yang diabadikan menjadi nama jalan atau nama tempat. Kita juga punya buku-buku sejarah yang menceritakan kepahlawanan dari mereka yang dianggap sebagai pahlawan. Bahkan, kita juga punya Taman Makam Pahlawan. Tapi barangkali kita juga harus mulai mereview ulang apa yang telah kita lakukan terhadap para pahlawan.

opini oleh : Wisnu Putra Danarto
Pendidkan Geografi 2011

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -