Popular Post

Archive for June 2013

Sumber Panas Bumi di Indonesia

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Badan Geologi sejak tahun 1970-an telah melakukan kegiatan survei panas bumi. Apalagi dengan adanya undang-undang panas bumi, yang memberikan kewenangan kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk melakukan penyelidikan pendahuluan membuat kegiatan ini semakin intensif. Data yang diperoleh digunakan untuk penetapan wilayah kerja pertambangan panas bumi. Kegiatan yang dilakukan meliputi geologi, geokimia dan geofisika.

Mengingat besarnya potensi energi panas bumi di Indonesia, dan  berkembangnya tingkat penyelidikan dan pengusahaannya, maka pemerintah dalam hal ini Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral  telah merumuskan suatu pedoman untuk mengklasifikasikan potensi energi panas bumi berdasarkan hasil penyelidikan geologi, geokimia dan geofisika, teknik reservoar serta estimasi kesetaraan listrik. Pedoman tersebut telah disahkan sebagai Standar Nasional “Klasifikasi Potensi Energi Panas Bumi di Indonesia”, SNI 18-6009-1999. 

Berdasarkan Standar Nasional “Klasifikasi Potensi Energi Panas Bumi di Indonesia”, ada beberapa tahapan penyelidikan dan pengembangan panas bumi yang terkait dengan pengklasifikasian potensi energi panas bumi. Setiap tahapan memiliki tingkat akurasii dan teknik yang berbeda-beda yang didukung oleh penyelidikan geologi, geofisika dan geokimia, serta pengeboran kelandaian suhu.Dengan adanya kegiatan inventarisasi dan eksplorasi baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta, maka data potensi energi  panas bumi di Indonesia berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan tingkat penyelidikan yang telah dilakukan.

Sampai saat ini di Indonesia terdapat 265 lokasi panas bumi yang tersebar di sepanjang jalur vulkanik yang membentang dari P. Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku serta daerah-daerah non vulkanik seperti kalimantan dan Papua (Gambar 1). Perkiraan total potensi energi panas bumi di Indonesia sekitar 28.112 MWe  atau setara dengan 12 milyar barel minyak bumi. Dengan total  potensi sebesar ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terkaya akan energi  panas bumi.  Pada  tahun 2009 terdapat penemuan 8 lokasi daerah baru  dengan potensi sekitar 400 Mwe dari hasil kegiatan survei panas bumi yang dilakukan oleh Badan Geologi. Lokasi daerah panas bumi baru ini adalah Lili, Mapili dan Alu , Sulawesi Barat;  Tehoru, Banda Baru dan pohon Batu , dan Kelapa Dua , Maluku ;  dan Kebar, Papua Barat.  Lokasi survei panas bumi tahun 2009  yang dilakukan  oleh Badan Geologi ditunjukkan pada Gambar 2. Sedangkan  potensi enegi panas bumi untuk status tahun 2009 terlihat pada Tabel 1.

Dilihat dari status penyelidikannya, dari 265 daerah panas bumi yang ada, 138 lokasi (52,07 %) daerah panas bumi masih pada tahap penyelidikan pendahuluan awal atau inventarisasi  dengan potensi pada kelas sumber daya spekulatif, 24 lokasi (9,05 %) daerah panas bumi masih pada tahap penyelidikan pendahuluan dengan potensi pada kelas sumber daya hipotetis. Daerah yang telah disurvei secara rinci melalui survei permukaan dengan atau tanpa pengeboran landaian suhu dengan potensi cadangan terduga sebanyak 88 lokasi (33,21%). Daerah yang telah dilakukan pengeboran eksplorasi atau siap dikembangkan sebanyak 8 daerah (3,01%). Daerah panas bumi yang telah dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik saat ini baru 7 lokasi atau 2,64 % dengan kapasitas total terpasang 1189 MW.

Jumlah lokasi panas bumi yang berpotensi mengalami tumpang tindih sebagian atau seluruhnya dengan kawasan hutan adalah  sekitar 81 lokasi  atau  sekitar  30 % dari total lokasi panas bumi di  Indonesia dengan potensi sekitar 12.000 MW Tabel 2). Dari sejumlah ini, sekitar 11 % ( 29 lokasi) berada di kawasan hutan konservasi dengan potensi sekitar 3400 MW dan sekitar 19 % (52 lokasi) berada di kawasan hutan lindung dengan potensi sekitar 8600 MW.Lokasi panas bumi yang sebagian berpotensi berada di kawasan hutan (konservasi) juga terjadi pada WKP eksisting seperti: Kamojang.

Pemanfaatan energi panas bumi
Sumber daya energi panas bumi dapat digunakan secara langsung maupun tidak langsung. Energi yang digunakan merupakan hasil konversi dalam bentuk uap dan panas. Energi panas bumi yang digunakan secara langsung disebut direct use sedangkan energi panas bumi yang berupa konversi dalam bentuk listrik merupakan hasil konversi uap. Direct use memanfaatkan panas secara efisien dan pembiayaannya jauh lebih kecil dibandingkan pembangkit listrik.

Pemanfaatan panas bumi telah dilakukan sejak 1904 di Italy dimana dimasa itu uap panas bumi dapat menyalakan lima buah lampu. Di Indonesia pembangkit listrik tenaga panas bumi baru terlaksana pada tahun 1983 di Kamojang dengan potensi sebesar 30 MW. Selanjutnya mulai didirikan PLTP lainnya seperti di G.Salak, Sibayak, Darajat, Dieng, Wayang Windu dan Lahendong. Hingga saat ini baru 1189 Mw listrik yang telah diproduksi dari tujuh lapangan.  Ketujuh lapangan panas bumi tersebut adalah Sibayak (12 MW), G. Salak (375 MW), Kamojang (200 MW), Darajat (255 MW), Wayang Windu (227 MW), Dieng (60 MW), dan Lahendong (60 MW).

Pemanfaatan energi panas bumi secara direct use dilakukan tanpa adanya konversi energi ke dalam bentuk lain. Karena sifatnya yang mudah maka pemanfaatannya bisa dilakukan dalam berbagai cara. Untuk mengefektifkan penggunaannya pemanfaatan direct use dilakukan sesuai dengan kebutuhan temperaturnya. Dibeberapa lokasi di Indonesia masyarakat setempat telah melakukan pemanfaatan secara langsung seperti untuk sarana pariwisata, pemanasan hasil kebun dan pembibitan jamur, pembuatan pupuk dan budidaya ikan. Namun secara umum pemanfaatan langsung bagi kepentingan bahan bakar industri pertanian belum berkembang. 

Wilayah kerja panas bumi
Dalam rangka mempercepat pengembangan energi panas bumi terutama untuk pemanfaatan tidak langsung (pembangkitan listrik), Pemerintah telah menetapkan beberapa WKP baru untuk daerah-daerah panas bumi yang kelengkapan datanya telah mencukupi.
Sampai saat ini telah ditetapkan sebanyak 22 WKP baru (Tabel  3). Dari 22 WKP ini, 5 WKP telah selesai dilelangkan.  6 WKP sedang dalam proses lelang dan 11 WKP  belum di lelang. WKP yang sudah selesai  dilelang yaitu Tampomas ( Jawa Barat), Cisolok-Cisukarame (Jawa Barat), Tangkuban Parahu (Jawa Barat), Sokoria  (NTT), Jailolo (Maluku Utara) dan Jaboi (NAD.  Sedangkan WP yang sedang dalam proses lelang tahun ini adalah Ungaran (Jawa Tengah), Ngebel Wilis (Jawa Timur), Blawan-Ijen (Jawa Timur),  Siaholon Ria Ria ( Sumatra Utara), dan Liki Pinangawan ( Sumatera Barat). 

Sistem panas bumi di INdonesia
Posisi Kepulauan Indonesia yang terletak pada pertemuan antara tiga lempeng besar (Eurasia, Hindia Australia. Pasifik) menjadikannya memiliki tatanan tektonik yang kompleks. Subduksi antar lempeng benua dan samudra menghasilkan suatu proses peleburan magma dalam bentuk partial melting batuan mantel dan magma mengalami diferensiasi pada saat perjalanan ke permukaan proses tersebut membentuk kantong – kantong magma (silisic / basaltic) yang berperan dalam pembentukan jalur gunungapi yang dikenal sebagai lingkaran api (ring of fire). Munculnya rentetan gunung api Pasifik di sebagian wilayah Indonesia beserta aktivitas tektoniknya dijadikan sebagai model konseptual pembentukan sistem panas bumi Indonesia.

Berdasarkan asosiasi terhadap tatanan geologi, sistem panas bumi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu :  vulkanik, vulkano – tektonik dan Non-vulkanik. Sistem panas bumi vulkanik adalah sistem panas bumi yang berasosiasi dengan gunungapi api Kuarter yang umumnya terletak pada busur vulkanik Kuarter yang memanjang dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Maluku dan Sulawesi Utara.Pembentukan sistem panas bumi ini biasanya tersusun oleh batuan vulkanik menengah (andesit-basaltis) hingga  asam dan umumnya memiliki karakteristik reservoir ? 1,5 km dengan temperature reservoir tinggi (~250  -  ? 370°C).

Pada daerah vulkanik aktif biasanya memiliki umur batuan yang relatif muda dengan kondisi temperatur yang tinggi dan kandungan gas magmatik besar. Ruang antar batuan (permeabilitas) relatif kecil karena faktor aktivitas tektonik yang belum terlalu dominan dalam membentuk celah-celah / rekahan yang intensif sebagai batuan reservoir. Daerah vulkanik yang tidak aktif biasanya berumur relatif lebih tua dan telah mengalami aktivitas tektonik yang cukup kuat untuk membentuk permeabilitas batuan melalui rekahan dan celah yang intensif.

Pada kondisi tersebut biasanya terbentuk temperatur menengah - tinggi dengan konsentrasi gas magmatik yang lebih sedikit. Sistem vulkanik dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa sistem, misal : sistem tubuh gunung api  strato jika hanya terdiri dari satu gunungapi utama, sistem komplek gunung api jika terdiri dari beberapa gunungapi, sistem kaldera jika sudah terbentuk kaldera dan sebagainya.

Sistem panas bumi  vulkano – tektonik, sistem yang berasosisasi antara  graben dan  kerucut vulkanik, umumnya ditemukan di daerah Sumatera pada jalur sistem sesar sumatera (Sesar Semangko). Sistem panas bumi Non vulkanik adalah sistem panas bumi yang tidak berkaitan langsung dengan vulkanisme dan umumnya berada di luar jalur vulkanik Kuarter. Lingkungan non-vulkanik di Indonesia bagian barat pada umumnya tersebar di bagian timur sundaland (paparan sunda) karena pada daerah tersebut didominasi oleh batuan yang merupakan penyusun kerak benua Asia seperti batuan metamorf dan sedimen. Di Indonesia bagian timur lingkungan non-vulkanik berada di daerah lengan dan kaki Sulawesi serta daerah Kepulauan Maluku hingga Irian didominasi oleh batuan granitik, metamorf dan sedimen laut.

sumber: http://psdg.bgl.esdm.go.id/

10 Negara Pemakai Energi Geothermal

1. Amerika Serikat 

3.086 MW Kapasitas Terpasang, 0,3% Produksi Energi Nasional, pada 2010, Amerika Serikat bertengger di puncak dunia dalam produksi energi panas bumi, dengan 3.100 MW dari kapasitas terpasang. 77 pembangkit listrik tenaga panas bumi dan berkembang menghasilkan 15 miliar kilowatt jam listrik per tahun. Mayoritas dari Amerika Serikat 'energi panas bumi berasal dari negara-negara bagian barat, dan jika dimanfaatkan untuk kapasitas penuh mereka, cadangan panas bumi di bawah cukup untuk sembilan dari 50 negara bagian Amerika dapat menyediakan atas 20 persen dari kebutuhan listrik negara.

2. Filipina

1.904 MW Kapasitas Terpasang, 27% Produksi Energi Nasional. Filipina telah menggunakan energi panas bumi untuk listrik negara, multi-island sejak tahun 1977, ketika pertama pembangkit listrik tenaga panas bumi di negara itu dibangun di pulau Leyte. Chevron produsen panas bumi terbesar di dunia-telah menginvestasikan lebih dari $ 2 milyar untuk Filipina instalasi energi panas bumi, meningkatkan Filipina ke urutan nomor dua.

3. Indonesia

1.197 MW Kapasitas Terpasang, 3,7% Produksi Energi Nasional. Indonesia memiliki 40 persen dari potensi panas bumi dunia, dari banyaknya kepulauan gunung berapi, penghitungan untuk perkiraan 28.000 MW energi yang sangat potensial. Indonesia berada di trek untuk mengembangkan 44 pembangkit listrik baru panas bumi pada tahun 2014, meningkatkan kapasitas untuk 4.000 MW, dan negara berencana untuk memproduksi 9000 MW dari panas bumi pada tahun 2025.

4. Meksiko

958 MW Kapasitas Terpasang, 3% Produksi Energi Nasional. Meksiko adalah rumah bagi pembangkit listrik panas bumi yang terbesar di dunia. Cerro Prieto Geothermal Power Station memiliki kapasitas terinstal 720 MW, dan melakukan ekspansi 820 MW di tahun 2012. CerroPrieto terletak di perbatasan negara bagian Meksiko Sonora dan Baja California Norte, di selatan California USA.

5. Italia

843 MW Kapasitas Terpasang, 10% Produksi Energi Nasional. Italia adalah di mana sangat pertama pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dibangun pada pengembangan Larderello dry steam field di Tuscany. Larderello adalah tempat modern pertama pembangkit geotermal yang dibangun. Hancur dalam Perang Dunia II, dan bangkit lagi sejak itu dibangun kembali. Romawi kuno menggunakan panas bumi di wilayah tersebut untuk menghangatkan air mereka dan menjalankan ventilasi panas untuk menjaga bangunan hangat.

6. Selandia baru
700 MW Kapasitas Terpasang, 10% Produksi Energi Nasional. Selandia Baru adalah negara kedua setelah Italia untuk menerapkan energi panas bumi pada skala nasional. Dengan pola cuaca yang tak terduga, instalasi geothermal Selandia Baru telah menyediakan pembangkit energi yang konsisten atas semua sumber energi terbarukan lainnya di negeri ini.

7. Islandia
 
575 MW Kapasitas Terpasang, 30% Produksi Energi Nasional. Lima pembangkit listrik geothermal utama Islandia tidak hanya menghasilkan listrik untuk hampir sepertiga negara itu, tetapi juga menyediakan hampir 90 persen dari pemanasan yang dibutuhkan untuk air dan bangunan. Potensi panas bumi di Islandia begitu besar bahwa selain itu dapat memanaskan jalan-jalan di kota dekat ladang geothermal sepanjang musim dingin.

8. Jepang

536 MW Kapasitas Terpasang, .3% Produksi Energi Nasional. Karena kedekatannya dengan Izu-Bonin-Mariana Arc, suatu batas konvergen empat lempeng tektonik di Pasifik "Ring of Fire," Jepang sangat ideal untuk aktivitas panas bumi. Mitsubishi Materials Corp dan J-Power currently head pengelola geothermal Jepang.

9. El Salvador

204 MW Kapasitas Terpasang, 14% Produksi Energi Nasional. Lapangan panas bumi Ahuachapan El Salvador telah memberikan energi untuk negara itu sejak 1975. Hanya Kedua fasilitas geothermal yang pertama ada di negara small Central American country, kedua sebagai pembangkit listrik Berlin.

10. Kenya

167 MW Kapasitas Terpasang, 11,2% Produksi Energi Nasional. Kenya adalah negara pertama di Afrika untuk mengeksploitasi energi panas bumi secara komersial. Kenya idealnya diposisikan di Great Rift Valley Afrika, suatu batas lempeng divergen dengan potensi geothermal yang berlebihan. Kenya berencana untuk meningkatkan kapasitas geothermal dengan tambahan 576 MW pada 2017, mengurangi ketergantungan minyak asing dan mencakup 25 persen dari kebutuhan listrik negara.

Sumber dan Lokasi Pemanfaatan Energi Geothermal

Daerah sumber hidrotermal yang luas dan terbentuk secara alami disebut reservoir panas bumi. Kebanyakan reservoir panas bumi (geothermal) berada jauh di bawah tanah tanpa petunjuk yang terlihat di permukaan. Tapi energi panas bumi kadang-kadang menemukan jalan ke permukaan dalam bentuk:

1. Gunung berapi dan fumarol (lubang dimana gas vulkanik dilepaskan)
2. Mata air yang besar
3. Geyser

http://2.bp.blogspot.com/-Q-LDz9t6AxA/T_46PAYoDcI/AAAAAAAAAss/mVAB-fKfZBU/s1600/Ring+of+Fire.gif
jalur ring of fire

Sebagian Besar Sumber Daya Panas Bumi Berada di Dekat Batas Lempeng
Sumber daya panas bumi yang paling aktif biasanya ditemukan di sepanjang batas lempeng utama, dimana gempa bumi dan gunung berapi terkonsentrasi. Sebagian besar aktivitas panas bumi di dunia terjadi di daerah yang disebut Ring of Fire. Daerah ini mengelilingi Samudera Pasifik.

Ketika magma mendekati permukaan, ia memanaskan air tanah yang berada dalam batuan berpori atau air yang mengalir sepanjang permukaan batuan retak. Fitur-fitur ini disebut hidrotermal. Mereka memiliki dua komponen umum: air (hidro) dan panas (termal).

Ahli geologi menggunakan berbagai cara untuk mencari reservoir panas bumi. Pengeboran sumur dan pengujian suhu bawah tanah merupakan metode yang paling dapat diandalkan untuk menemukan reservoir panas bumi.

Pemanfaatan Energi Geothermal
Beberapa aplikasi energi geothermal menggunakan suhu bumi di dekat permukaan, sementara yang lainnya memerlukan pengeboran bermil-mil ke dalam Bumi. Tiga penggunaan utama energi geothermal adalah:

1. Penggunaan langsung dan sistem pemanas distrik, menggunakan mata air panas atau reservoir dekat permukaan.

2. Pembangkit listrik tenaga geothermal, membutuhkan air atau uap pada suhu yang sangat tinggi (300 ° sampai 700 ° F). Pembangkit listrik geothermal umumnya dibangun di daerah reservoir panas bumi terletak, sekitar satu atau dua mil dari permukaan.

3. Pompa panas geothermal, menggunakan suhu stabil tanah atau air di dekat permukaan bumi untuk mengontrol suhu bangunan di atas tanah.

Penggunaan Langsung Energi Geothermal
Dalam bentuk mata air panas, geothermal sudah digunakan secara langsung sebagai sumber energi sejak zaman kuno. Romawi dan Cina kuno, serta penduduk asli Amerika menggunakan air mineral panas untuk mandi, memasak, dan pemanas. Dewasa ini, mata air panas banyak yang masih digunakan untuk mandi, dan banyak orang percaya, air panas kaya mineral memiliki kekuatan penyembuhan alami.

Selain sebagai tempat pemandian, penggunaan langsung yang paling umum dari energi geothermal adalah untuk menghangatkan bangunan melalui sistem pemanas distrik. Air panas di dekat permukaan bumi dapat disalurkan langsung ke dalam bangunan dan industri untuk mendapatkan panasnya. Sebuah sistem pemanas distrik mampu menyediakan panas untuk 95% bangunan di Reykjavík, Islandia.

Aplikasi energi geothermal dimanfaatkan pula oleh pelaku industri termasuk untuk dehidrasi makanan, pertambangan emas, dan pasteurisasi susu. Dehidrasi, atau pengeringan sayuran dan produk buah-buahan, adalah penggunaan energi geothermal yang paling umum di dunia industri.

sumber: indoenergi.com

Pengertian Energi Geothermal

Energi termal atau energi panas adalah energi internal keseimbangan termodinamika yang sebanding dengan suhu mutlak dan dipindahkan sebagai panas dalam proses termodinamika. Pada tingkat mikroskopis dan dalam kerangka teori kinetik, energi termal merupakan total energi rata-rata ada dalam kinetik sebagai hasil dari gerakan acak dari atom dan molekul, yang menghilangkan nol mutlak.

Energi termal ini merupakan bagian dari energi potensial total dan energi kinetik dari suatu benda atau sampel benda yang menghasilkan suhu sistem. Jumlah energi termal ini sulit untuk ditentukan kecuali benda tersebut telah mencapai suhu melalui pendinginan, dan tidak menjadi sasaran untuk bekerja input atau output, atau energi-perubahan lainnya dalam proses tersebut. Energi internal sistem, juga sering disebut energi termodinamika, termasuk bentuk lain dari energi dalam suatu sistem termodinamika di samping energi panas, yaitu bentuk energi potensial yang tidak mempengaruhi temperatur, seperti energi kimia yang tersimpan dalam struktur molekul dan elektronik, interaksi antarmolekul terkait dengan perubahan fase yang tidak mempengaruhi suhu (yaitu, energi laten), dan energi ikat nuklir yang mengikat sub-atom partikel benda.

Energi panas / termal ini dihasilkan dan diukur oleh panas apapun. Hal ini disebabkan oleh peningkatan aktivitas atau kecepatan molekul dalam substansi, yang disebabkan oleh suhu yang meningkat pula. Ada banyak sumber daya alam yang banyak mengandung energi panas di Bumi, menjadikannya sebagai komponen penting dari energi alternatif.

Hukum termodinamika menjelaskan bahwa energi dalam bentuk panas dapat dipertukarkan dari satu objek fisik ke objek fisik yang lain. Misalnya, meletakkan api di bawah panci air akan menyebabkan air memanas sebagai akibat dari gerakan molekul meningkat. Dengan cara itu, panas, atau energi termal, api, sebagian ditransmisikan ke air.

Memahami prinsip-prinsip termodinamika telah memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam panas untuk menciptakan energi termal dari berbagai sumber. Matahari, laut, dan sumber panas bumi seperti geyser dan gunung berapi, semua bisa menjadi sumber energi panas.

Manusia mencoba untuk beralih ke bentuk energi alternatif yang berkelanjutan, bukan sebagai sumber bahan bakar fosil yang cepat habis, banyak perhatian telah difokuskan pada peningkatan metode untuk memanfaatkan energi panas untuk aktivitas tenaga manusia.

Tenaga panas matahari merupakan salah satu yang paling umum digunakan dalam energi termal. Tenaga surya yang tersedia akan terkumpul ketika matahari terlihat di langit, para ilmuwan telah mengembangkan berbagai cara untuk menyimpan dan menggunakan daya serap energi surya ini yaitu menggunakan perangkat solar, misalnya solar panel.

Contoh kecil, kita dapat menemukan energi termal ketika kolam renang pada siang hari akan menempatkan suhu rendah dan pengumpulan energi panas dari matahari atau di sekitar air. Dengan menyerap sinar matahari dan mendistribusikannya ke air, maka suhu kolam tersebut akan meningkat sepanjang hari dan setelah matahari terbenam.

Solar panel, kolam penguapan, dan sistem canggih lainnya dapat melakukan fungsi ini pada tingkat yang lebih luas dan menciptakan daya yang cukup disimpan untuk menjalankan sebuah pabrik atau bahkan kota di tenaga panas matahari.


 







 

Sumber: http://id.shvoong.com

Proses Pengolahan Minyak Bumi

Minyak bumi bukan merupakan senyawa homogen, tapi merupakan campuran dari berbagai jenis senyawa hidrokarbon dengan perbedaan sifatnya masing-masing, baik sifat fisika maupun sifat kimia.

Proses pengolahan minyak bumi sendiri terdiri dari dua jenis proses utama, yaitu Proses Primer dan Proses Sekunder.  Sebagian orang mendefinisikan Proses Primer sebagai proses fisika, sedangkan Proses Sekunder adalah proses kimia. Hal itu bisa dimengerti karena pada proses primer biasanya komponen atau fraksi minyak bumi dipisahkan berdasarkan salah satu sifat fisikanya, yaitu titik didih. Sementara pemisahan dengan cara Proses Sekunder bekerja berdasarkan sifat kimia kimia, seperti perengkahan atau pemecahan maupun konversi, dimana didalamnya terjadi proses perubahan struktur kimia minyak bumi tersebut.


Rantai Hidrokarbon Minyak Bumi
Seperti kita kitahui dalam Kimia Organik bahwa senyawa hidrokarbon, terutama  yang parafinik dan aromatik, mempunyai trayek didih masing-masing, dimana panjang rantai hidrokarbon berbanding lurus dengan titik didih dan densitasnya. Semakin panjang rantai hidrokarbon maka trayek didih dan densitasnya semakin besar. Nah, sifat fisika inilah yang kemudian menjadi dasar dalam Proses Primer.
Jumlah atom karbon dalam rantai hidrokarbon bervariasi. Untuk dapat dipergunakan sebagai bahan bakar maka dikelompokkan menjadi beberapa fraksi atau tingkatan dengan urutan sederhana sebagai berikut :

Gas
Rentang rantai karbon : C1 sampai C5
Trayek didih : 0 sampai 50°C
Peruntukan : Gas tabung, BBG, umpan proses petrokomia.
 

Gasolin (Bensin)
Rentang rantai karbon : C6 sampai C11
Trayek didih : 50 sampai 85°C
Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar penerbangan bermesin piston, umpan proses petrokomia
 

Kerosin (Minyak Tanah)
Rentang rantai karbon : C12 sampai C20
Trayek didih : 85 sampai 105°C
Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar penerbangan bermesin jet, bahan bakar rumah tangga, bahan bakar industri, umpan proses petrokimia
 

Solar
Rentang rantai karbon : C21 sampai C30
Trayek didih : 105 sampai 135°C
Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar industri
 

Minyak Berat
Rentang rantai karbon dari C31 sampai C40
Trayek didih dari 130 sampai 300°C
Peruntukan : Minyak pelumas, lilin, umpan proses petrokimia
 

Residu
Rentang rantai karbon diatas C40
Trayek didih diatas 300°C 

Peruntukan : Bahan bakar boiler (mesin pembangkit uap panas), aspal, bahan pelapis anti bocor.

Isomer hidrokarbon, terutama isomer yang parafinik memiliki titik didih dan densitas yang lebih ringan dibandingkan dengan rantai lurusnya. Misal, normal-oktan (n-C8H18) titik didih dan densitasnya akan lebih besar dari pada iso-oktan (2,2,4-trimetil pentan), begitu juga untuk isomer-isomer lainnya. Atas dasar kondisi seperti itulah kemudian pada kenyataannya dalam pengolahan minyak bumi lebih memegang patokan kepada trayek titik didih daripada komposisi atau rentang rantai karbonnya. Sehingga pada batas antara fraksi pasti akan terjadi overlap (tumpang tindih) fraksi. Overlap ini kemudian disebut sebagai minyak slops yang nantinya akan berfungsi sebagai bahan pencampur untuk mengatur produk akhir sehingga memenuhi spesifikasi atau baku mutu yang ditentukan.

Proses Primer
Minyak bumi atau minyak mentah sebelum masuk kedalam kolom fraksinasi (kolom pemisah) terlebih dahulu dipanaskan dalam aliran pipa dalam furnace (tanur) sampai dengan suhu ± 350°C. Minyak mentah yang sudah dipanaskan tersebut kemudian masuk kedalam kolom fraksinasi pada bagian flash chamber (biasanya berada pada sepertiga bagian bawah kolom fraksinasi). Untuk menjaga suhu dan tekanan dalam kolom maka dibantu pemanasan dengan steam (uap air panas dan bertekanan tinggi).

Kolom pemisah minyak bumi

Karena perbedaan titik didih setiap komponen hidrokarbon maka komponen-komponen tersebut akan terpisah dengan sendirinya, dimana hidrokarbon ringan akan berada dibagian atas kolom diikuti dengan fraksi yang lebih berat dibawahnya. Pada tray (sekat dalam kolom) komponen itu akan terkumpul sesuai fraksinya masing-masing.

Pada setiap tingkatan atau fraksi yang terkumpul kemudian dipompakan keluar kolom, didinginkan dalam bak pendingin, lalu ditampung dalam tanki produknya masing-masing. Produk ini belum bisa langsung dipakai, karena masih harus ditambahkan aditif (zat penambah) agar dapat memenuhi spesifikasi atau persyaratan atau baku mutu yang ditentukan oleh Dirjen Migas RI untuk masing-masing produk tersebut.

Proses Sekunder
Pada kenyataannya minyak bumi tidak pernah ada yang sama, bahkan untuk sumur minyak yang berdekatan sekalipun. Kenyataannya banyak sumur minyak yang menghasilkan minyak bumi dengan densitas (specific gravity) yang lebih berat, terutama untuk sumur minyak yang sudah udzur atau memang jenis minyak dalam sumur tersebut adalah jenis minyak berat. Pada pemompaan minyak dari dalam sumur (reservoir) biasanya yang akan terpompakan pada awal-awal produksi adalah bagian yang ringannya. Sehingga pada usia akhir sumur yang dipompakan adalah minyak beratnya.
Untuk pengolahan minyak berat jenis ini maka bisa dipastikan produk yang dihasilkan akan lebih banyak fraksi beratnya daripada fraksi ringannya.

Maksudnya gini lho, kalo yang dimasak tuh minyak bumi jenis minyak berat seperti penjelasan diatas maka produk yang dihasilkan akan lebih banyak fraski solar, minyak berat atau residunya daripada gas, bensin atau minyak tanahnya. Sementara konsumsi produk minyak bumi di Indonesia kan lebih banyak dari fraksi bensin dan solarnya, terutama untuk otomotif.

Jadi, jika yang dimasak oleh proses primer adalah minyak bumi jenis minyak berat maka hasilnya akan lebih banyak fraksi beratnya (solar, minyak berat dan residu) daripada fraksi ringannya. Sementara tuntutan pasar lebih banyak produk dari fraksi ringan dibandingkan fraksi beratnya. Maka untuk menyiasatinya adalah dengan melakukan perubahan struktur kimia dari produk fraksi berat.

Teknologi yang banyak digunakan adalah dengan cara melakukan cracking (perengkahan atau pemutusan) terhadap hidrokarbon rantai panjang menjadi hidrokarbon rantai pendek, sehingga bisa menjadi fraksi ringan juga. Misal, dengan cara merengkah sebuah molekul hidrokarbon C30 yang merupakan produk dari fraksi solar atau minyak berat menjadi dua buah molekul hidrokarbon C15 yang merupakan produk dari fraksi minyak tanah atau kerosin, atau menjadi sebuah molekul hidrokarbon C10 yang merupakan produk dari fraksi bensin dan sebuah molekul hidrokarbon C20 yang merupakan produk dari fraksi solar.

Kilang proses perengkahan menggunakan katalis

Proses perengkahan ini sendiri ada dua dua cara, yaitu dengan cara menggunakan katalis (catalytic cracking) dan cara tanpa menggunakan katalis atau dengan cara pemanasan tinggi menggunakan suhu diatas 350°C (thermal cracking).

Perbedaan dari kedua jenis perengkahan tersebut adalah pada kemudahan “mengarahkan” produk yang diinginkan. Pada cara thermal cracking sangat sulit untuk mengatur atau mengarahkan produk fraksi ringan mana yang diinginkan. Dengan cara ini jika kita menginginkan membuat bensin yang lebih banyak dibandingkan minyak tanah akan sulit dilakukan, padahal keduanya masih termasuk fraksi ringan.

Sementara jika menggunakan catalytic cracking kita akan lebih mudah mengatur mood operasi. Misal kita hanya ingin memperbanyak produk bensin dibandingkan minyak tanahnya, atau sebaliknya. Ilustrasinya kira-kira seperti jika kita akan memecah sekeping kaca lebar. Jika menggunakan cara thermal cracking kita ibarat memecahkan kaca tersebut dengan cara dibanting, ukurannya tidak akan teratur. Sedangkan jika menggunakan cara catalytic cracking ibarat memecahkan kaca dengan menggunakan pisau kaca, lebih teratur dan bisa sesuai keinginan kita.

Minyak hasil rengkahan tersebut kemudian dipisahkan kembali berdasarkan fraksi yang lebih sempit dalam kolom fraksinasi dengan proses seperti halnya proses primer, untuk selanjutnya didinginkan dan ditampung dalam tanki produk setengah jadi dan selanjutnya ditambahkan aditif sesuai spesifikasi produk akhir yang diinginkan.

dari berbagai sumber.

Pengembangan Energi Alternatif di Pulau-Pulau Terluar Indonesia

Gambar: National Geographic Indonesia



Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari belasan ribu pulau tersebut, terdapat 92 pulau terluar yang hingga kini masih belum memiliki pasokan listrik yang cukup. Padahal, pulau terluar Indonesia pun merupakan aset yang penting bagi bangsa ini, karena menjadi garda terdepan yang berbatasan dengan wilayah diplomatik lainnya. 

Untuk itulah Kementrian Pembangunan Desa Tertinggal (Kemeneg PDT) berniat untuk mengembangkan energi matahari di pulau terluar Indonesia tersebut. Berdasarkan data Kemeneg PDT, dari 92 pulau terluar di Indonesia hanya 43 pulau saja yang berpenghuni dengan jumlah penduduk mencapai 71 ribu orang.

Listrik tenaga surya dinilai sebagai sebuah solusi terbaik karena pulau terluar Indonesia cenderung memiliki medan yang sulit untuk dijangkau. Kemeneg PDT akan memberikan bantuan berupa empat hingga lima lampu dengan daya 150 watt untuk mengembangkan energi matahari di pulau-pulau ini.
“Meski pasokan listrik di pulau terluar ini masih kecil, bantuan ini cukup membantu mereka untuk beraktivitas,” jelas Menteri PDT, Helmy Faizal Zaini.

Pemerataan pasokan listrik di pulau terluar Indonesia telah menjadi target utama bagi pengembangan desa tertinggal di Indonesia. Sayangnya, masih banyak kendala yang menyebabkan hal tersebut sulit untuk direalisasikan. Kendala tersebut antara lain karena minimnya sarana pendidikan, kurangnya tenaga kesehatan dan pengajar, dll.

Selain itu, kendala lain yang juga penting adalah belum meratanya penelitian perguruan tinggi di daerah tertinggal. Hal itu disampaikan oleh Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Pratikno. Ia menjelaskan bahwa penelitian ke daerah tertinggal harus dapat diterapkan langsung, seperti penelitian pengangkatan air bawah tanah, penjernihan air dengan teknologi tepat guna, dsb.

Untuk mengembangkan desa tertinggal di Indonesia yang semuanya berjumlah 183 desa, pemerintah akan mengembangkan sebuah program bernama Sistem Informasi Data Partisipatif Daya Hayati (SIPAR SEHATI), yang akan membantu daerah tertinggal agar dapat mengembangkan potensi sumber daya alam hayati mereka. 

SIPAR SEHATI akan menjadi sebuah data base yang menyimpan data SDA Hayati di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Di dalamnya juga mencakup data mengenai infrastruktur yang tersedia, jejaring dengan industri, lembaga pendukung, serta data-data keuangan dan daya beli.

sumber: b2te.bppt.go.id

Saatnya Energi Alternatif Berjaya

Kenaikan harga minyak bumi (lagi) menyadarkan dunia yang kini sedang dilanda kebingungan akan krisis energi yang makin memperihatinkan. Di mana ketersediaan cadangan berbagai jenis energi mulai menipis, khususnya energi yang berbahan bakar minyak (BBM). Fakta bahwa cadangan minyak dunia hanya dapat digunakan sampai 30 tahun lagi membuat para stakeholder maupun korporasi-korporasi kebingungan untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

Semua negara di dunia maupun para stakeholder yang peduli akan energi kini sedang serius berpikir bagaimana mengelola serta menghemat pemakaian energi sebaik-baiknya, guna mengurangi krisis dan konflik energi yang mungkin akan timbul di masa depan. Kini, banyak pihak di dunia sedang mengusahakan penggunaan energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan dan menghemat penggunaan energi fosil yang tidak dapat diperbarui seperti minyak bumi, gas dan lain-lain.

Di dalam negeri sendiri pemerintah kini sedang gencar mengampanyekan penggunaan energi alternatif sebagai langkah antisipasi atas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Energi alternatif diyakini dapat mengurangi krisis energi minyak dan gas maupun energi tak terbarukan lainnya.

Namun, usaha ini belum menyentuh pada masyarkat luas khususnya di level masyarakat bawah. Jangankan bicara masalah energi alternatif oleh masyarakat awam, banyak dari kalangan pemerintah, pengusaha maupun sebagian kaum intelektual juga tidak memahami pentingnya menghemat energi sedini mungkin dan beralih ke energi alternatif seperti memaksimalkan penggunaan gas.

Presiden SBY dalam pidato sambutan ketika membuka konvensi dan pameran Indonesian Petroleum Asociation (IPA) ke-37 di Jakarta Covention Center (JCC) Senayan, mengajak kepada jajaran pemerintah pusat dan daerah, BUMN dan BUMD untuk untuk memberi contoh dalam konsumsi energi secara hemat dan efisien, di antaranya dengan menggalakkan penggunaan gas  sebagai bahan bakar operasional kendaraan dinas.

Khusus untuk program pengalihan bahan bakar di sektor transportasi, SBY juga meminta kepada seluruh jajaran pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah termasuk jajaran BUMN dan BUMD, untuk terus menggalakkan penggunaan bahan bakar gas untuk kegiatan operasional kendaraan dinas mereka.

Keadaan harus segera diubah agar Indonesia tetap eksis dan berjalan sesuai cita-cita para pendiri bangsa. Perlu ada kebijakan energi yang sustainable dan terencana serta bertanggung jawab oleh pemerintah dengan melakukan efisiensi energi secara serempak dan nasional.

Namun, untuk mewujudkan langkah itu di tingkat implementasi perlu upaya yang nyata dari pemerintah. Jangan sampai ikrar hemat energi nasional itu hanya jalan di tempat dan hanya live service semata.

Upaya konkret itu adalah mengelola energi nasional dengan sistem tata-kelola energi yang terpadu. Sistem tata kelola energi nasional yang terpadu dengan menargetkan efisiensi energi perwilayah akan memudahkan pemerintah melakukan pemetaan penyebaran dan kebutuhan konsumsi energi secara nasional.


Munculnya kelangkaan serta tiadanya jaminan ketersediaan pasokan minyak dan gas di negeri sendiri merupakan kenyataan paradoks dari sebuah negeri yang kaya sumber energi. Hal ini antara lain disebabkan tingginya ketimpangan antara produksi dan konsumsi energi nasional. Berbagai permasalahan mengenai carut-marutnya pengelolaan energi di Indonesia tidak lepas dari tiga hal.

1. Manajemen yang diterapkan oleh pemerintah sama sekali tidak tepat. Pemerintah dan pihak swasta yang bergerak di bidang pengembangan pengelolaan sumber daya energi belum memanfaatkan dan memperhatikan geostrategi Indonesia. Semua kebijakan yang dikeluarkan tidak lepas dari kepentingan komersil dan berdasarkan keuntungan pribadi. Akhirnya, rakyatlah yang menjadi korban dari kutukan ini.

2. Pemerintah sama sekali tidak tertarik dengan konsepsi pengembangan sumber daya terbarukan (renewable energy). Wacana-wacana mengenai pengembangan ini hanya sebatas ucapan pemerintah (lip service) lip service) yang tidak kunjung terlihat realisasinya. Pemerintah masih terus bergantung pada eksploitasi minyak dan gas bumi. Padahal ketersediaannya terus merosot.

3. Terdapat kesalahan kebijakan yang tercantum pada UU No. 22 Tahun 2001 tentang migas yang menyebutkan bahwa negara hanya berperan sebagai regulator bagi pihak yang hanya mencari keuntungan semata, terutama perusahaan asing. Hal itu bertentangan dengan pasal 33 ayat 3 UUD 1945 “Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Berbagai persoalan ini sudah seharusnya menjadi perhatian penting pemerintah dalam menata ulang regulasi yang berlaku. Persoalan ini sudah terlalu lama tertanam dalam sistem kebijakan pemerintah.

Perhatian lebih itu dapat menjadi solusi dari permasalahan krisis energi yang dialami bangsa. Sudah seharusnya pemerintah memerhatikan pembangunan berkelanjutan (sustainability development) untuk kemandirian energi nasional.


opini oleh:
Wisnu Putra Danarto
Pendidikan Geografi 2011
Tag : ,

Mengenal Solar Cell Lebih Dalam

Pengertian Solar Sell
Energi merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia. Hal ini mengingat energi merupakan salah satu faktor utama bagi terjadinya pertumbuhan ekonomi  suatu negara. Permasalahan energi menjadi semakin kompleks ketika kebutuhan yang meningkat akan energi dari seluruh negara di dunia untuk menopang pertumbuhan ekonominya justru membuat persediaan cadangan energi konvensional menjadi semakin sedikit.

Saat ini total kebutuhan energy di seluruh dunia mencapai 10 Terra Watt (setara dengan 3 x 1020 Joule/ tahun) dan diprediksi jumlah ini akan terus meningkat hingga mencapai 30 Terra Watt pada tahun 2030 [1-3]. Kebutuhan yang meningkat terhadap energi juga pada kenyataanya bertabrakan dengan kebutuhan umat manusia untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas dari polusi. Berbagai konsideran ini menuntut perlunya dikembangkan sumber energi alternatif yang dapat menjawab tantangan di atas tersebut.

Solar cell merupakan pembangkit listrik yang mampu mengkonversi sinar matahari menjadi arus listrik. Energi matahari sesungguhnya merupakan sumber energi yang paling menjanjikan mengingat sifatnya yang berkelanjutan (sustainable) serta jumlahnya yang sangat besar. Matahari merupakan sumber energi yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan kebutuhan energi masa depan setelah berbagai sumber energi konvensional berkurang jumlahnya serta tidak ramah terhadap lingkungan. Total kebutuhan energi yang berjumlah 10 TW tersebut setara dengan 3 x 1020 J setiap tahunnya.

Sementara total energi matahari yang sampai di permukaan bumi adalah 2,6 x 1024 Joule setiap tahunnya. Sebagai perbandingan, energi yang bisa dikonversi melalui proses fotosintesis di seluruh permukaan bumi mencapai 2,8 x 1021 J setiap tahunnya. Jika kita lihat jumlah energi yang dibutuhkan dan dibandingkan dengan energi matahari yang tiba di permukaan bumi, maka sebenarnya dengan menutup 0,05% luas permukaan bumi (total luas permukaan bumi adalah 5,1 x 108 km2) dengan solar cell yang memiliki efisiensi 20%, seluruh kebutuhan energi yang ada di bumi sudah dapat terpenuhi. 

Kondisi Solar Cell Saat Ini
Jumlah energi yang begitu besar yang dihasilkan dari sinar matahari, membuat solar cell menjadi alternatif sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan. Solar cell juga memiliki kelebihan menjadi sumber energi yang praktis mengingat tidak membutuhkan transmisi karena dapat dipasang secara modular di setiap lokasi yang membutuhkan.

Solar cell tidak memiliki ekses suara seperti pada pembangkit tenaga angin serta dapat dipasang pada hampir seluruh daerah karena hampir setiap lokasi di belahan dunia ini menerima sinar matahari. Bandingkan dengan pembangkit air (hydro) yang dapat dipasang hanya pada daerah-daerah dengana aliran air tertentu. Dengan berbagai keunggulan ini maka tidak heran jika negara-negara maju berlomba mengembangkan solar cell agar dapat dihasilkan teknologi pembuatan solar cell yang berharga eknomis.

Hingga saat ini total energi listrik yang dibangkitkan dengan solar cell di seluruh dunia baru mencapai sekitar 12 GW (bandingkan dengan total penggunaan listrik dunia sebesar 10 TW). Dari 12 GW tersebut Jerman merupakan negara terbesar yang telah menginstall solar cell nya yaitu sebesar hampir 5 GW. Meskipun begitu setiap tahunnya terjadi peningkatan produksi solar cell dimana pada tahun 2008 total produksi solar cell di seluruh dunia telah mencapai angka 6,22 GW.

Nilai produksi yang terus meningkat ini juga terus diikuti dengan upaya untuk menurunkan harga solar modul per Watt peaknya. Saat ini harga listrik yang dihasilkan oleh solar cell sebesar 50 sen $ setiap kWh yang relatif masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan pembangkitan dari sumber lainya seperti dari pembangkit termal yang hanya sebesar 8 sen $ untuk setiap kWh nya.

Berbagai teknologi telah dikembangkan dalam proses pembuatan solar cell untuk menurunkan harga produksi agar lebih ekonomis. Jenis-jenis solar cell pun saat ini telah berkembang tidak hanya berbasis pada kristal semikonduktor silikon tetapi berbagai jenis tipe dari mulai lapisan tipis, organic, lapisan single dan multi junction hingga yang terbaru jenis dye sensitized solar cell. 

Jenis Solar Cell
Cara kerja sel surya adalah dengan memanfaatkan teori cahaya sebagai partikel. Sebagaimana diketahui bahwa cahaya baik yang tampak maupun yang tidak tampak memiliki dua buah sifat yaitu dapat sebagai gelombang dan dapat sebagai partikel yang disebut dengan photon. Penemuan ini pertama kali diungkapkan oleh Einstein pada tahun 1905. Energi yang dipancarkan oleh sebuah cahaya dengan kecepatan c dan panjang gelombang ? dirumuskan dengan persamaan:
E = h.c/ ?

Dengan h adalah konstanta Plancks (6.62 x 10-34 J.s) dan c adalah kecepatan cahaya dalam vakum (3.00 x 108 m/s). Persamaan di atas juga menunjukkan bahwa photon dapat dilihat sebagai sebuah partikel energi atau sebagai gelombang dengan panjang gelombang dan frekuensi tertentu [5]. Dengan menggunakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n, cahaya yang datang akan mampu dirubah menjadi energi listrik.

Hingga saat ini terdapat beberapa jenis solar sel yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti untuk mendapatkan divais solar sel yang memiliki efisiensi yang tinggi atau untuk mendapatkan divais solar sel yang murah dan mudah dalam pembuatannya.

Tipe pertama yang berhasil dikembangkan adalah jenis wafer (berlapis) silikon kristal tunggal. Tipe ini dalam perkembangannya mampu menghasilkan efisiensi yang sangat tinggi. Masalah terbesar yang dihadapi dalam pengembangan silikon kristal tunggal untuk dapat diproduksi secara komersial adalah harga yang sangat tinggi sehingga membuat solar sel panel yang dihasilkan menjadi tidak efisien sebagai sumber energi alternatif. Sebagian besar silikon kristal tunggal komersial memiliki efisiensi pada kisaran 16-17%, bahkan silikon solar sel hasil produksi SunPower memiliki efisiensi hingga 20%[www.sunpowercorp.com]. Bersama perusahaan Shell Solar, SunPower menjadi perusahaan yang menguasai pasar silikon kristal tunggal untuk solar sel.

Jenis solar sel yang kedua adalah tipe wafer silikon poli kristal. Saat ini, hampir sebagian besar panel solar sel yang beredar di pasar komersial berasal dari screen printing jenis silikon poli cristal ini. Wafer silikon poli kristal dibuat dengan cara membuat lapisan lapisan tipis dari batang silikon dengan metode wire-sawing. Masing-masing lapisan memiliki ketebalan sekitar 250?50 micrometer.

Jenis solar sel tipe ini memiliki harga pembuatan yang lebih murah meskipun tingkat efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan silikon kristal tunggal. Perusahaan yang aktif memproduksi tipe solar sel ini adalah GT Solar, BP, Sharp, dan Kyocera Solar.

Kedua jenis silikon wafer di atas dikenal sabagai generasi pertama dari solar sel yang memiliki ketebalan pada kisaran 180 hingga 240 mikro meter. Penelitian yang lebih dulu dan telah lama dilakukan oleh para peneliti menjadikan solar sel berbasis silikon ini telah menjadi teknologi yang berkembang dan banyak dikuasai oleh peneliti maupun dunia industri. Divais solar sel ini dalam perkembangannya telah mampu mencapai usia aktif mencapai 25 tahun [3].

Modifikasi untuk membuat lebih rendah biaya pembuatan juga dilakukan dengan membuat pita silikon (ribbon si) yaitu dengan membuat lapisan dari cairan silikon dan membentuknya dalam struktur multi kristal. Meskipun tipe sel surya pita silikon ini memiliki efisiensi yang lebih rendah (13-15%), tetapi biaya produksinya bisa lebih dihemat mengingat silikon yang terbuang dengan menggunakan cairan silikon akan lebih sedikit.

Generasi kedua solar sel adalah solar sel tipe lapisan tipis (thin film). Ide pembuatan jenis solar sel lapisan tipis adalah untuk mengurangi biaya pembuatan solar sel mengingat tipe ini hanya menggunakan kurang dari 1% dari bahan baku silikon jika dibandingkan dengan bahan baku untuk tipe silikon wafer. Dengan penghematan yang tinggi pada bahun baku seperti itu membuat harga per KwH energi yang dibangkitkan menjadi bisa lebih murah.

Metode yang paling sering dipakai dalam pembuatan silikon jenis lapisan tipis ini adalah dengan PECVD dari gas silane dan hidrogen. Lapisan yang dibuat dengan metode ini menghasilkan silikon yang tidak memiliki arah orientasi kristal atau yang dikenal sebagai amorphous silikon (non kristal). Selain menggunakan material dari silikon, solar sel lapisan tipis juga dibuat dari bahan semikonduktor lainnya yang memiliki efisiensi solar sel tinggi seperti Cadmium Telluride (Cd Te) dan Copper Indium Gallium Selenide (CIGS).

Efisiensi tertinggi saat ini yang bisa dihasilkan oleh jenis solar sel lapisan tipis ini adalah sebesar 19,5% yang berasal dari solar sel CIGS [7]. Keunggulan lainnya dengan menggunakan tipe lapisan tipis adalah semikonduktor sebagai lapisan solar sel bisa dideposisi pada substrat yang lentur sehingga menghasilkan divais solar sel yang fleksibel. Kedua generasi dari solar sel ini masih mendominasi pasaran solar sel di seluruh dunia dengan silikon kristal tunggal dan multi kristal memiliki lebih dari 84% solar sel yang ada dipasaran [6].

Penelitian agar harga solar sel menjadi lebih murah selanjutnya memunculkan generasi ketiga dari jenis solar sel ini yaitu tipe solar sel polimer atau disebut juga dengan solar sel organik dan tipe solar sel foto elektrokimia. Solar sel organik dibuat dari bahan semikonduktor organik seperti polyphenylene vinylene dan fullerene.

Berbeda dengan tipe solar sel generasi pertama dan kedua yang menjadikan pembangkitan pasangan electron dan hole dengan datangnya photon dari sinar matahari sebagai proses utamanya, pada solar sel generasi ketiga ini photon yang datang tidak harus menghasilkan pasangan muatan tersebut melainkan membangkitkan exciton. Exciton inilah yang kemudian berdifusi pada dua permukaan bahan konduktor (yang biasanya di rekatkan dengan organik semikonduktor berada di antara dua keping konduktor) untuk menghasilkan pasangan muatan dan akhirnya menghasilkan efek arus foto (photocurrent) [7-8].

Tipe solar sel photokimia merupakan jenis solar sel exciton yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (dye). Jenis ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Graetzel pada tahun 1991 sehingga jenis solar sel ini sering juga disebut dengan Graetzel sel atau dye-sensitized solar cells (DSSC) [4].
 
Graetzel sel ini dilengkapi dengan pasangan redok yang diletakkan dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun solar sel seperti ini memungkinkan bahan baku pembuat Graetzel sel lebih fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti screen printing. Meskipun solar sel generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, solar sel jenis ini akan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan mengingat hargan dan proses pembuatannya yang sangat murah. 

Konversi Energi pada Solar Cell
Secara sederhana solar cell terdiri dari persambungan bahan semikonduktor bertipe p dan n ( p-n junction semiconductor ) yang jika tertimpa sinar matahari maka akan terjadi aliran electron, aliran electron inilah yang disebut sebagai aliran arus listrik.

Bagian utama perubah energi sinar matahari menjadi listrik adalah absorber (penyerap), meskipu demikian, masimg-masing lapisan juga sangat berpengaruh terhadap efisiensi dari solar cell. Sinar matahari terdiri dari bermacam-macam jenis gelombang elektromagnetik yang secara spectrum dapat dilihat pada gambar 2. Oleh karena itu absorber disini diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin solar radiation yang berasal dari cahaya matahari.

Lebih detail lagi sinar matahari yang terdiri dari photon-photon, jika menimpa permukaaan bahan solar sel ( absorber ), akan diserap, dipantulkan atau dilewatkan begitu saja ( lihat gambar 3 ), dan hanya foton dengan level energi tertentu yang akan membebaskan electron dari ikatan atomnya, sehingga mengalirlah arus listrik. Level energi tersebut disebut energi band-gap yang didefinisikan sebagai sejumlah energi yang dibutuhkan untuk mengeluarkan elektron dari ikatan kovalennya sehingga terjadilah aliran arus listrik.

Untuk membebaskan elektron dari ikatan kovalennya, energi foton ( hc/v ) harus sedikit lebih besar atau diatas daripada energi band-gap. Jika energi foton terlalu besar dari pada energi band-gap, maka extra energi tersebut akan dirubah dalam bentuk panas pada solar sel.

Tentu saja agar efisiensi dari solar cell bisa tinggi maka foton yang berasal dari sinar matahari harus bisa diserap yang sebanyak banyaknya, kemudian memperkecil refleksi dan rekombinasi serta memperbesar konduktivitas dari bahannya.

Untuk bisa membuat agar foton yang diserap dapat sebanyak banyaknya, maka absorber harus memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga memungkinkan untuk bisa menyerap sinar matahari yang mempunyai energi sangat bermacam-macam tersebut. Salah satu bahan yang sedang banyak diteliti adalah CuInSe2 yang dikenal merupakan salah satu dari direct semiconductor.

Untuk mendapatkan daya yang cukup besar diperlukan banyak sel surya. Biasanya sel-sel surya itu sudah disusun sehingga berbentuk panel, dan dinamakan panel photovoltaic (PV). PV sebagai sumber daya listrik pertama kali digunakan di satelit. Kemudian dipikirkan pula PV sebagai sumber energi untuk mobil, sehingga ada mobil listrik surya. Sekarang, di luar negeri, PV sudah mulai digunakan sebagai atap atau dinding rumah. Bahkan Sanyo sudah membuat PV yang semi transparan sehingga dapat digunakan sebagai pengganti kaca jendela. 

Lama Usia dari Solar Cell
Sebuah  PV system dengan perawatan yang baik dapat bertahan hingga lebih dari 20 tahun. Sebenarnya dengan kondisi dimana sistem solar cell tidak dipindah-pindah dan terinterkoneksi langsung pada alat listrik, modul solar cell yang melalui fabrikasi yang baik mampu bertahan hingga 30 tahun. Cara terbaik agar sistem solar cell dapat bertahan lama serta tetap stabil performansinya (efisiensinya) adalah dengan melakukan pemasangan dan perawatan yang sesuai serta dalam waktu yang teratur.

Berbagai kasus dalam permasalahan solar cell yang paling banyak dijumpai adalah dikarenakan buruknya cara pemasangan serta tidak rapinya proses instalasi. Kasus yang sering dijumpai tersebut antara lain seperti koneksi yang tidak baik, ukuran kabel yang tidak tepat, ataupun komponen yang tidak sesuai untuk aliran DC. Selain itu juga kesalahan sering terjadi pada tidak seimbangnya sistem (balance of system , BOS) bagian-bagian yang dipasang yaitu kontroler, inverter, serta proteksi komponen.

Batere dapat lebih cepat rusak jika diberi beban kerja diluar batas spesifikasinya. Pada sistem sel surya, batere digunakan dan diberi muatan secara perlahan-lahan bahkan hingga periode beberapa hari bahkan sati minggu. Kondisi ini berbeda dengan cara kerja batere yang umumnya langsung diisi segera setelah digunakan, yang menyebabkan batere pada sistem solar cell dapat lebih cepat rusak jika tidak menggunakan tipe batere yang sesuai dengan karakteristik ini. 

Sistem Pembangkit Listrik Solar Cell
Solar cell merupakan pembangkit  yang tidak hanya terdiri dari sistem konversi dari photon sinar matahari menjadi arus listrik atau yang diebut sebagai modul photo voltaik. Perlu ada sistem pendukung yang berfungsi menyimpan energi listrik yang dibangkitkan agar keluarannya dapat lebih stabil dapat digunakan saat tidak ada sinar matahari atau pada saat malam hari. serta  Satu unit sistem pembangkit listrik solar cell terdiri dari beberapa komponen antara lain adalah:
  1. Modul sel surya atau disebut juga panel Photo Voltaik (Panel PV). Modul sel surya terdiri dari beberapa jenis ada yang berkapasitas 20 Wp, 30 Wp, 50 Wp, 100 Wp. Modul PV dilihat dari jenisnya dapat berjenis mono kristal, poli kristal, atau amorphous.
  2. Penyimpan energi listrik atau dikenal dengan Aki ( battery ) yang bebas perawatan. Batere biasanya dapat bertahan 2-3 tahun. Kapasitas batere disesuaikan dengan kapasitas modul dan besar daya penggunaan listrik yang diinginkan.
  3. Pengatur pengisian muatan batere atau disebut dengan kontroler pengisian (solar charge controller). Komponen ini berfungsi untuk mengatur besarnya arus listrik yang dihasilkan oleh modul PV agar penyimpanan ke batere sesuai dengan kapasitas batere.
  4. Inverter, merupakan modul untuk mengkonversi listrik searah (dc) menjadi listrik bolak-balik (ac). Komponen ini digunakan ketika penggunaan listrik yang diinginkan adalah bolak-balik (ac). Meskipun begitu saat ini sudah banyak terdapat alat-alat elektronik maupun lampu penerang yang menggunakan tipe arus searah sehingga beberapa sistem solar cell tidak membutuhkan inverter ini.
  5. Kabel (wiring), yang merupakan komponen standar sebagai penghubung tempat mengalirkan arus listrik.
  6. Mounting hardware atau framework, yang merupakan pendukung untuk menempatkan atau mengatur posisi solar panel agar dapat menerima sinar matahari dengan baik. Biasanya framework digunakan untuk menempatkan solar panel pada posisi yang lebih tinggi dari bagian lain yang ada disekitarnya.
Pertumbuhan teknologi sel surya di dunia memang menunjukkan harapan akan solar sel yang murah dengan memiliki efisiensi yang tinggi. Sayangnya sangat sedikit peneliti di Indonesia yang terlibat dengan hiruk pikuk perkembangan tentang teknologi sel surya ini. Sudah seharusnya pemerintah secara jeli melihat potensi masa depan Indonesia yang kaya akan sinar matahari ini dengan mendorong secara nyata penelitian dan pengembangan industri di bidang energi surya ini.

Pengertian Energi Alternatif

Dalam rangka untuk mendefinisikan energi alternatif pertama-tama kita harus mendefinisikan apa itu sumber energi alternatif. Sumber energi alternatif adalah sumber energi yang bukan merupakan sumber energi tradisional ( yaitu bahan bakar fosil seperti batubara, minyak dan gas alam). Beberapa kamus misalnya kamus Oxford menempatkan sumber energi alternatif berkorelasi dengan lingkungan dan menyatakan bahwa istilah sumber energi alternatif mengacu pada sumber energi yang tidak merugikan lingkungan.

Ada banyak kontroversi tentang istilah ini dan bahkan saat ini definisi sumber energi alternatif sering dihubungkan dengan dua pendapat yang berbeda. Misalnya energi nuklir dianggap oleh beberapa pihak sebagai sumber energi alternatif sementara pihak lainnya mengatakan bahwa hanya sumber-sumber energi terbarukan yang nyata-nyata merupakan sumber energi alternatif. Situasi yang sama terjadi pada tenaga air karena beberapa pihak berpikir bahwa tenaga air merupakan sumber energi tradisional yang sama dengan bahan bakar fosil.

Untuk keluar dari kontroversi, sedapat mungkin kita menyebutkan kata energi alternatif untuk sumber energi alternatif yang paling umum yaitu energi surya, energi angin dan energi panas bumi. Sumber energi alternatif lain termasuk diantaranya adalah biomassa dan hidrogen.

Energi surya yang berasal dari matahari adalah sumber energi paling berlimpah yang tersedia di planet kita. Industri tenaga surya masih tergantung pada subsidi dan pemanfaatan energi surya masih memiliki masalah intermitten (karena matahari tidak bersinar sepanjang hari). Namun mengingat potensi, pendanaan, dan banyaknya penelitian mengenai energi surya, cukup realistis untuk mengatakan bahwa suatu saat energi surya akan menjadi sumber energi utama di dunia.

Energi angin lebih baik dalam hal persaingan harga jika dibandingkan dengan energi surya, tetapi masih memiliki masalah intermitten sama seperti energi surya. Banyak negara sudah mulai ekspansi energi angin dalam jumlah besar (terutama Cina) dan di tahun-tahun mendatang diperkirakan ladang angin (wind farm) akan berpindah ke lepas pantai karena angin laut lebih kuat dan lebih sering.

Energi geothermal mengacu pada panas yang tersimpan di inti bumi. Energi geothermal tidak seperti matahari dan angin, energi ini tersedia 24-7 namun memiliki biaya pengeboran tinggi, yang berarti bahwa pengembangan energi geothermal menggunakan teknologi saat ini hanya layak di daerah dekat lempeng tektonik. Ini juga menjadi alasan mengapa hanya ada 24 negara di dunia yang memanfaatkan energi panas bumi di saat ini.

Ketiga sumber energi alternatif ini memiliki keunggulan besar dibandingkan bahan bakar fosil tradisional, yaitu karakter mereka yang ramah lingkungan. Pembakaran bahan bakar fosil merupakan penyumbang utama perubahan iklim dan polusi udara. Ini berarti dunia perlu mengganti bahan bakar fosil dengan sumber energi alternatif sesegera mungkin untuk menghindari skenario dampak perubahan iklim yang mengerikan.

Alasan Mengapa Kenaikan Harga BBM wajar

Kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi di minggu lalu beserta huru-haranya tidak luput dari perhatian kita sebagai intelektual. khususnya warga Geografi yang mengerti betul bahwa BBM adalah salah satu sumber daya yang sangat vital bagi kehidupan manusia secara luas.

Saat ini harga BBM bersubsidi premium naik dari Rp 4.500 menjadi 6.500, sedangkan Solar naik dari Rp 4.500 menjadi 5.500. Hal ini terjadi karena kenaikan harga minyak mentah dunia. Pemerintah tidak mungkin lagi menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$90 per barel, sebab harga ICP saat ini sudah melampaui US$115 per barel. Dan untuk menyelamatkan APBN, maka, subsidi BBM tidak boleh naik, dan kalau bisa turun untuk itu.

Mengapa subsidi BBM harus dikurangi?
Sekarang kita ambil 2 asumsi.

Asumsi 1: perbandingan jumlah ekspor import minyak bumi : BBM kita adalah 2 : 3
Asumsi 2: perbandingan harga minyak dunia dengan BBM jadi adalah 2 : 3.
Asumsi 3: Jika misalnya harga minyak dunia naik 10%, katakanlah harga BBM jadi yang di konsumsi juga naik 10%. 

Inilah hitung-hitungan sederhananya:
neraca awal = harga x jumlah =  2×2 (ekspor) : 3×3 (impor) = 4:9 (belum apa-apa, APBN jebol 4-9 = 5) 

Harga setelah kenaikan 10% jadi: 4.4 : 9.9 (APBN jebol 0.5). Setiap kenaikan 10%, pemerintah jebol 0.5. Itu baru asumsi kenaikan 10%. Penambahan ini lah yang pemerintah tidak sanggup lagi untuk men-subsidi.  

Lalu, Apakah Benar Pemerintah Tidak Sanggup Memberi Subsidi BBM?
Sebenarnya masih sanggup sampai batas-batas tertentu. Yang tidak sanggup adalah men-subsidi penambahan pengeluaran yang terjadi akibat kenaikan harga itu. Sederhananya, jika kenaikan harga ini selalu diimbangi dengan penambahan subsidi, maka akan tersisa lebih sedikit uang untuk pembangunan infrastruktur. Pada tingkat yang ekstrim, bukan tidak mungkin semua anggaran habis untuk subsidi BBM. 

Apakah Ada Cara Lain Selain Menurunkan Subsidi BBM?
Jawabannya, ya dan tidak. 

Untuk jawaban ya, ada beberapa solusi jika subsidi BBM tidak diturunkan.

1. Pertama, efisiensi anggaran subsidi BBM dan listrik + belanja gaji PNS = 60% APBN. Hanya tersisa 40% untuk pembangunan infrastruktur dan lain-lainnya. Harus diakui, jumlah keseluruhan PNS yang ada di Indonesia terlalu banyak. Ini adalah warisan dari zaman orde baru yang melakukan penyerapan PNS terlalu banyak. Kita bisa mempertahankan subsidi BBM jika jumlah PNS dikurangi dan dibuat efektif. Mungkin 60% dari jumlah sekarang. 

Tapi, Ini akan susah. Sebagian dari kita pasti tahu bahwa se-begitu nyamannya menjadi PNS, banyak orang termotivasi menjadi PNS karena benefitnya. Sampai-sampai orang yang tidak punya koneksi, bersedia menyuap 20-80 juta per kursi. Orang yang punya koneksi, menitipkan kerabatnya untuk menjadi PNS.

Merampingkan jumlah PNS juga tidak bisa dalam 1-2 hari. Sedangkan minyak bumi bisa naik dari $80/barrel menjadi $120/barrel dalam 2 hari. 

2. Kedua, berantas korupsi yang ada di mana-mana. Gayus Tambunan (koruptor pajak) punya aset 100 milyar dari hasil penggelapan pajak. Dimana jika semua perusahaan yang ditangani oleh Gayus membayar pajak semestinya, negara bisa mendapatkan trilyunan. Apakah hanya Gayus saja? Tidak! Salah satu contohnya ada Bahasyim Asyafii (mantan Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak) yang punya asset 800 milyar lebih dari penggelapan dan pencucian pajak. Itu baru dari sektor pajak.

Anggota DPR juga tidak lebih baik. Setiap kali Pemerintah Daerah meminta dana untuk membangun infrastruktur, Badan Anggaran meminta fee antara 4-6% atau bahkan 10% dari nilai permintaan. Pernah ada satu cerita bahwa seorang bupati yang tidak memiliki cara lain selain menyuap anggota DPR untuk mendapatkan dana untuk membangun daerahnya. Sang bupati sampai harus meminta uang pada anak-anak buahnya. Orang baik pun dipaksa menjadi jahat untuk mendapatkan uang dari badan anggaran. 

3. Ketiga, menggunakan APBN yang tersisa untuk membangun infrastruktur energy terbarukan, atau bangun PLT dengan tenaga batu bara. Contohnya:
     1)   Pastikan setiap lampu fasilitas umum memiliki energy dari solar panel. Bupati Sarmi, Eduard Fonataba di Papua membuat terobosan di mana beliau menggunakan APBD kabupatennya untuk menginstall solar panel di setiap rumah warganya, gratis. Multiplier effect yang ditimbulkan:
    - Daerah tersebut tidak perlu meminta PLN untuk menggali kabel sampai daerah yang memang terbilang jauh ini (cost saving untuk APBN). 
   - Rakyat Sarmi yang biasanya membeli solar untuk menerangi rumahnya, sekarang memiliki energy gratis dari matahari. Tiba-tiba daya beli rakyat papua meningkat karena uang yang tadinya habis untuk solar, dapat digunakan untuk keperluan lain. 
     2)   Sekarang 51% energi yang digunakan PLN berasal dari batu bara karena solar sudah terlalu mahal. Ini adalah langkah yang tepat, sebelum mengembangkan sumber energi alternatif lainnya.
     3)    Bangun PLT panas bumi (PLTG = pembangkit listrik tenaga geothermal). Tenaga panas bum gratis dan ada secara cuma-cuma bagi Indonesia. Kita hanya perlu mengharnessnya.

Pada intinya, penggunaan APBN sudah seharusnya memiliki porsi yang tinggi untuk digunakan membangun infrastruktur pengelola energi yang gratis dan berlimpah. Seperti: tenaga matahari, batu bara (cadangan batu bara Indonesia cukup untuk 200 tahun dibandingkan minyak bumi yang cukup untuk 12 tahun), sumber tenaga angin untuk daerah-daerah pesisir yang menghadap hamparan samudera.

Untuk tenaga angin ini, Indonesia adalah lokasi pertemuan dua angin besar dari hamparan samudera pasiik dan hindia. Keduanya bertabrakan di Indonesia sehingga saling membatalkan. Artinya kecepatan anginnya sangat rendah dan tidak cukup untuk membangun energi. Tetapi, ada beberapa pesisir pantai di Indonesia yang mendapatkan angin kencang konstan sepanjang tahun. 

4. Keempat, membangun lebih banyak kilang refinasi. Dengan ini, kita bisa mengurangi konsumsi BBM jadi dan hanya membeli minyak mentah. Dengan begitu, kita bisa lebih hemat. Berbeda dengan keadaan sekarang dimana kita harus menjual 3 barrel minyak mentah untuk membeli 1-2 barrel BBM jadi. Ini disebabkan salah satunya karena kilang refinasi kita tidak cukup banyak. Kalau banyak, maka minimal rasionya bisa lebih seimbang.

5. Kelima, mengurangi subsidi BBM. Ini adalah solusi yang paling cepat dan bagus karena dua faktor:
  1. Bagus karena minyak bumi bisa naik dalam 1 hari. Sedangkan 4 solusi pertama butuh 5-10 tahun untuk membuatnya.
  2. Bagus asalkan hasil dari pengurangan subsidi ini dipakai untuk membangun 4 opsi pertama. Dan in lah niat pemerintah. 
Tapi, pengurangan subsidi BBM ini selalu dipolitisir olehartai-partai politik yang menggunakan isu ini untuk memperlihatkan pada rakyat bahwa mereka membela rakyat. Maklum, pemilu tinggal hitungan bulan. Di depan TV dan kamera mereka tampak membela rakyat hari ini. 

Masalahnya adalah, dengan tidak adanya pengurangan subsidi, akan lebih sedikit uang di APBN untuk membangun infrastruktur pengelolaan energi yang ada diatas. Efeknyakita mungkin tidak akan merasakan dampaknya terlalu besar. Tapi anak cucu kita siapa tahu?..  

Kemudian timbul pertanyaan.. 

1. Mau berantas korupsi dulu sebelum mencabut subsidi BBM? Perlu waktu puluhan tahun untuk membereskannya. Dari zaman Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY, lihat! semuanya belum bisa memberantas korupsi.
2. Mau membangun kilang refinasi, PLTG, atau membangun kincir angin sebelum mencabut subsidi BBM? Pertama, itu membutuhkan waktu 3-5 tahun, atau lebih. Dan kenaikan harga minyak tidak bisa ditunda.
3. Mau merampingkan jumlah PNS? butuh berbulan-bulan prosesnya, jika tidak bertahun-tahun. Belum lagi pasti ini dipolitisir oleh anggota DPR atas nama yang sama dengan menahan cabutan subsidi BBM. Yaitu, “Atas nama Rakyat”. 

Mencabut subsidi BBM bukan satu-satunya opsi. Tapi kenaikan harga minyak bumi itu nyata. Benar-benar nyata. Dan opsi-opsi lain yang ada, perlu waktu bertahun-tahun sebelum efeknya kita rasakan.

sumber:
http://www.indoenergi.com
http://habibiecenter.or.id/detilurl/id/181/news/Subsidi.BBM.dan.Uji.Nyali.Pemerintah
http://duniabaca.com/kenapa-harga-bbm-naik.html
http://www.bphmigas.go.id/bbm/harga-bbm/harga-bbm-nasional.html 

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -