Popular Post

1 Mar 2014


Oleh: Diana Prasastiawati
Foto: Wahyu Widyatmoko, S. Pd.

Pengaruh Bentuklahan terhadap Perkembangan Peradaban Manusia di Masa Lampau


Kumpuan mahasiswa geografi FIS UNY pecinta diskusi yang tergabung dalam Physical Geography Study Club (PGSC) kembali menggelar diskusi ilmiah untuk yang ke-3 kalinya, Jumat (21/2) kemarin. Diskusi ilmiah yang mengusung tema “Pengaruh Bentuklahan terhadap Perkembangan Peradaban Manusia di Masa Lampau” ini bertempat di Ruang Kuliah G01.214 Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Diskusi yang digelar Jumat lalu merupakan diskusi rutin yang dilaksanakan tiap bulan sejak diresmikannya PGSC sebagai komunitas belajar geografi fisik pada tanggal 23 Desember 2013. Meskipun tergolong kegiatan baru, namun kegiatan diskusi ilmiah ini mampu menyatukan mahasiswa geografi berbagai angkatan untuk bersama-sama mengkaji, mepelajari, dan mendiskusikan berbagai permasalahan mengenai geografi fisik, khususnya mengenai kenampakan bentanglahan.
Diskusi yang dimoderatori oleh Akhmad Ganang Hasib (2010) ini dilaksanakan dalam 2 sesi diskusi, sesi pertama dimulai pukul 09.00 dan sesi kedua dimulai pukul 13.00 sampai dengan pukul 15.30 WIB. Sesi pertama diskusi merupakan sesi diseminasi paper oleh alumni dan mahasiswa geografi FIS UNY. Pada kesempatan ini, paper disampaikan oleh: Hermawan Kuswantoko, S.Pd, Edi Widodo (2012), Dimas Aditya Putra Wahindra (2012) dan Andika Surya Ardi (2013). Penyaji pertama, Andika (2013) dan Dimas (2012) menyampaikan hasil paper yang berjudul “Aspek Morfologi dalam Kehidupan Masyarakat Pra-Modern di Sekitar Situs Candi Gunung Wukir dan Candi Gunung Sari”. dalam papernya, kedua mahasiswa pendidikan geografi yang juga tergabung dalam HMPG FIS UNY ini menyampaikan analisis keadaan bentanglahan masa lampau di sekitar situs Candi Gunung Wukir dengan melakukan observasi pada perkembangan bentanglahan di daerah sekitar situs tersebut baru-baru ini. Hasil observasi pada bentanglahan tersebut kemudian dikaji dan dikaitkan dengan kehidupan masyarakat pra modern di sekitar situs candi, khususnya pada saat perkembangan agama Hindu-Budha di Indonesia. Sementara itu paper kedua disampaikan oleh Hermawan Kuswantoko, S.Pd dan Edi Widodo (2012). Paper kedua yang mengangkat judul “Aspek-Aspek Bentanglahan yang Mempengaruhi Perkembangan Permukiman Masa Lampau di Kompleks Candi Asu Kecamatan Dukun” ini juga disusun berdasarkan observasi di lapangan oleh kedua penyaji. Hasil pembahasan pada paper kedua mengindikasikan kemampuan masyarakat masa lampau dalam memilih tempat bermukim di sekitar kompleks Candi Asu yang saat ini termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sesi pertama diskusi ilmiah yang memadukan antara ilmu alam dan sosial budaya masyarakat ini tepat berakhir pukul 11.30 WIB.

Berselang satu setengah jam dari diskusi sesi pertama, sesi kedua diskusi mengundang Dosen Pendidikan Geografi, Arif Ashari, M.Sc dan Dosen Pendidikan Sejarah, Danu Eko Agustinova, M.Pd sebagai keynotes speaker untuk mengklarifikasi dan membantu mengkaji kedua paper pada sesi pertama menurut sudut pandang keilmuan masing-masing. Namun karena ada tugas lain yang tidak dapat ditinggalkan, Dosen Pendidikan Sejarah, Danu Eko Agustinova, M.Pd tidak dapat hadir. Dengan demikian diskusi pada sesi kedua hanya dibersamai oleh Arif Ashari, M.Sc. Pada diskusi kedua ini, Arif Ashari M.Sc juga memaparkan penjelasan yang dikemukakannya dengan judul, “Aspek Morfologi Candi di sekitar Lembah Progo”. Dalam pemaparan dan klarifikasinya Arif menjelaskan, keadaan bentanglahan pada kedua situs candi yang telah disampaikan pada diskusi pertama dapat menjadi kunci dari analisis mengenai bentanglahan dan kehidupan sosial budaya masyarakat pada masa lampau. Menurutnya, pembangunan permukiman dan kehidupan masyarakat masa lampau saat itu telah memperhatikan aspek bentanglahan meskipun ilmu yang mempelajari mengenai bentanglahan baru berkembang dewasa ini. Hal ini dibuktikan dengan keadaan bentanglahan di sekitar candi yang dekat dengan sumber air, juga dikelilingi rangkaian vulkan yang menyebabkan tanah di sekitar daerah tersebut subur, dan cocok dijadikan pemukiman. Selanjutnya disampaikan oleh Arif, menurut sudut pandang geomorfologi, morfogenesa daerah yang biasa dipilih oleh manusia masa lampau untuk mendirikan peribadatan (candi) dan permukiman antara lain daerah yang terletak pada deposisi sedimen dengan permeabilitas yang baik, dan tanah tidak bergerak. Selaras dengan penjelasan Arif dari sudut keilmuan, kedua situs candi yang telah diobservasi oleh penyaji pada diskusi pertama pun menunjukkan ciri-ciri yang sama. Kesamaan hasil observasi oleh kedua tim penyaji dengan kajian yang disampaikan oleh keynotes speaker pada diskusi sesi kedua menjadi penutup diskusi rutin kali ini. Dengan demikian, diskusi yang berakhir pada pukul 15.35 WIB ini menghasilkan kesimpulan, bahwa keadaan bentanglahan masa kini merupakan kunci dari perkembangan bentuklahan di masa lampau (the present is the key to the past).





- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -