Popular Post

16 Mar 2015

  Magelang (14/3). Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta yang tergabung dalam Physical Geography Study Club (PGSC) kembali menggelar acara lapangan pertama di tahun 2015 ini. Kegiatan yang  mengusung tema “Eksplorasi Lembah Merapi-Merbabu” ini diikuti oleh 52 orang peserta yang terdiri dari berbagai angkatan. Kegiatan ini dibersamai oleh salah satu Dosen Pendidikan Geografi, Arif Ashari, M.Sc. Pada kegiatan “Eksplorasi Lembah Merapi-Merbabu” ini para peserta dibagi kedalam lima kelompok penelitian, dimana setiap kelompok memiliki tema penelitian masing-masing diantaranya mengenai penggunaan lahan (landuse), hidrologi, cuaca dan Iklim, keadaan sosial ekonomi, dan kearifan lokal masyarakat yang ada di sekitar lokasi pengamatan.

          Kegiatan dimulai pada pukul 08.30 WIB dengan agenda  pemberangkatan para peserta  dari Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan sampai di lokasi pertama yaitu Candi Asu sekitar pukul 10.00 WIB. Candi Asu merupakan sebuah candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi Pos, Kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Candi ini merupakan salah satu candi peninggalan zaman kerajaan Mataram Kuno dari trah Wangsa Sanjaya (Mataram Hindu). Candi Asu ini terletak di lereng Gunung Merapi sebelah barat di tepian Sungai Tlingsing Pabelan. Menurut masyarakat sekitar, pemberian nama Asu pada candi ini dikarenakan ketika pertama kali ditemukan terdapat sebuah patung Lembu Nandhi yang wujudnya mirip seperti Asu (Asu dalam bahasa Jawa berarti Anjing).
Gambar 1.1 Nampak depan Candi Asu

Gambar 1.2 Candi Asu
          Dalam lokasi pertama ini, beberapa kelompok yang telah dibagi sebelumnya  langsung melakukan pengamatan mengenai penggunaan lahan (landuse) di sekitar candi, melakukan pengukuran suhu dan kelembaban udara di sekitar candi, serta kehidupan sosial ekonomi dan kearifan lokal masyarakat sekitar. Di Candi Asu ini juga terdapat fenomena menarik dimana di bagian tengah candi terdapat lubang sekitar 2 meter yang merupakan lubang bekas sumur dan didalamnya ditemukan  beberapa koin. Masyarakat sekitar Candi Asu pun tidak ada yang tahu pasti mengapa di bagian tengah candi tersebut terdapat koin-koin yang diduga sengaja dilemparkan oleh warga masyarakat. 
Gambar 1.3 Lubang bekas sumur yang didalamnya terdapat beberapa koin
           Perjalanan pun dilanjutkan menuju Candi berikutnya yang jaraknya tidak begitu jauh dari Candi Asu yaitu Candi Pendem. Bentuk dari Candi Pendem juga tidak begitu jauh berbeda dengan Candi Asu. Pada Candi Pendem juga ditemukan lubang pada bagian tengah candi. Di sekitar jalan menuju ke Candi Pendem kita bisa menjumpai berbagai macam jenis pertanian yang dibudidayakan oleh masyarakat sekitar. Diantaranya seperti cabai, sawi, singkong, dan beberapa jenis sayuran lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tanah yang berada di sekitar Candi Asu dan Candi Pendem ini termasuk jenis tanah yang subur karena banyak dimanfaatkan oleh masayarakat sekitar untuk media tanaman.
Gambar 1.4 petunjuk jalan menuju Candi Pendem

Gambar 1.5 Candi Pendem nampak depan
        Setelah beristirahat di salah satu Sekolah Dasar yang terletak tidak jauh dari lokasi Candi Asu, perjalanan pun dilanjutkan menuju lokasi kedua yaitu menyusuri Sungai Apu di bawah lereng Gunung Merapi. Jalan menuju Sungai Apu ini sudah di aspal, namun masih terdapat banyak lubang-lubang besar sehingga para pengedara kendaraan baik roda dua maupun roda empat pun harus tetap berhati-hati ketika melewati jalan ini. Untuk bisa masuk menelusuri bantaran Sungai Apu, kita juga harus melewati turunan jembatan yang cukup curam. Ketika melewati jembatan ini para pengendara kendaraan khususnya roda dua harus ekstra hati-hati jika tidak ingin tergelincir.
Gambar 1.6 Para pemecah batu yang tersebar disekitar Sungai Apu
          Memasuki kawasan bantaran Sungai Apu, maka kita akan disambut oleh beberapa pekerja pemecah batu yang terhampar di sekitar bantaran Sungai Apu. Sungai Apu sendiri terleak di Desa Telogolele, Selo, Boyolali. Pada batas pinngir tebing yang membatasi Sungai Apu terlihat jelas tebing tanah yang menjulang tinggi disertai dengan kenampakan horison tanahnya yang tegas. Di sekitar Sungai Apu ini kita juga dapat menemukan bongkahan-bongkahan batu berukuran besar. Menurut Arif Ashari, M.Sc selaku Dosen Geografi batu-batu berukuran besar tersebut adalah berasal dari erupsi pada tahun 2010 silam. Sungai Apu sendiri merupakan bagian dari Sungai Pabelan. Pada saat erupsi tahun 2010 lalu, Arif Ashari, M.Sc menjelaskan bahwa tidak ada satupun jembatan yang tidak roboh akibat terjangan lahar dari Gunung Merapi tersebut, mulai dari hulu yang berada di Sungai Pabelan sampai di bagian hilir di Sungai Progo semua jembatan yang dilalui erupsi Merapi mengalami kerusakan yang parah. Bahkan kerusakan tersebut sampai memutuskan jalur transportasi antar desa.


        Setelah beberapa jam berada di Sungai Apu, tim PGSC melanjutkan perjalanan menuju rumah salah satu rekan PGSC di lembah Gunung Merapi untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke jogja. Itulah beberapa cerita menarik mengenai “FieldTrip” PGSC ke Lembah Merapi-Merbabu beberapa saat lalu. Ditunggu partisipasi pada FieldTrip PGSC selanjutnya. Salam PGSC! Salam Eksplorasi Indonesia !! (Hapsari)

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -