Popular Post

27 Jun 2015

oleh : Arif Budiman
(Juara I Lomba Geo Fiksi)



“Cok! tak ada waktu.”
Dia kira keluargaku harus berpuasa terus-terusan. Apalagi musim ini, hasil panen padi tak bisa balik modal gara-gara wereng. Entah lah siapa yang ngirim wereng seganas itu, semenjak Pak Lurah baru itu memergoki intrikku, nasibku sial terus. Jangan-jangan santet pak Lurah.
Hush.. Cok! Pikiranku kacau lagi. Harusnya aku fokus warta berita hangat ini. Kemarin-kemarin warta berita besar selalu luput dari tangan, termasuk yang sangat kusesali, laki-laki tua meninggal disrunduk lembunya sendiri. Katanya sih gara-gara rumput yang dimakan lembu terkontaminasi cairan kimia, setelah itu lembu hilang kendali dan mengamuk apa saja yang terlihat. Jelang beberapa jam kemudian lembu itu ikut mati.
Mungkin hanya aku wartawan yang benar-benar wartawan. Jika aku merasa tak punya pengetahuan dalam warta berita, aku pasti mundur, meski aku mendengar doa keluargaku menunggu kiriman. Tapi, bukankah itu yang namanya profesionalitas. Mungkin karena perihal ini cita-citaku sedari dulu.
Maka dari itu kali ini aku mengajak temanku lulusan Kehutanan UGM. Hanya saja dia tidak bisa ikut.
                                                                ***

Ternyata hutan ini sudah ada perubahan. Dulu masa kecilku akses menuju Brumbun—pemandian air panas―sangat sulit. Tak ada jalan beraspal seperti ini. kalau mau ke Brumbun nyawa taruhannya. Bagaimana tidak? Hewan-hewan masih banyak termasuk hewan buas. Belum lagi bambu-bambu buas, orang pedalaman dan kita harus bermalam di sana.
Kini pakai motor sudah bisa. Tak usah susah payah untuk mandi ke sana. Biasanya penyakit-penyakit kulit diobati di sini. Air panas alami ini.
“Kalau tempat ini di jogja, sepanjang perjalanan kita selalu berpapasan dengan turis-turis dan yang pasti ramai sekali.”

Mungkin kata itu yang keluar dari teman kuliahku. Hanya bisa kutertawakan. Pikirannya hanya megah dan mewah. Adakah pikiran anak cucunya? Cok! payah sekali orang semacam ini.
Brumbun memang hari-hari biasa sepi, namun berhubung ada kasus kematian santri Pesantren Sunan Drajat, kini penuh sesak. Mobil-mobil polisi, warga sekitar, keluarga korban, santri-santri, wartawan-wartawan, dan beberapa orang yang tak jelas statusnya.
“Siapa ya yang bakar?”
“Mungkin dia dibakar orang.”
“Ya pasti! Siapa lagi kalau bukan orang?”
“Mungkin setan, atau kutukan, atau petir, atau lagi....”
Suara bising datang dari sudut manapun. Hanya kemungkinan kecil yang tepat pada pembicaraan mereka.
Mayat tergeletak tak jauh dari kolam pemandian air panas. Garis polisi dibentang dan diikat di pohon jati yang menjulang tinggi sampai tak terlihat ujungnya.
Ada beberapa kematian di dekat kolam air panas ini, namun baru kali ini korban terbakar. Sebelum-sebelumnya hanya karna masalah percintaan anak muda sampai pembegalan. Peristiwa ini sangat berpeluang mendatangkan rezeki banyak. Tinggal aku ulur-ulur saja kenyataanya, biar banyak pertanyaan, dan aku takkan kehabisan bahan.
Pakar geologi menyebutnya ada cairan kimia liar bebarengan dengan keluarnya air panas, namun beda jalur dengan air. Kata Pak Kiai mungkin itu adzab bagi santri. Kata Pak Dokter dia terkena virus baru yang ganas.
Aku anggap semua itu benar. Biar laporan beritaku lebih panjang. Dan yang pasti keluargaku tak sering-sering berpuasa. Kasihan mereka.
Orang-orang mulai memenuhi Brumbun. Bukit yang biasa dipakai mesum orang, kini penuh. Semak belukar rusak diterjang krumunan. Hampir tak ada tempat duduk. Hanya sisa tempat untuk sapi-sapi yang mencari makan.
Ambulan sudah datang. Mayat siap dipulangkan. Dari pada di sini hanya buat tontonan dan difoto, alangkah malangnya si Mayat. Padahal semasa hidup setidaknya dia santri Pesantren Sunan Drajat.
“Lihat ke sana, Nak!”
Sesaat mata terfokuskan pada mayat yang diangkat ke ambulan, nenek tua yang tak kukenal itu menuding ke arah yang sulit kujangkau.
“Bagaimana, Nek?”
“Ada apa, Nek?”
“Lihat saja!”
Aku digiring nenek menjauhi krumunan.
“Kamu akan mengetahui pohon-pohon, rerumputan, binatang di sana?”
“Apa itu ada hubungannya dengan berita ini. atau bisa memperkaya keluargaku, Nek?”
“Diam!”
Nenek tua renta menatap tajam kepadaku. Melewati akar-akar pohon besar kita ke arah tudingan si Nenek. Akar-akar besar rasanya panas. Mungkin karena cuaca.
“Nenek, orang mana?”
“Aku dari selatan.”
“Selatan?”
“Tak penting. Kamu mau kaya kan?”
“Oh, pasti, Nek.”
“Ayo!”
Sesampainya, aku dapati pemandangan yang indah. Rumput terhampar ditiup angin sayu. Menari senada dengan perasaan ini. aku sangat bahagia waktu itu.
Di sini ada ribuan sapi gemuk sehat sedang makan rumput dengan tenang. Mungkin ini hadiah dari nenek tadi. Dan berbagai hidangan hangat.
Aku teringat istriku, anakku, orang tuaku, keluargaku. Ternyata mereka bersendagurau bersama sapi-sapi itu. kudekati  mereka. Ingin kuraih tangan mereka.
Langkahku terasa semakin panas dan memanas. Tetapi aku harus berlari. Anak-anakku memanggilku, sedangkan istriku menari-nari.
“Ayah! Ayah!”
“Sayang, kemarilah!”
Aku menoleh kebelakang.
“Sapi! Sapi! Sapi! Sapi!”

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -