Popular Post

22 Sep 2015



      Kabut asap, kebakaran hutan, banyak orang di Palembang menderita gangguan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), pasti itu yang saat ini sering kita dengar dari berita di televisi, Koran-koran, radio, dan media massa yang lain. Berita itupun telah diketahui oleh semua orang dari seluruh pelosok negeri. Ya benar, sepanjang September ini Palembang diselimuti kabut asap setiap hari. Kabut asap tersebut merupakan dampak dari terbakarnya banyak hutan dan lahan di Palembang. Entah kebakaran hutan karena pengaruh cuaca atau memang sengaja dibakar oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk tujuan tertentu. Kabut asap yang ditimbulkan bukan hanya di Palembang, namun menyelimuti beberapa kawasan lain di Sumatera Selatan. Akibatnya banyak aktivitas-aktivitas manusia yang terganggu terutama dalam bidang transportasi baik darat maupun udara, kabut tersebut mengganggu jarak pandang masyarakat, sehingga akan sangat berbahaya apabila tetap berkendara. Gangguan ISPA marak diderita oleh masyarakat dari berbagai kalangan usia mulai dari bayi, balita, hingga orang-orang tua. Namun, semenjak hujan mengguyur daerah jambi pada 20 September 2015, kabut asap sedikit berkurang diikuti dengan kualitas udara yang semakin baik meskipun belum normal, hujan dalam intensitas kecil juga terjadi di beberapa daerah lainnya yang diharapkan akan mengurangi banyaknya kabut asap di beberapa daerah di Sumatera Selatan.

sumber : rmolsumsel.com
        Kebakaran hutan yang ditimbulkan karena pengaruh musim kemarau tak dapat dihindari lagi, kita dapat memperhatikan titik-titik api yang cukup tinggi di wilayah hutan terutama di hutan gambut, cara memperhatikannya yaitu berupa terjun langsung untuk mengamati titik tersebut secara rutin maupun dengan memasang detector apabila mulai ada kebakaran kecil untuk mengatasi terjadinya kebakaran hutan yang membesar. Untuk mengatasi kebakaran hutan yang disengaja, perlu dikerahkan aparat maupun partisipasi masyarakat untuk secara rutin berpatroli mengawasi berbagai wilayah hutan. Sangat disayangkan bila membakar hutan hanya untuk membuka lahan, dampak yang akan ditimbulkan kedepannya akan sangat merugikan masyarakat. Kegiatan ekonomi memang sangat bertentangan dengan lingkungan, manusia ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan dampak yang akan dirasakan di kemudian hari. Tetapi akan lebih baik jika ada timbal balik yang kita berikan untuk alam sebagai ganti dari apa yang alam berikan kepada kita.

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -