Popular Post

17 Nov 2015


 Nesha Ichida, Tasya Kamila, Muhammad Carlos

Program Kerja ‘Indonesia Environmental Summit’ 2015 dibuat oleh Kementerian Lingkungan BEM Kema Universitas Padjadjaran yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Dimana didalamnya, tersusun rangkaian acara yang memberikan bekal bagi berbagai mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menjadi salah satu inisiator muda dalam perubahan paradigma masyarakat terkait perubahan perilaku peduli lingkungan di daerah masing-masing.
Indonesia Environmental Summit adalah sebuah ajang prestisius pertama yang berfokus pada masalah dan solusi lingkungan dengan melibatkan mahasiswa dari seluruh Indonesia, NGO, komunitas, serta pembicara dari berbagai kalangan seperti akademisi, aktivis, birokrasi, dan korporasi. Acara ini diselenggarakan di Universitas Padjajaran Jatinangor tanggal 5 -  8 November 2015.
 Peserta Indonesia Environmental Summit 2015

Acara ini menghadirkan pembicara-pembicara yang luar biasa yang tentunya sudah ahli di bidang lingkungan. Meskipun saya sempat kecewa karena pembicara yang saya tunggu-tunggu yaitu Bapak Ridwan Kamil dan Ibu Tri Rismaharini atau yang akrab dipanggil dengan nama Ibu Risma tidak dapat hadir karena ada suatu keperluan yang mendesak. Namun meski begitu, pembicara lain tidak kalah luar biasanya dengan kedua tokoh yang saya sebutkan di atas.
Pembicara yang membuat mata saya selalu memperhatikan materi yang disampaikannya adalah Nesha Kannama Ichida, Tasya Kamila, dan Muhammad Carlos. Mereka mengemas materi yang disampaikan secara ringan dan menyampaikannya tanpa basa basi sehingga lebih mudah dimengerti dan tidak membosankan. Nesha Ichida membagikan pengalamannya selama dikirim ke Arctic dalam program youth4arctic, kalimat yang beliau sampaikan dan selalu saya ingat adalah bahwa es di Arctic setiap tahunnya mencair hingga 8 meter. Coba dibayangkan, hamparan es yang sangat luas di Arctic mencair hingga 8 meter setiap tahunnya? Pastinya dampak yang akan ditimbulkan sangatlah besar, terutama untuk Negara kepulauan seperti Indonesia, akan ada banyak pulau-pulau yang tenggelam jika permukaan lautan meninggi. Nah, untuk meminimalisir atau setidaknya mengulur waktu dari dampak mengerikan tersebut, kita bisa melakukan beberapa langkah yang mudah dilakukan namun memiliki dampak positif yang besar, diantaranya adalah:

  1. Menanam pohon
  2.  Kurangi penggunaan kertas
  3.  Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor
  4.   Kurangi penggunaan plastic
  5.  Hemat penggunaan listrik



Selain diskusi mengenai isu-isu kelingkungan, Indonesia Environmental Summit juga mengadakan Green Expo berisi pameran dari 16 komunitas NGO dan Green Business. Arboretum Festival yang mengajak delegasi mahasiswa dari seluruh universitas yang mengikuti acara untuk menanam pohon sebagai bentuk implementasi kepedulian lingkungan.
 Delegasi mahasiswa dalam penanaman pohon
Dewi Rahmawati sebagai wakil UNY dalam aksi penanaman pohon

 Selain itu, peserta mengadakan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar kampus Padjajaran untuk mengurangi penggunaan plastic, dan menggantinya dengan menggunakan Reusable bag yang dibagikan oleh peserta kepada masyarakat. Acara terakhir yang kami lakukan adalah Green Movement, yaitu para peserta berjanji untuk mengurangi penggunaan plastic dalam kehidupan sehari-hari yang diharapkan dapat menularkan kebiasaan tersebut di daerah masing-masing.
Saya sangat bangga dapat berpartisipasi dalam acara ini, dapat bertemu dengan pembicara-pembicara yang luar biasa, mendapatkan teman dari berbagai universitas di Indonesia, dan tentunya memperoleh wawasan pengetahuan tentang lingkungan yang dapat diimplementasikan di kampus atau masyarakat di sekitar saya. Auf Wiedersehen ! (Dewi Rahmawati)

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -