Popular Post

Archive for December 2016

Continuing Education sebagai Upaya Pelestarian Nilai-Nilai Kearifan lokal




Indonesia merupakan negara yang terletak pada tiga lempeng raksasa yaitu Lempeng Hindia-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Letak tersebut mengakibatkan negeri ini kaya akan potensi bencana alam meliputi gempa bumi, vulkanisme, tsunami, dan longsor. Bukan hanya itu saja, lokasi Indonesia yang berada pada wilayah tropis mendukung munculnya bencana alam lain seperti kebakaran hutan, kekeringan, badai dan banjir.

Pudarnya Local Wisdom sebagai Upaya Mitigasi Bencana

Kondisi negara Indonesia yang tidak hanya melimpah akan potensi SDA dan SDM, akan tetapi disertai juga dengan melimpahnya potensi bencana alam yang tinggi dan beragam mengakibatkan timbulnya proses adaptasi yang dilakukan oleh pribumi sejak jaman dahulu. Proses adaptasi tersebut kemudian dikenal sebagai kearifan lokal atau local wisdom. Menurut Juniarta (2013) kearifan lokal merupakan tata nilai kehidupan yang terwarisi dari satu generasi ke generasi berikutnya yang berbentuk religi, konstruksi bangunan, budaya ataupun adat istiadat yang umumnya berbentuk lisan dalam suatu sistem sosial masyarakat.

Beragamnya potensi bencana alam dan kondisi lingkungan disetiap tempat menimbulkan pola adaptasi masyarakatnya yang berbeda. Hal ini mengakibatkan nilai kearifan lokal pada masing-masing wilayah menunjukan sikap dan perilaku yang berbeda dalam menanggulangi suatu bencana, maka wajar saja jika di Indonesia terdapat beragam nilai-nilai kearifan lokal. Pada wilayah Simeulue misalnya, berkembang kesadaran masyarakat untuk menanam mangrove. Terbukti, saat tsunami di Aceh Tenggara, tinggi gelombang yang sampai di daratan hanya mencapai 2-4 meter. Berbeda dari ketinggian tsunami di Meulaboh dan Banda Aceh, yang mencapai 20 meter. Tentunya nilai-nilai tersebut mengajarkan mengenai bagaimana perilaku yang sesuai dalam memanfaatkan sumber daya alam, sehingga keberadaan sumber daya tersebut dapat lestari dan mampu berfungsi secara optimal.

Eksistensi nilai-nilai kearifan lokal yang telah ada sejak dahulu pada masyarakat Indonesia kini mulai memudar, hal ini disebabkan karena arus moderenisasi yang membawa dampak terhadap kemajuan IPTEK sehingga pertukaran informasi berupa kebudayaan dari negara lain dapat mudah didapatkan oleh masyarakat Indonesia. Kebudayaan luar cenderung menjadi panutan yang wajib untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari oleh generasi muda karena dianggap lebih relevan dan tidak kuno sehingga proses regenerasi nilai kearifan lokal menjadi terhambat. Selain itu, dampak moderenisasi bahkan mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan mulai dari jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi, materi yang diajarkan lebih mendalami teori-teori barat dari pada kebudayan sendiri. Hal ini lah yang kemudian menjadi penyebab hilangnya nilai-nilai kearifan lokal akibat tidak adanya manajemen yang terstruktur dalam upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia khususnya mengenai pendidikan.

Cara Pelestariannya?

Kearifan lokal merupakan suatu budaya yang tidak hanya sebatas untuk diketahui melainkan perlu pemahaman mendalam dan tindakan untuk memaknai nilai-nilai tersebut, sehingga perlu adanya pendidikan berkelanjutan (continuing education). Pendidikan berkelanjutan dapat diartikan sebagai kesempatan belajar bagi setiap orang untuk mengembangkan kemampuan berupa kognitif, psikomotorik, dan afektif. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan berkelanjutan adalah sebuah upaya seseorang untuk selalu mengembangkan dan mengaplikasikan kemampuan serta pengetahuan yang dimiliki sampai batas hayatnya. Dengan pendidikan berkelanjutan maka nilai kearifan lokal mampu dikenalkan secara intensif sejak dini terhadap generasi muda oleh keluarga dan masyarakat melalui pendidikan informal, kemudian proses tersebut akan dikembangkan lagi pada jenjang pendidikan formal sehingga konsep dari pendidikan berkelanjutan sendiri adalah proses penyampaian nilai-nilai kearifan lokal secara berkesinambungan dengan tujuan agar nilai-nilai tersebut mampu dipahami, diterapkan dan bahkan terinternalisasi (mendarah daging) pada diri peserta didik akibat dari proses penyampian, praktek, dan kontrol yang dilakukan secara terus menurus oleh pihak kelurga, pendidik dan masyarakat.

Berdasarkan UU No 20 tahun 2003 pasal 13 ayat 1 bahwa jalur pendidikan teridiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal. Proses pelestarian nilai kearifan lokal pada pendidikan informal (keluaraga dan masyarakat) dapat dilakukan dengan cara: 
1). Penanaman nilai-nilai kebudayaan sejak usia dini misalnya dengan memasukan unsur-unsur nilai     kearifan lokal saat bercerita atau mendongeng, 
2). Pendirian organisasi masyarakat berbasis kebudayaan sebagai penjaga, pelestari serta kontrol sosial mengenai nilai-nilai kearifan lokal, 
3). Melakukan penerapan nilai-nilai kearifan lokal secara langsung seperti pemberlakuannya larangan dalam penebangan pohon di pinggir sungai dan lain-lain, 
4). Penyampaian nilai kearifan lokal melalui hiburan rakyat seperti wayang kulit dan tari-tarian, 
5). Pendirian sarana seperti taman budaya sebagai tempat yang berfungsi sebagai pengembangan dan pelestarian budaya. 
Sedangkan untuk pendidikan formal proses pelestariannya dapat berupa: 
1). Pemberian materi sesuai dengan kemampuan peserta didik contoh pada jenjang SD dan SMP diberikan materi mengenai kearifan lokal masyarakat setempat sedangkan pada jenjang SMA dan PT dapat diberikan materi mengenai kearifan lokal pada wilayah lain, 
2). Memperkayamateri berupa kearifan lokal khususnya pada mata pelajaran mulok, 
3). Pemberian buku mengenai manfaat kearifan lokal bagi wilayah setempat, 
4). Penempelan nilai-nilai kearifan lokal di dinding sekolah,
 5). Penggunaan media seperti proyektor dan laptop untuk menampilkan video atau animasi mengenai kearifan lokal, 
6). Melakukan praktek mengenai penerapan nilai kearifan lokal di sekolah seperti memetakan lokasi paling aman yang dapat dijadikan lokasi berlindung saat terjadi bencana.

Nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang dimasyarakat memiliki fungsi bukan sekedar sebagai mitigasi bencana saja, melainkan memiliki peran lebih yaitu dapat berfungsi sebagai penjaga ekosistem dan berpotensi menjadi daya tarik wisata. Pudarnya nilai-nilai kearifan lokal ditengah kehidupan masyarakat mengakibatkan sebagaian besar masyarakat Indonesia mulai kehilangan kemampuan untuk membaca berbagai pertanda alam khususnya gejala alam yang dapat menimbulkan bencana, hilangnya kemampuan tersebut dapat diukur dengan semakin tingginya angka korban jiwa akibat dari bencana alam. Dengan pentingnya peran dari nilai-niali kearifan lokal ditengah kehidupan masyarakat, hal ini tentunya harus terus dilestarikan oleh masyarakat Indonesia karena nilai-nilai tersebut masih relevan untuk diterapkan walaupun keberadaannya telah ada sejak jaman dahulu. Selain itu, dengan kondisi negara Indonesia yang kaya akan potensi bencana sehingga diperlukan sikap kewaspadaan dan kemampuan dalam memprediksi bahaya yang akan terjadi dengan melihat gejala-gejala alam sekitar maka pelestarian nilai-nilai kearifan lokal patut untuk selalu dilestariakan salah satunya melalui upaya pendidikan berkelanjutan (continuing education). (Writer : Anton Cesar Saputra, Pendidikan Geografi 2014)

SEMINAR JURNALISTIK

SEMINAR JURNALISTIK

Seminar jurnalistik merupakan proker baru yang diusung oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi 2016, khususnya pada bidang Media dan Jaringan. Seminar jurnalistik kali mengusung tema “Majalah Sebagai Wujud Implementasi Eksistensi Dunia Jurnalistik”. Kenapa majalah? Tidak koran, komik, atau media lainnya? Tema tersebut diangkat karena kita melihat majalah sebagai media pemberi informasi kurang eksis di kalangan mahasiswa khususnya di UNY ini. Maka dari itu, hmpg ingin mengangkat kembali eksistensi dunia jurnalistik melalui media majalah dalam khalayak umum khususnya pada civitas akademik Universitas Yogyakarta.

Untuk itulah, maka pada hari Senin, 05 Desember 2016, diadakannya Seminar Jurnalistik oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi. Seminar Jurnalistik ini mengundang 2 pembicara, pembicara pertama adalah Bapak Herwanto, S.H., M.M. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Dinas Kominfo dan Prokosi Informatika DIY sebagai pembicara 1 dan Bapak Dedy Herdito, S.E., M.M Staff  Kantor Humas, Promosi, dan Prokol Universitas Negeri Yogyakarta sebagai pembicara 2. Acara dimulai pukul 08.30, dibuka oleh mc dan hiburan Tarian oleh adik-adik dari SLB Negeri 1 Sleman.

Dari kegiatan tersebut himpunan mahasiswa pendidikan geografi mengundang beberapa ormawa se UNY untuk mengirimkan delegasinya, khusunya yaitu pada bidang kominfo sebagai wadah menyebaran informasi. Dengan terlaksananya program kerja tersebut HMPG berharap dari materi-materi yang disampaikan pembicara dapat menumbuhkan minat peserta seminar jurnalistik dalam hal kepenulisan dengan media majalah, yang kemudian dapat memberi kesempatan Mahasiswa/Anggota Ormawa yang datang untuk berkarya dalam hal kepenulisan, baik individu maupun dalam organisasinya masing-masing. Acara selesai pukul setengah 12 siang, ditutup dengan penampilan hiburan dari Band Mahasiswa Pendidikan Geografi, Sezon.









Sharing Dosen dan Mahasiswa (SHARDOMA)

Proker Sharing Dosen dan Mahasiswa atau SHARDOMA merupakan sebuah proker yang dijalankan oleh Bidang Kesvoma HMPG UNY dibawah tanggung jawab Nurdianta. Pada tahun ini SHARDOMA dilaksanakan di Ruang Cut Nyak Dien FIS UNY pada tanggal 2 Desember 2016 pukul 13.00 WIB dengan mengangkat tema “together we share, together we solve” yang berarti “bersama kita berbagi, bersama kita menyelesaikan”.
Inti dari acara SHARDOMA yakni diskusi dua arah antara dosen dan jajaran dekanat dengan mahasiswa Pendidikan Geografi yang masih aktif. Diawal acara, moderator (Latifudin) menjelaskan aturan dalam diskusi SHARDOMA serta tata cara dalam menyampaikan pendapat dalam diskusi tersebut. Setelah itu moderator mempersilahkan bapak-ibu dosen untuk menyampaikan apa yang beliau-beliau keluhkan terkait dengan proses perkuliahan atau attitude mahasiswa terhadap dosen.



Tak mau melewatkan kesempatan ini, Mahasiswa Pendidikan Geografi juga mengungkapkan “uneg-uneg” serta isi hati para mahasiswa yang mengganjal terkait bidang akademik maupun pelayanan pihak kampus demi menunjang proses perkuliahan. Permasalahan mahasiswa yang disampaikan antara lain; Nilai mata kuliah yang belum keluar, Transparasi nilai yang jelas, kontrak kuliah yang kurang tegas dan lain-lain.

Diakhir acara terdapat pembacaan Notulensi yang berisi point-point penting yaitu:
1. Nilai mata kuliah yang belum keluar segara ditindak lanjuti baik dari pihak dosen ataupun mahasiswa
2. Tata krama mahasiswa kepada dosen perlu diperhatikan
3. Koordinasi antar dosen saat pergantian jadwal mengajar lebih diperkuat
4. Perbaikan sarana prasarana seperti kursi, penghilangan karpet dan wifi
5. Penegasan  kontrak kuliah bila dosen telat atau mahasiswa yang telat
6. Transparansi nilai, bila mahasiswa mau melihat nilai dapat langsung menemui dosen

- Copyright © Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -