Gestrat



Pembangunan NYIA: Haruskah Tanahku Kau Rebut?

        Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) merupakan pembangunan yang digalakkan oleh PT Angkasa Pura. Dalam pembangunan ini, pihak Angkasa Pura menargetkan pembangunan selesai pada 19 April 2019, akan tetapi beberapa masyarakat masih berusaha mempertahankan lahan mereka, sehingga mau tidak mau pihak Angkasa Pura melakukan penggusuran terhadap masyarakat sekitar. Tentunya dalam hal ini pembangunan NYIA mempunyai segi positif dan negatifnya, bagimana menurut kalian?


            Senin, 4 Desember 2017 pada jam 17.00-20.00 belangsung General and Strategic Discussion atau yang sering disebut dengan Gestrat. Gestrat kali ini sudah berlangsung lima kali sejak awal periode. Gestrat yang berlangsung di depan ruang Geospasial FIS UNY terasa panas membahas NYIA Kulon Progo. Pembangunan NYIA ini memiliki dampak positif dan negatif bergantung dengan sudut pandang pemerintah, masyarakat, ataupun ekologinya.
Pembangunan NYIA dilakukan setelah adanya pengesahan UU dari pemerintah daerah Yogyakarta. Pembangunan tersebut juga dilakukan secara mendadak disebabkan tidak adanya aturan rencana pembangunan yang ada. Kemudian MA tidak meninjau proyek pembangunan tersebut. Dari segi kapasitas daya tampung pesawat di bandara Adi Sucipto masih relatif kecil. Pesawat bisa delay berjam-jam di Adi Sucipto dan bahkan menimbulkan permasalahan di bandara tersebut. Untuk itu, pemerintah membangun NYIA sebagai solusi untuk mengatasi masalah di bandara Adi Sucipto yang kapasitas daya tampungnya sedikit. Pemerintah dalam membangun NYIA di Kulon Progo ini merupakan salah satu langkah untuk memajukan dan mengembangkan perekonomian masyarakat. Masyarakat akan direlokasi oleh pemerintah dan mendapat ganti rugi atas penggunaan lahan mereka. Saat setelah pembangunan bandara selesai, masyarakat akan meningkat ekonominya dengan mengembangkan sektor pariwisata, kuliner, dll. Pemerintah juga tidak berhenti begitu saja, Pemda Kabupaten Kulonprogo akan menggencarkan 40 obyek wisata yang baru dan beberapa homestay  di kecamatan Samigaluh.
Permasalahan yang timbul dari masyarakat adalah telah beredar isu bahwa tanah yang hendak di gunakan adalah tanah milik pemerintah daerah namun mengatasnamakan tanah masyarakat. Perlu ditanyakan kembali apakah tersebut tanah benar-benar memang milik dari pemerintah daerah atau masyarakat. Dengan penjagaan yang ketat, rumah warga yang terdampak dari proyek pembangunan NYIA dirobohkan. Banyak pihak yang menolak dengan pembangunan bandara di kabupaten Kulon Progo. Terutama petani yang mengandalkan mata pencahariannya untuk bercocok tanam. Petani akan kehilangan lahan garapannya yang menjadi sumber penghasilan hidup mereka. Latar belakang warga yang bukan berpendidikan tinggi, kebanyakan masyarakat hanya sesuai dengan pekerjaan rendahan. Padahal, tanah warga yang terdampak pembangunan bandara ini telah mendapatkan ganti rugi sesuai dengan luas lahannya. Warga bisa menggunakan uang tersebut untuk modal usaha misalnya.
Dilihat dari sudut pandang ekologi, sudah tentu pembangunan berdampak negatif. Walaupun sudah ada AMDAL, pada kenyataannya pembangunan masih membawa dampak negatif bagi lingkungan. Pembangunan NYIA Kulonprogo sendiri berada di daerah yang rawan terhadap tsunami dan gempa bumi. Seharusnya, kelayakan lingkungan dalam pembangunan perlu ditingkatkan kembali untuk membuat penumpang nyaman.
Dalam diskusi, disampaikan oleh Dita (2015) bahwa solusi untuk mengatasi masalah ini adalah:
1.    Pemerintah harus melakukan sosialisasi yang lebih kuat lagi untuk mengubah mainset masyarakat, bahwa pembangunan NYIA Kulonprogo akan membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat.
2.    Membuat lapangan pekerjaan baru bagi warga yang terkena dampak dari pembangunan NYIA Kulonprogo sehingga ia harus kehilangan rumah dan pekerjaannya.
3.    Masyarakat dan pemerintah harus bekerjasama sehingga tidak ada yang dirugikan dalam pembangunan NYIA Kulonprogo.

No comments:

Powered by Blogger.