Sabda Lingkungan: Sumpah Serapah untuk Sampah

Sabda Lingkungan: Sumpah Serapah untuk Sampah

Abstaksi;
     Manusia dalam memanfaatkan barang alam selalu meninggalkan sisa yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan diperlakukan sebagai barang buangan dengan sebutan “sampah”. Di kota-kota besar seperti Yogyakarta sampah sudah menjamur di mana-mana dan hal ini sudah menjadi pemandangan yang biasa. Tumpukan-tumpukan sampah tak diurus dan dibiarkan begitu saja. Sampah yang dibuang di TPS dan berujung pada TPA harusnya menjadi solusi agar sampah tidak menjamur di Yogyakarta, namun hal ini justru menimbulkan masalah baru dimana sampah di TPA tersebut mengeluarkan bau busuk dan mencemari lingkungan sekitar tempat TPA bahkan bertubrukan dengan UUD 1945 Pasal 28 H ayat (1). Oleh sebab itu, sebagai seorang mahasiswa perlu ditanamkan sikap kritis terhadap kebijakan yang ada, termasuk kebijakan tentang lingkungan dan sampah. Mahasiswa hendaknya perlu mengkritisi hendaknya beserta dampaknya terhadap lingkungan.

ISI
  Umur sampah sama dengan umur manusia, dimana ada manusia pasti meninggalkan sampah di lingkungan. pada jaman dahulu sampah Dinamakan Kjokkenmodingger yang muncul karena adanya aktivitas makan dari manusia. Pada saat itu manusia tidak mempermasalahkan sampah karena belum merasakan efeknya secara langsung, namun sekarang manusia mulai sadar mengenai efek dari sampah yang semakin banyak. 
Menurut Fakhry Nur Rahman (Ketua MADAWIRNA UNY) sampah yang semakin banyak diakibatkan oleh masyarakat sekarang yang ingin serba praktis, kepraktisan tersebut selalu memiliki biaya terhadap lingkungan. Seperti contohnya masyarakat ingin minum dengan mudah dan cepat sehingga diproduksi gelas plastik secara besar yang berujung membludaknya sampah.  
   Khusus di Yogyakarta, Suplai sampah yang ada setiap harinya adalah 60 ton, sampah tersebut masuk ke TPA puyungan sehingga lama kelamaan akan menyebabkan penumpukan. Selain itu TPA puyungan sendiri yang luasnya mencapai 32,5 km persegi dinilai sudah tidak layak operasi karena masa berlaku yang harusnya sudah habis pada 2012 lalu.
Menurut Latifah Diah (pengurus organisasi MAHAMERU) mengatakan keadaan lingkungan di TPA puyungan sudah sangat memprihatinkan. Menurutnya lingkungan di sekitar TPA puyungan tidak layak untuk ditinggali, bau yang menyengat dan banyaknya lalat menjadikan lingkungan tersebut tidak sehat. 

Terdapat beberapa cara untuk mengurangi sampah yang ada, yaitu sebagai berikut: 
1. Melalui diri sendiri atau kesadaran pribadi
Jangan membuat aksi yang terlalu muluk untuk turun ke jalan, cukup dari diri sendiri untuk melakukan perubahan, setelah itu disebarkan ke orang lain.
2. Melalui gerakan 3R, Reduce, ReUse, Recyle.
3. Menggunakanbarang yang tidak sekali pakai, dan ramah lingkungan.
4. Perlunya menanamkan paham untuk mengurangi penggunaan sampah, perlunya ditekankan pendidikan moral dan karakter yang lebih dari biasanya.

No comments:

Powered by Blogger.