NOTULENSI DISKUSI KASTRAT#3 - APA KABAR RESTORASI TANAH GAMBUT

 DISKUSI KASTRAT #3 : APA KABAR RESTORASI TANAH GAMBUT?

KASTRAT AND THE SOCIAL PROJECT
KAJIAN DAN AKSI STRATEGIS

  

Kebakaran hutan Kalimantan dan Sumatera, yang akhir-akhir ini diperbincangkan bukan merupakan hal yang baru, karena kejadian serupa berulang kali terjadi dan menyebabkan dampak berupa kerusakan hutan yang massif, kehancuran ekosistem, dan kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat. Seperti yang dungkapkan oleh NASA (National Aeronautics and Space Administration) dimana satelit Aqua milik NASA menangkap parahnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, dimana dapat diidentifikasi terdapat lebih dari 4000 titik panas di Indonesia, yang kebanyakan berada di Kalimantan dan Sumatera. Meski demikan, masih banyak titik api yang tak terdeteksi setelit, karena tertutup kabut asap. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa keadaan kebakaran hutan dan adanya kabut asap ini telah sampai tingkat darurat bahaya.
           Namun apakah upaya yang dilakukan pemerintah sudah efektif dan tepat sasaran? Lalu mengapa kejadian serupa terulang kembali? Pemerintah Indonesia selalu meninjau penanganan karhutla (kebakaran hutan dan lahan), terutama presiden yang sudah memerintahakan untuk penembahan personel sebanyak 5600 orang dalam upaya pemadaman kebakaran hutan tersebut. Namun berbeda dengan yang disampaikan Team Leader Juru Kampanye Greenpeace Indonesia, Arie Rompas yang berpendapat bahwa presiden dan pemerintah yang selalu datang ke lokasi karhutla, kemudian berjanji menindak pelaku dan manjamin tidak akan terjadi kebakaran lagi. Realitanya langkah tersebut hanya terus berulang tanpa tindakan yang nyata, sebab setiap tahun karhutla masih saja terjadi, baik skala kecil maupun besar.
  Nyatanya bukan hanya penambahan personel pemadam kebakaran hutan dan water bombing saja, namun upaya kuratif dan rehabilitatif, seperti dengan adanya Badan Restorasi Gambut (BRG), dimana lembaga ini bertugas dari 2016 hingga 2020 untuk merestorasi dua juta lahan gambut yang rusak akibat karhutla, dan mengedukasi masyarakat agar tidak membakar hutan untuk membuka lahan. Usaha tersebut dinilai sukses beberapa tahun yang lalu, namun saat isu publik berpindah ke lain fokus, seperti pilpres, pergantian menteri, dsb. membuat oknum-oknum tertentu memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan dengan membakar hutan, baik oleh perusahaan tertentu atau oknum-oknum di masyarakat.
Dampaknya seperti yang dapat kita lihat dan rasakan sekarang, kerusakan hutan dan lahan yang juga merupakan habitat bagi flora dan fauna, yang menyebabkan kematian kolektif bagi biota endemik hutan Kalimantan dan Sumetera pada khususnya. Terutama kabut asap yang membuat jarak pandang menjadi terbatas dan meningkatnya korban penderita ISPA akibat asap. Oleh karena itulah perlu adanya pengkajian lebih lanjut tentang upaya yang tepat dan efektif untuk menanggulangi karhutla sehingga meminimalisir dampak yang ada dan tidak akan terulang kembali kejadian yang sama.
           Dalam forum diskusi terdapat gagasan bahwa adanya situasi seperti sekarang dengan ini banyak dimanfaatkan oleh oknum – oknum tertentu dimana mereka ini diduga membakar hutan. Dalam UU sudah tertulis bahwa tidak boleh perluasan lahan itu dengan membakar. Beberapa terakhir ini pihak yang berwajib sudah menagkap sekitar 9 orang yang diduga menjadi tersangka oknum yang membakar hutan. Menurut salah satu bahasan dari diksui tersebut bahwa hasil pendapatan negara banyak dari kelapa sawit. Kemudian ada yang mengaitkan kebakaran hutan seperti sekarang itu seperti direncanakan. Namun banyaknya isu-isu mengenai isu – isu yang ada banyak yang mengkabinghitamkan anatar masyarakat dengan oknum yang ada. Namun dalam logikanya bahwa masyarakat itu tiak mungkin membakar lingkungannya sendiri, karna masyarakat itu cinta dengan lingkungannya.
Selain hal itu juga ada yang berpendapat bahwa lahan di Kalimantan dibakar dan mereka yang membakar itu adalah orang – orang di balik pemerintahan karena pemerintah sendiri yang mendukung adanya pemindahan ibukota di Kalimantan. Dari data yang ada di Indonesia itu sendiri lahan gambut sekitar 60% yang tersebar. Jadi kenapa lahan gambut itu dibakar karena dapat mengurangi biaya. Kenapa banyak oknum yang tua – tua itu bertingkah sedemikian dengan membakar hutan itu karena mereka tidak merasakan dampak yang sleanjutnya dan yang meresakan adalah generasi yang sekarang atau yang akan datang. Jadi dapat disimpulkan dari diskusi ini bahwa pengelolaan dari pemerintah itu sudah gagal karena tidak mampu untuk menyelesaikan suatu masalah di lahan gambut, bahkan mereka yang bermasalah.



No comments:

Powered by Blogger.