BERITA ACARA


Semarak geografi merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta. Acara ini telah terlaksana sebanyak sembilan kali dan tahun ini merupakan penyelenggaraan semarak geogarfi yang ke IX. Acara ini berlangsung pada tanggal 26 – 27 oktober 2019 yang diawali dengan lomba nasional siswa SMA pada hari pertama dan dilanjutkan dengan seminar nasional pada hari kedua. Seminar nasional Semarak Geografi ke IX ini mengundang pembicara yaitu Bapak DR. Surono D.E.A dan ibu DR. DRA. Hanik Humaida M.SC serta di moderatori oleh Yonathan Yolius Anggara.
Acara seminar Semarak Geografi yang ke IX ini mengangkat tema “Pengembangan Manajemen Kebencanaan di Era Revolusi Industri 4.0”. Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu dilanjutkan dengan Tari Wiwitan yang dibawakan oleh BSO (Badan Semi Otonom) HMPG, kemudian sambutan dari ketua panitia dan dekan Fakultas Ilmu Sosial sekaligus pemukulan gong oleh dekan Fakultas Ilmu Sosial, Bapak Suhadi Purwantara M.Si sebagai simbolis bahwa acara telah dibuka secara resmi.
Setelah dilakukan rangkain acara pembukaan, dilanjutkan dengan acara inti yaitu pemberian materi oleh pembicara pertama, Bapak DR. Surono D.E.A. Materi di awali dengan pendahuluan berupa dampak letak geografis Indonesia yang menyebabkan banyak bencana dan beberapa dampak positif seperti tanah yang subur, jalur mineral, pemandangan indah, dan lain sebagainya. Dijelaskan pula bahwa 148,4 juta jiwa penduduk bermukim dan beraktivitas di Kawasan Rawan Bencana (KRB). Indonesia merupakan negara yang paling banyak korban jiwa akibat bencana gunungapi dan setiap musim hujan, di wilayah Indonesia banyak kejadian gerakan tanah yang beresiko menyebabkan korban jiwa. Rata-rata, bencana yang paling banyak memakan korban adalah gempa bumi dan tsunami dengan persentase di Indonesia sebanyak 56.4% dan global sebanyak 58.99%. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dukungan terhadap riset-riset yang mengkaji tentang mitigasi bencana sebab mitigasi bencana belum dipandang sebagai suatu investasi dan biaya riset tidak seimbang dengan biaya tanggap darurat dan kerugian bencana. Dalam upaya mitigasi bencana, diperlukan monitoring dan penelitian tentang lingkungan rawan bencana, kemudian pemetaan kawasan rawan bencana, lalu pengurangan resiko bencana, dan pemantauan dan peringatan dini serta tanggap darurat.
Namun, masyarakat masih jarang memahami mengenai mitigasi bencana dan banyak masyarakat memilih tinggal di KRB sebab KRB merupakan daerah yang subur, banyak air, dan mudah diolah menjadi ladang pertanian. Sehingga, peningkatan kapasitas masyarakat mengenai pemahaman mitigasi bencana sangat perlu dilakukan. Pelatihan mengenai mitigasi bencana, bukan menjadi suatu himbaun saja ke masyarakat, melainkan sudah harus menjadi suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh masyarakat. Dalam upaya mitigasi bencana pula dibutuhkan kerjasama secara Penta Helix dari pemerintah, swasta, media, komunitas, dan akademisi/peneliti. Pemerintah dan peneliti mengkaji dinamika geologis guna mengetahui ancaman bahaya dan memberikan peringatan dini, seluruh komponen penta helix melakukan pelatihan, pendidikan, dan penyebaran informasi mengenai ancaman bahaya, selanjutnya swasta membantu memberikan rekomendasi teknis mitigasi dan penataan ruang serta media memberikan infomasi mengenai ancaman dan mitigasi bencana. Tetapi, masih banyak media di Indonesia yang kurang memberikan informasi yang memberikan dampak positif, bahkan kebanyakan media menjadikan suatu kejadian bencana sebagai “bad news is good news”. Pendirian infrastruktur di kawasan rawan bencana sangat perlu diperhatikan. Tidak membangun di daerah rawan bencana merupakan suatu ketidakmungkinan, sehingga perlu dibangun konstruksi yang lebih tahan bencana. seperti, jika membangun gedung daerah gempa bumi, maka dirikan bangunan yang tahan gempa pertanda bahwa bangunan tersebut tidak akan roboh ketika terjadi gempa, tettapi setidaknya gedung menjadi lebih kuat dan memberi waktu kepada orang-orang yang didalamnya untuk menyelamatkan diri. Abu vulkanik juga perlu untuk diwaspadai terutama bagi pesawat terbang, sebab akibat abu vulkanik dapat menyebabkan kerusakan mesin.
Bu Dr. Dra. Hanik Humaida, M. SC. menjelaskan bahwa di Indonesia merupakan daerah yang memiliki banyak gunung berapi aktif. Beberapa daerah di seluruh wilayah indonesia beberapa kali terjadi gunung meletus seperti letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, Tambora di Pulau Sumba, Agung di Bali, Kelud di Kediri, Krakatau di selat sunda, Sinabung di Sumatera Utara dan beberapa gunung yang aktif lainnya. Selain bencana gunung meletus terdapat bencana lain juga seperti gerakan tanah (creep), gempa bumi akibat tubrukan lempeng tektonik, banjir, tsunami dan tanah longsor. Oleh karena itu, perlu kita ketahui bahwa sadar akan bencana itu sangat penting. Persiapan sejak dini dengan bencana yang akan terjadi perlu dilakukan. Hal tersebut berkaitan erat dengan Mitigasi bencana yang meliputi Pra, Saat, dan Pasca. Tujuan mitigasi adalah mengurangi korban jiwan dan materil pada saat terjadi bencana. Langkah yang harus dilakukan adalah 1) Penelitian dan Penyelidikan; 2) Analisis bahaya; 3) membuat peta-peta rawan bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dll; 4) Sosialisasi dan peringatan dini; 5) Pengetahuan resiko bencana; 6) Mengenali karakter bahayanya; 6) pemantauan bahaya. Mengetahui Badan Penyelidikan dan Pengembangan Kebencana Geologi memberikan edukasi kepada masyarakat untuk sadar terhadap bencana, dimana posisi-posisi yang rentan terhadap bencana geologi, gejala-gejala yang perlu kita ketahui, persiapan apa yang harus kita lakukan, dan upaya pencegahan awal untuk meminimalisir terjadinya kerugian yang besar. BPPTKG selama ini telah melakukan pemantauan terhadap bencana alam yang berpotensi danjuga memberikan informasi kepada masyarakat secepat dan tepat dengan menggonakan SOP dan kemudahan akses untuk mendapatkannya untuk mengurangi kerugian yang terjadi.
Jika kita melihat perspektif bencana perlu kita ketahui darimana sumber bencana itu berasal. Dengan melakukan penelitian dan pemantauan terhadap bencana yang berpotensi terjadi. Sejauh ini becana gempa bumi/bencana geologi dan tsunami belum bisa kita prediksi kapan bencana itu terjadi. Tetapi ada cara-cara yang dapat dilakukan sebagai langkah mitigasi awal yaitu dengan mendeliniasi area yang berpotensi terjadinya bencana dan berpindah ke tempat yang lebih aman. Selain itu, upaya mitigasi tanah longsor dilakukan dengan mengetahui kondisi tanah di daerah yang rawan, melakukan upaya penanaman/ rehabiltasi hutan, dan pemantauan atau monitoring gerakan tanah.
Pemantauan terhadap Gunung Berapi tersebar di seluruh area gunung dengan menggunakan metode visual (langsung), thermal-camera, dan digital camera. Terdapat seismik (mengetahui gerakan magma), deformasi (tumbuh kembangnya tubuh gunung berapi), dan lain-lain. Pemantauan gempa juga dapat menggunakan satelit. Salah satu upaya untuk mitigasi yang sebelumnya kita bahas adalah membuat peta area rawan bencana. Oleh karea itu, kita mempunya beberapa peta rawan bencanaseperti peta rawan bencana gunung berapi, tanah longsor, tsunami dan lai-lain.
Penanganan mitigasi tidak bisa dilakukan sendirian, diperlukan kerjasama dengan perbagai pihak. Pemerintah, masyarakat, lembaga, dan generasi milenial untuk mensukseskan mitigasi bencana dan saling berkoordinasi satu dengan yang lainnya. Lembaga-lembaga yang berperan dalam mitigasi  meliputi BPBD, BMKG, BNPB, dan lain-lain. Sebagai mahasiswa kita harus paham terhadap karakter dan resiko bencana yang terjadi karena di geografi kita belajar banyak dan mengaitkan berbagai hal untuk memecahkan permasalahan dalam permasalahan yang terjadi. Semakin berkembangnya zaman, geografi juga perlahan berkembang dengan adanya Sistem Informasi Geografi. Penerapan peta dengan teknologi digital semakin mempermudah dalam pembuatan peta rawan terhadap bencana. Dengan tututan tersebut maka penting sekali generasi muda untuk membuat inovasi-inovasi baru sebagai langkah mitigasi bencana.
BPPTKG juga menyiapkan aplikasi untuk masyarakat supaya masyarakat dapat mengakses informasi terkait aktifitas perkembangan guunung berapi. Informasi lain yang disebarakan BPPTKG juga meliputi laporan pemantauan, Website, Instagram dan dari sumber lain. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengedukasi masyarakat agar sadar dan paham terhadap Bencana Alam. Beberapa daerah lain yang belum mendapatkan akses internet, cara yang digunakan BPPTKG dengan menginformasikan melalui via telepone maupun sms kepada pihak yang terkait. Walaupun akses informasi dan perkembangan teknologi semakin mudah untuk diakses tetapi juga terdapat kekurangan dan kelebihan metode ini. Keuntungan yang dapat diambil meliputi kemudahan dalam mengakses informasi sedangkan kekurangannya idak semua masyarakat dapat mengakses informasi ini karena gagap teknologi. Oleh karena itu, perlunya kerjasama oleh semua pihak yang terkait seperti generasi milenial, pemerintah, tenaga pendidik, masyarakat dan lembaga-lembaga yang terkait. Tenaga pendidik harus menjadi garda terdepan untuk mengedukasi generasi milenial (mahasiswa) untuk ikut andil dalam mitigasi bencana.
Setelah penyampaian materi dari Bapak Bapak DR. Surono D.E.A. dan Ibu Dr. Dra. Hanik Humaida, M. SC. kegiatan dilanjutkan dengan Final Lomba National Geography Competition, Presentasi Poster dan Fotografi. Acara berlangsung dengan meriah hingga pada penghujung acara dimumkan pemenang dari berbagai sekolah yang mengikutinya.

DAFTAR JUARA SEMARAK GEOGRAFI IX 2019
KATEGORI LOMBA NGC
JUARA 1
RUBENS PHENOLA SETIAWAN
SMA N 3 YOGYAKARTA
JUARA 2
AGUNG TRI YULIANTIO
SMA N 2 KEDIRI
JUARA 3
ZULFA YOGI RAHMAWATI
SMA N 1 BOYOLALI
JUARA HARAPAN 1
MUHAMMAD ALSAMTU TITA SABILA P. S.
SMA KESATUAN BANGSA
JUARA HARAPAN 2
WAHYU HANDAYANI
SMA N 1 BOYOLALI
KATEGORI FOTOGRAFI
JUARA 1
NURUL MEILANI ANGGRAENI
SMA N 1 WANAYASA
JUARA 2
PUTRI DIAH ESTHININGRUM
SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA
JUARA 3
AMARA ANISSA CYNTHIA PRAMESWARI
SMA N 1 KALASAN
KATEGORI POSTER
JUARA 1
HARITS NUR IHSAN
SMA N 1 KALASAN
JUARA 2
NIKEN JATI KUSUMA
SMA N 2 PACITAN
JUARA 3
NASIHA SAKINA
SMA IT AL-USWAH SURABAYA
KATEGORI LKTI
JUARA 1
MUHAMMAD RHAMA KUNCORO
MAN KOTA MAGELANG

ANGGER ADETYA YUSUF PUTU SUHENDY


RAHMA NUR FAUQI

JUARA 2
NAELA IZZATIN
SMA N 1 WELAHAN

AISYAH MAYANGSARI


INTAN WULAN R

JUARA 3
OKTAVIANI DWI WULANSARI
SMA N 1 GROGOL

ANGGI SISKA MADONA


MAWAR SETYA NINGRUM

JUARA HARAPAN 1
BENING KIRANI
SMA IT AL IRSYAD PURWOKERTO

KELANA PUTRA FIRLY


ZHAFRAN DAFFA AKBAR

JUARA HARAPAN 2
LATHIFAH RAMADHANI
SMA N 1 JOGONALAN

NABILA PUTRI HARTIA


NAURA RAHMA PRAMUDHITA


             

No comments:

Powered by Blogger.