[DISKUSI KASTRAT] Serial #5 : "ETIKA TERHADAP LINGKUNGAN SEBAGAI SEORANG MANUSIA"


SERIAL DISKUSI #5 : ETIKA TERHADAP LINGKUNGAN SEBAGAI  SEORANG MANUSIA
KASRAT AND THE SOCIAL PROJECT
KAJIAN DAN AKSI STRATEGIS
HIMPUNAN MAHASISWA GEOGRAFI 2019

  Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia dinilai sudah mengkhawatirkan. Terutama permasalahan sampah baik di darat, sungai, pantai, dan laut sehingga menciptakan pencemaran dan bencana. fakta kerusakan lingkungan di Indonesia. Dari 133 juta hektare hutan di Indonesia telah hilang. “Penurunan kualitas lingkungan ini, meningkatkan peristiwa bencana alam serta terancamnya kelestarian flora dan fauna. Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dan berpendapat, termasuk dalam tatanan kehidupannya yang berkaitan dengan alam. Timbul suatu kata yang disebut dengan etika. Etika merupakan suatu refleksi kritis tentang norma ataupun nilai, terutama kaitannya dengan lingkungan, yang dapat mengatur cara pandang manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, maupun perilaku manusia itu sendiri yang akan bersumber dari cara pandang hasil refleksi tersebut. 


 Etika lingkungan adalah perbuatan apa yang dinilai baik untuk lingkungan dan apa yang tidak tidak baik bagi lingkungan. Etika lingkungan bersumber pada pandangan seseorang tetang lingkungan. Antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Etika lingkungan tidak bisa hanya dumiliki sebagaimana seorang akademisi tetapi sebagai praktisi dalam kehidupan nyata. Sebagai seorang akademisis kita memahami teori mengenai etika lingkungan berupa, teori mengenai antropotrisme,biosentrisme, teosentrisme

 Teori Etika Lingkungan
1. Antroposentrisme
 Antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam. Alam hanya dilihat sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia. Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.
2. Biosentrisme dan Ekosentrisme
 Pada biosentrisme, konsep etika dibatasi pada komunitas yang hidup (biosentrism), seperti tumbuhan dan hewan. Sedang pada ekosentrisme, pemakaian etika diperluas untuk mencakup komunitas ekosistem seluruhnya (ekosentrism).
3. Teosentrisme
 Teosentrisme merupakan teori etika lingkungan yang lebih memperhatikan lingkungan secara keseluruhan, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Pada teosentrism, konsep etika dibatasi oleh agama (teosentrism) dalam mengatur hubungan manusia dengan lingkungan.

Prinsip Etika di Lingkungan Hidup
1. Sikap Hormat Terhadap Alam (Respect for Nature)
 Alam mempunyai hak untuk dihormati, tidak saja karena kehidupan manusia bergantung pada alam tetapi juga karena manusia adalah bagian dari alam. Manusia tidak diperbolehkan merusak, menghancurkan, dan sejenisnya bagi alam beserta seluruh isinya tanpa alasan yang dapat dibenarkan secara moral.
2. Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility for Nature)
 Prinsip tanggung jawab disini bukan saja secara individu tetapi juga secara berkelompok atau kolektif. Setiap orang dituntut dan terpanggil untuk bertanggung jawab memelihara alam semesta ini sebagai milik bersama dengan cara memiliki yang tinggi, seakan merupakan milik pribadinya.
3. Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)
 Solidaritas kosmis mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan dan menyelamatkan semua kehidupan di alam. Alam dan semua kehidupan di dalamnya mempunyai nilai yang sama dengan kehidupan manusia. Solidaritas kosmis juga mencegah manusia untuk tidak merusak dan mencermati alam dan seluruh kehidupan di dalamnya. Solidaritas kosmis berfungsi untuk mengontrol perilaku manusia dalam batas-batas keseimbangan kosmis, serta mendorong manusia untuk mengambil kebijakan yang pro-lingkungan atau tidak setuju setiap tindakan yang merusak alam.
4. Prinsip Kasih Sayang danKepedulian Terhadap Alam (Caring for Nature)
 Prinsip kasih sayang dan kepedulian merupakan prinsip moral satu arah, artinya tanpa mengharapkan untuk balasan serta tidak didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi tetapi semata-mata untuk kepentingan alam. Semakin mencintai dan peduli terhadap alam manusia semakin berkembang menjadi manusia yang matang, sebagai pribadi dengan identitas yang kuat. Alam tidak hanya memberikan penghidupan dalam pengertian fisik saja, melainkan juga dalam pengertian mental dan spiritual.
5. Prinsip Tidak Merugikan (no harm)
 Prinsip tidak merugikan alam berupa tindakan minimal untuk tidak perlu melakukan tindakan yang merugikan atau mengancam eksistensi mahkluk hidup lain di alam semesta. Manusia tidak dibenarkan melakukan tindakan yang merugikan sesama manusia. Pada masyarakat tradisional yang menjujung tinggi adat dan kepercayaan, kewajiban minimal ini biasanya dipertahankan dan dihayati melalui beberapa bentuk tabu-tabu yang apabila dilanggar maka, akan terjadi hal-hal yang buruk di kalangan masyarakat misalnya, wabah penyakit atau bencana alam.
                 
 Kasus pelanggaran tersebut banyak terdengar di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Sebagai contoh kasus pembakaran yang terjadi di Taman Nasional Teso Nilo (TNTN), Riau. Kegiatan pembakaran ini merupakan kegiatan pembukaan lahan di kawasan TNTN untuk perkebunan kelapa sawit.
 Contoh satwa liar yang terancam akibat habitatnya yang mulai hilang adalah Gajah Sumatera. Salah satu talk show dalam acara 9th IndoGreen Forestry and Environment Expo yang saya ikuti bulan April 2017 ini dikatakan bahwa populasi Gajah Sumatera yang hidup diluar penangkaran, khususnya di wilayah Tangkahan (Sumatera Utara) dan Gunung Leuser, sekitar 1000 ekor dan salah satu penyebab keterancaman kelestarian satwa ini adalah pembunuhan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang merasa dirugikan oleh kehadirannya. Gajah kerap ditemukan tewas di wilayah perkebunan kelapa sawit. Dua contoh ini memberikan gambaran pada kita bahwa perlindungan terhadap alam dan satwa belum dilaksanakan oleh seluruh elemen yang terhubung dengannya, terutama oleh masyarakat sekitar hutan hingga pemerintah.
  Indonesia ketika berbicara mengenai lingkungan agak lebih sulit dikarenakan Indonesia masih mengejar masalah ekonomi dan pembangunan karena ketika kita membicarakan tentang lingkungan namun masih berorientarsi pada ekonomi. Pengelolaan yang dilakukan pemerintah berupa pemberlakuan AMDAL, IPAL, atau sejenisnya tidak berjalan sebamana mestinya karena berbagai faktor dari oknum yang tidak memikirkan dampak yang sebenarnya akan terjadi jika pembangunan terus dilakukan tanpa memperhatikan lingkungan.
Dalam forum diskusi terdapat gagasan bahwa sebagai seorang akademisi kita dapat melakukan sebuah prinsip dasar untuk tidak melakukan penghkianatan bagi dasar ilmu yang kita pahami. Selain itu kita dapat melakukan kebiasaan kecil yang memiliki dampak besar bagi lingkungan untuk menerapkan etika lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak menggunakan plastik sekali pakai, tidak menebang pohon sembarangan atau sejenisnya. Karena pada dasarnya sebagai generasi penerus adalah penting untuk terus melakukan kebiasaan menjaga lingkungan untuk terus berada pada keadaan sebaik mungkin secara berkelanjutan.

“Etika Lingkungan adalah tentang bagaimana kita memanusiakan lingkungan sebagai seorang insan yang berakal secara konsisten”.

No comments: